Posted by: tatty elmir | January 13, 2012

Mengapa Membeku ?

Pernah mendengar ungkapan “Pour cold water on something ?

Saya mendengar istilah ini dari seorang Profesor  sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika. Saat itu (Sekitar akhir tahun 90an) saya berkeinginan untuk mengadakan fundraising bagi berbagai kegiatan kemanusiaan di Indonesia dengan roadshow kebudayaan di berbagai perguruan tinggi ‘ngetop’  di negeri pakde Sam itu.

Awalnya saya diliputi optimis yang luar biasa, karena begitu banyak orang yang mengajukan diri mendukung. Semua ini karena saya disupport oleh sebuah lembaga yang menempatkan Sang Profesor.  Lalu entah kenapa, salah seorang yang saya andalkan itu tiba-tiba mendadak mendapat proyek besar yang membuatnya tidak dapat memenuhi komitmen untuk membantu mewujudkan ide saya.

Di akhir meeting kami, professor A ini  mencoba berpanjang lebar mencoba mendapat pembenaran dari saya dengan menjelaskan mengapa akhirnya dia meninggalkan  rencana besar kami  dan “Terpaksa” memilih proyek barunya.  Penjelasan itu diakhiri dengan mengucapkan kata-kata ini pada saya “ Sorry Tatty, I poured cold water on your head”.

Dan celakalah, setelah itu semangat saya membeku  :(

*****

Seorang gadis menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ibunya, dan memohon ampun karena telah melukai hati Ibunya. Gara-gara ia berubah pikiran. Kini ia sudah tak lagi ingin bersegera menikah dengan laki-laki yang selama ini kerap hadir dalam mimpinya,  seperti  selama ini yang ia katakan dan rengekkan saat meminta dukungan ayah bundanya. Lupa sudah gadis itu dengan semua nilai-nilai yang ingin ia perjuangkan atas sebuah rencana besar nan mulia yang ia teriakkan selama ini.

“Who’s Poured cold water on something ?”, tanya sang Ibu heran, karena tak mengira begitu cepat segala sesuatu berubah. Adakah suatu peristiwa ataukah seseorang yang telah merubah suatu pandangan yang selama ini diyakini dan diperjuangkan ? Apakah ada suatu peristiwa besar yang menyebabkan orang dapat berbalik 180 derajat dalam waktu singkat ?

Hati gadis itu telah membeku.

 

*****

Pour cold water on something  hanyalah sebuah ungkapan. Tidaklah benar-benar ada seseorang telah mengguyurkan air kepada sesuatu. Air dingin di sini berarti telah “Mematahkan semangat/ antusiasme seseorang”.

Terlepas  betapa gencar atau tidaknya orang yang mematahkan semangat kita, tapi mestinya jika kita hendak melakukan sesuatu yang kita yakini kebenarannya, tidaklah akan tergantung kepada ada atau tidaknya orang yang mendukung dan memengaruhi kita.

Mestinya kita belajar dari konsistensi perjuangan dan  ketegasan hati Victor Hugo:

“Kalau mereka seribu..

Aku akan menjadi seorang di antara mereka

Kalau mereka seratus

Aku akan menjadi seorang dari mereka

Kalau mereka sepuluh

Aku akan menjadi seorang dari mereka

Kalau mereka seorang saja

Maka akulah yang seorang itu “.

*****

Untuk segala sesuatu kebajikan yang diperjuangkan, mestinya kita melakukan dengan penuh kesadaran berlandaskan sebuah KEYAKINAN. Karena itu kita tidak akan mudah berubah, tidak akan mudah patah.

“Orang biasa berbuat sesuatu karena kepentingan. Sedang pejuang sejati melakukan setiap perbuatan berdasarkan KEYAKINAN  dan NILAI-NILAI”

Karenanya, betapapun badai maut menghadang, maka langkah surut sang pejuang itu berpantang !

Posted by: tatty elmir | January 9, 2012

Andai Kita Bisa Mengintip Tabir Jodoh Itu


 

Wajah X sahabat saya yang biasa cerah ceria itu mendadak kusut ketika suatu siang yang benderang ia menyampaikan berita bahwa anak gadisnya dilamar. Yang membuat saya bingung adalah perubahan rona di wajahnya yang menandakan ada masalah rumit yang menimpanya sempurna.  Apalagi setelah tahu yang melamar adalah Y sahabat kami, sahabat mereka sendiri yang anaknya nota bene adalah sahabat baik si anak sejak kecil.

“Anak dilamar kok sedih, mestinya bahagia dong. Jodoh itu kan rizki”, ucap saya mencoba menentamkan. Karena sebenarnya sudah bisa menebak masalah di balik itu.

*****

 

Keluarga X dan Y sudah lama bersahabat, dan anak-anak mereka otomatis sudah seperti saudara sendiri.  Y berulang-ulang mengumumkan pada dunia,  bahwa ia sudah jatuh hati pada anak gadis X semenjak si gadis masih kecil. “Sungguh, saya belum pernah bertemu gadis cilik sesantun dia, dan begitu sayang penuh perhatian sama saya. Sudah pasti bakal jadi  mantu idaman kelak. Dan saya yakin hanya dia yang bisa membuat anak saya bahagia dan tentram”, begitu ucapan Y berulang dari tahun ke tahun, semenjak sang gadis mulai tumbuh remaja hingga masuk perguruan tinggi.

Dulu, kalau sang putri  X datang berkunjung ke rumah keluarga Y, untuk keperluan belajar bareng atau sekedar silaturahim, maka dipastikan  Y akan pontang panting menyiapkan aneka masakan kesukaan si gadis.

Dan kini, saban anak bujangnya yang kuliah di luar negeri itu mudik, maka kunjungan ke rumah keluarga X berikut program bersenang-senang bareng pastilah dalam list utama keluarga mereka.

Pada awalnya sayalah yang diminta keluarga Y untuk menanyakan, apakah keluarga X akan berkenan jika mereka berniat akan menjodohkan anak-anak mereka.

Sebagai langkah awal tentu yang saya dekati adalah si gadis, karena kunci utama adalah dia.

“Nak, menurutmu apakah putra keluarga Y itu pemuda baik ?”. Tanya saya pada si gadis pada suatu hari.

“Waah..bukan hanya sekedar baik tante, baik buanget malah. Kami saling menyayangi, saling membela dan sudah seperti saudara sendiri. Tante tau kan waktu kecil dulu kalau dia ngambek selalu aku yang menghibur. Terus mana otaknya gak ada banding dengan anak-anak sebaya dia. Makanya namanya sangat harum di sana”, jawab anak gadis X sembari menyebutkan nama sebuah kampus bergengsi di manca negara sana. Wajah gadis itu berseri-seri menyebutkan beragam keunggulan sang pemuda.

“Nah..bisa mengerti ga nak, kalau punya anak sehebat itu, orang tuanya tentu juga ingin punya menantu yang setara dan dikenal baik dan bisa dipercaya”, saya mulai pasang jurus gerilya.

“Pastilah tante. Emang si Tante dan Oom Y sudah pingin punya mantu ya ?”, sambut si gadis dengan mata berbinar.

“Apa perlu saya bantu carikan tante?”, tambahnya lebih antusias.

“Serius kamu mau bantuin?”, balas saya penuh harap.

“Ya serius lah Tan. Emang mereka maunya kayak yang gimana sih ?”,

“Ga perlu dicari lagi nak, orangnya ga jauh-jauh, ada di sini. Ya kamu itu”, jawab saya hati-hati sembari mengamati setiap perubahan gurat di muka si gadis yang perlahan mulai menampakkan wajah tertekan.

“Ya Allah Tante…kenapa harus saya?, saya kan sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri”, perlahan-lahan awan kelabu di wajahnya mulai berbuah rinai. Berbulan-bulan saya dan sahabat Mamanya yang lain mencoba membujuknya.

“Kemana lagi hari ‘gini’  akan dicari pemuda hebat paripurna semacam putra keluarga Y”.

“Tante benar, jarang ada pemuda sholeh  sehebat dia jaman ini. Otak cemerlang, berbagai kecakapan kehidupan dia punya. Kami sekeluarga sayang pada dia. Tapi tante…untuk menikah tidak hanya cukup itu. Saya sama sekali tak punya chemistry sama dia. Dan saya juga yakin dia juga punya perasaan sama”, isak si gadis yang membuat saya kalut.

“Tidak..tante sudah pernah tanya dia, katanya dia sudah suka sama kamu semenjak kalian kecil dulu”.

“Suka sebagai saudara itu tante…percayalah…kami tak ada ‘rasa’ satu sama lain”. Dan percakapan seperti itu teramat sering terjadi antara kami. Saya selalu berharap si gadis akan berubah pikiran, karena Allah bisa membolak-balik hati manusia seberapa ‘keukeuh’pun dia.

Beberapa bulan setelah itu saya mendengar hubungan si gadis dengan X Ibunya menjadi sedikit ‘retak’ gara-gara upaya perjodohan itu. Kawan saya X dengan halus pernah mengungkapkan bahwa anak gadisnya tidak  kunjung terbuka hatinya, karena kurangnya upaya dari anak laki-laki keluarga Y. Sementara serangan gencar hanya dilakukan Ayah Bundanya saja.

“Mana mungkin gadis saya bersedia  menikah dengan laki-laki yang dia tidak yakin mencintainya. Dan sayangnya si ‘Bujang”  juga mati gaya, tidak cukup nyali menunjukkan ketangguhannya, sangat…sangat tidak memperlihatkan kegigihannya. Padahal di saat yang sama …. begitu banyak pemuda lain yang berjuang keras menunjukkan kesungguhannya untuk meraih hati gadisku itu”, terang sahabat saya itu.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, upaya perjodohan itu berakhir kandas, dan menorehkan luka, meski sejak awal X mewanti-wanti keluarga Y bahwa masalah jodoh adalah rahasia Allah. Karena itu ia berharap, apakah sukses atau tidaknya upaya perjodahan itu tidak akan melukai siapapun. “Jika mereka kelak ternyata tidak berjodoh, semoga tidak ada yang merasa tertolak, tidak ada yang merasa sedih apalagi merasa direndahkan”, pinta X.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, akhirnya Sang gadispun menikah dengan  laki-laki yang ia ridhoi menjadi imamnya. Tidak mudah bagi keluarga X untuk mengobati kekecewaan keluarga Y dan rasa bersalah mereka sendiri yang sebetulnya tidak perlu itu.

Kedua belah pihak mencoba saling mengobati hati, terutama pihak keluarga X kepada keluarga Y. Namun jelas itu bukan sesuatu yang mudah,  walau keluarga X berupaya keras terus menerus mencarikan jodoh yang baik pula untuk anak Y.

Suatu ketika Y pernah mengungkapkan  isi hatinya kepada saya, bahwa jika ia tahu anak mereka tidak berjodoh, maka ia tentu tidak akan menginisiasi  sesuatu yang konyol dan mempermalukan diri sendiri itu.

Dan saya berulang-ulang meyakinkan mereka, bahwa dalam hal ini tidak ada yang perlu merasa dipermalukan dan dihinakan, karena memang urusan manusia hanya sampai pada memaksimalkan upaya, sementara hasilnya adalah hak preogative  DIA Yang Maha Berkehendak semata.

Tak ada manusia yang bisa mengintip jodoh yang telah ditetapkan Allah pada seseorang memang.

 

Bagi saya, cukuplah kejadian ini menjadi pembelajaran  berharga, untuk  tidak akan pernah menggaransi siapapun dalam upaya perjodohan. Dan kian menebalkan keyakinan, bahwa tidak ada manusia yang bisa mengintip maupun merekayasa upaya perjodohan, secanggih dan seberkuasa apapun dia terhadap anak-anak mereka. Utang manusia hanya sampai pada ikhtiar yang maksimal.

Karena itu, bagi para pemuda  yang ingin menikah dengan gadis pujaannya, maka saya menyarankan :

  1. Tidak cukup upaya itu dilakukan hanya dengan  kedekatan hubungan sesama orang tua, meski sebagai langkah awal yang baik, jurus ini bisa diandalkan.
  2. Harus mengupayakan sendiri meraih hati sang gadis, menumbuhkan kepercayaan di hatinya, bahwa ia akan terlindungi dunia akhirat, karena urusan perkawinan adalah urusan ‘kepercayaan’ juga.
  3. Karena dalam sebuah  perkawinan menurut agama apa dan budaya manapun, wanita adalah pihak yang lemah, yang ‘menyerahkan’ diri dan masa depan beserta seluruh kehidupannya, maka tentu gadis manapun akan menjadikan pilihan MENIKAH, sebagai pertimbangan yang maha berat dan butuh kesadaran penuh berbalut keyakinan sempurna yang tidak bisa dibeli apalagi dipaksakan.
  4. Masalah jodoh dan cinta adalah masalah hati, maka tak ada manusia yang berkuasa atas itu. Hanya kepadaNYA, sang penguasa hati itu tempat kita bisa meminta. Jadi mintalah kepada Dia yang Maha punya.
  5. Terakhir, jangan pernah menyerah sebelum ditolak 21 kali (rumus suami saya hehehe). Karena cinta itu harus diperjuangkan. Dan pejuang tangguh takkan mati dalam sekali tikam bukan ?
  6. Segala sesuatu yang diperjuangkan dengan tidak mudah, maka akan didapatkan capaian yang maha indah. Maka teruslah berjuang :)

Selamat meneruskan perjuangan, selamat  meningkatkan daya tahan. Karena modal pejuang tangguh adalah daya tahan, daya tahan, dan daya tahan.

Salam optimis

Posted by: tatty elmir | November 10, 2011

Galau Pasti Berlalu

GALAU, menjadi kata-kata terpopuler beberapa bulan belakangan. Di Koran, televisi, dan berbagai sosial media, bahkan mimbar khotbah para pemuka agama, ruang kelas di sekolah-sekolah hingga kamar tidur berbagai ragam status sosial rumah-tangga kini disaput kabut “Galau”.

Sebuah radio swasta di Jakarta menjadikan bulan November sebagai bulan GA to the LAU alias GALAU. Semua lagu dan topik bahasan merujuk ke dalam rangkaian 5 huruf sakti tersebut, dengan tag line “Anda galau kami risau”, hahahaa bisa saja :)

*****

*Seorang penyair yang amat peka meratapi berita tentang 17 dari 33 Gubernur menjadi tersangka, 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka,dan ketika 27 dari 50 anggota komisi Anggaran DPR ditahan. Siapa yang tak galau ?

*Orang tua melepas was-was anak-anaknya ketika pergi sekolah dan kuliah, di tengah kian meruyaknya kasus narkoba yang kini membelenggu 3,6 juta pecandu di Indonesia, dan setiap harinya jatuh korban tewas lebih dari 40 orang. Yang mengenaskan 32% dari total 3,2 juta pengguna narkoba dan obat terlarang secara nasional adalah pelajar dan mahasiswa. Siapa yang tak galau ?

*Seorang aktivis mahasiswa tersenyum kecut ketika disalami dan diberi ucapan selamat kawan-kawannya saat wisuda. Yang terbayang di pelupuk matanya adalah dirinya yang termasuk dalam antrian panjang angkatan kerja yang tahun ini naik 2,9 juta menjadi 119,4 juta orang dari angka 116,5 juta di tahun lalu. Artinya kini tanah air kita dikerubuti 8,12 juta pengangguran terbuka yang menganga, dan mereka terpaksa menjadi beban orang tua yang sudah renta. Siapa yang tak galau ?

*Ribuan anak muda cemerlang yang bertengger di karir hebat, dan siap menikah, kini menghadapi dilema. Akankah terus mengejar karir semata atau memberanikan diri masuk gerbang kehidupan rumah tangga yang penuh hal-hal yang tak terduga? Sementara angka perceraian meningkat 400% setiap tahunnya ? Siapa yang tak galau ?

*Para pelaku ekonomi di Amerika dan Eropa kini meresahkan adanya gerakan occupy Wall Street. Di Yunani mereka protes terhadap pemerintahnya, tapi di Amerika mereka protes terhadap Wall Street, yg notabene adalah otoritas keuangan bayangan yang mengatur perokonomian AS sesungguhnya selain THE FED si bank sentral AS. Ini hanya salah satu potret di tengah terjadinya pertarungan sengit antara ideologi liberal-kapitalis dan non liberal kapitalis, yang mengombang ambingkan ekonomi dunia. Banyak orang yang menjadi kaya mendadak, sebaliknya tak sedikit pula yang kere mendadak. Siapa yang tak galau ?

*Di berbagai pelosok dunia banyak orang berpatah hati meratapi nasib yang tak selalu berpihak pada yang benar, yang hebat, yang jujur, yang pintar, dan rendah hati. Setiap saat nasib diperjungkir balikkan. Yang dimuliakan hari ini, beberapa saat lagi bisa menjadi yang dihinakan. Begitu juga sebaliknya. Siapa yang tak galau ?

*****

Di tengah hiruk pikuk senandung galau yang memukau, tiga hari lalu umat Islam seluruh dunia merayakan Iedul Adha dengan merefleksi perjalanan hidup beserta kearifan keluarga nabi Ibrahim AS :

- Nabi Ibrahim yang menemukan Tauhid atas kegalauan mencarinya Tuhan dari begitu banyak tuhan-tuhan ‘rapuh’yang disembah manusia sekeliling dia.
- Nabi Ibrahim yang terpaksa hijrah meninggalkan Mesir menuju Palestine dengan membawa semua ternak dan harta niaganya. Dalam keadaan darurat, siapa yang tak galau ?
- Sarah dan Ibrahim yang belum juga memperoleh keturunan ketika Sarah berusia 90 tahun dan suaminya Nabi Ibrahim yang berusia 100 tahun.
- Sarah perempuan terpandang itu harus merelakan suaminya Ibrahim menikahi Hajar budak yang mereka bawa dalam pengungsian ke Palestine.
- Hajar yang sabar, bersama bayi yang tak berdaya ditinggalkan suami di tengah gurun pasir yang tak berpenghuni dan tak mungkin ada penghidupan.
- Ketika Nabi Ibrahim merelakan anak satu-satunya disembelih sebagai korban atas perintah Tuhan.
- Ketika Ismail kecil dengan tegar mendorong ayahnya merelakan dirinya jadi kurban, karena keyakinan.

     Siapa yang bisa membantah bahwa semua liku perjalanan panjang keluarga nabi Ibrahim adalah meniti bilah-bilah galau dari masa ke masa ? Dan siapa pula yang tidak takjub melihat kepeloporan, kepemimpinan, keteguhan hati, dan kekuatan iman nabi Ibrahim, yang senantiasa konsisten untuk ‘berlari dan mendaki’ mengejar capaian dan kemuliaan keyakinan dengan penuh keringat, darah dan air mata ?

     Tidakkah terlalu cengeng jika ada mahasiswa yang bersedih hanya karena orang tua sengaja memperlambat mengirim uang untuk menguji ketahanan diri anaknya?. Adakah lapar yang diderita manusia kota yang hidup dengan berlimpah kemudahan itu akan sama dengan lapar yang diderita Hajar yang sedang menyusui anaknya sebatang kara, yang terpaksa hidup di tengah padang pasir yang sunyi kerontang dan tak berpenghidupan itu ?

     Tidakkah terlalu ‘lebay’ jika ada pemuda yang patah hati ditinggal kawin gadis pujaannya, setiap hari mengabarkan kedukacitaannya pada dunia lewat status-status di berbagai sosial media, dan melupakan segala tanggung jawab yang diamanahkan ?

     Tidakkah ada rasa malu, ketika pemimpin yang digaji dengan pajak rakyat dan hidup serba berlimpahan, masih mengeluh kurangnya fasilitas dan minta kenaikan gaji yang tak sesuai dengan kinerja dan prestasi yang dipunya ?

Iedul Adha, ternyata bukan hanya melepas rasa bersalah terhadap tanggung jawab sosial yang harus kita tunaikan dengan menyembelih hewan kurban dari se’uprit’ harta kita.

Iedul Adha ternyata juga bukan cuma untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima di tanah Makkah yang mungkin juga hanya sekedar kepentingan me’rebranding’ status guna keelokkan citra kita di mata manusia.
Napak tilas dalam ritual ibadah haji, semoga dapat menebar kearifan, dari berbagai kisah ketangguhan dan ketegaran keluarga Nabi Ibrahim yang luar biasa. Semoga itu semua bisa menghalau kabut galau yang kini menyapu hati kita.

Mudah-mudahan kita semua menyadari dan memercayai, bahwa fajar selalu hadir setelah malam yang tergelap dilalui.
Galau pasti berlalu lah yau ! :)

Mala SariSubhanallah.., catatan yg sungguh memotivasi bu… Jd malu diri rasanya, t’kadang masalah kecil sj sdah membuat sy jd lebay, lupa bersyukur…

Yesterday at 08:48 · Unlike · 1
  • Ghulam Tafrihihahahaha.. setuju banget, galau pasti berlalu bun.. :D

    Yesterday at 08:52 · Unlike · 1
  • Aveliansyah Bengkulu yg like pasti sedang galau semua (termasuk saya) :P
    terimakasih utk notesnya bun :)

    Yesterday at 09:15 · Unlike · 1
  • Agung Budi SantosoSounds great, like this bunda..

    Yesterday at 09:22 · Unlike · 1
  • Sulaiman Sujono bunda, sudi kiranya membaca sedikit tulisan yg saya buat ini http://sulaimansujono.wordpress.com/2011/11/08/kenyataan/nyambung soalnya..hehhehehe

    sulaimansujono.wordpress.com

    Dalam sedikit pengetahuan yang saya miliki ada suatu hal yang saya imani bahwa apapun yang dialami seorang manusia dalam hidupnya adalah secara keseluruhan berada dalam kekuasaan Alloh. Tidak sekej…
    Yesterday at 09:26 · Unlike · 1 ·
  • Sulaiman Sujononambah lagi ah, doa buat yg lagi galau :D , “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba- Mu, anak dari hamba-Mu, ubun-ubunku (nasib-ku) ada di tangan-Mu, telah lalu hukum-Mu atasku, adil ketetapan-Mu atasku, aku mohon kepada-Mu dengan perantara semua nama milik-Mu yang Engkau namakan sendiri, atau Engkau turunkan dalam kitab- Mu, atau Engkau ajarkan seseorang dari hamba-Mu, atau Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib disisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an sebagai penawar hatiku, cahaya dalam dadaku, penghapus dukaku dan pengusir keluh kesahku“.(HR Ahmad: 1/392,dishahihkan oleh Al-Albani)

    Yesterday at 09:27 · Unlike · 4
  • Fachrian Adiada yg bilang “what doesn’t kill me makes me stronger”. mudah2an kegalauannya bisa digunain buat jadi ajang latihan pembentukan karakter ketimbang jd bikin memble :D

    Yesterday at 09:42 · Unlike · 1
  • Dyas Chasbi makasih, bunda…
    hehe jadi makin semangat buat moveON, nih

    22 hours ago · Unlike · 1
  • Bara Brelianyang terpenting, ketika galau, manusia sadar akan kegalauannya… nice notes bunda..

    20 hours ago · Unlike · 1
  • ijin nge share :)

    20 hours ago · Unlike · 1
  • Galau pasti berlalu seperti halnya badai pasti berlalu. Kita yakin Alloh pasti menolong hambaNya yg memohon pertolongan…

    17 hours ago · Like
  • Erwina Maya AstariYaa Muqollibal Qulub, tsabit qolbi ‘ala diinika. (Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu) :D smogaa kita smua dijauhkan dari kegalauan :D say no to the ga-lau , bun.. kalo kata sm*sh mah :D hhihii

    16 hours ago · Like
  • Naimah LutfiLebih baik galau mikirin apa amal kita cukup saat kembali kepada-Nya. Lebih baik galau lihat masih banyak orang yang tidak bisa makan sehari tiga kali, lebih baik galau liat anak kecil nonton TV sampai lupa makan, belajar, sholat. Lebih baik galau lihat banyak anak cerdas putus sekolah karena masalah ekonomi, daripada galau mikirin diri sendiri :)

    15 hours ago · Like · 1
  • Ryan Alfian NoorKewajiban kita untuk membangun bangsa lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Galau itu manusiawi, galau itu wajar, tp jgn sampai membuat kita tidak produktif. mari kita belajar, bekerja, dan berkarya. #semogatidaktermakanomongansendiri

    15 hours ago · Like · 2
  • Dwi SatrioGALAU : God Always Listen And Understand..

    14 hours ago · Like
  • galau merupakan bagian dari kekhawatiran yg terbelengu dari sebuah akar masalah yg melanda seseorang.sikap pasif,inspektif yg berlebihan yg mengendurkan semangat bertahan dlm hidup dan dlm berimaginasi untuk inovasi dlm berkreasi. solusinya adalah:membuka diri,instropeksi diri,dan mengkondisikan diri.jdkan semua masalah yurisprodensi akumulasi tangga menuju kebahagiaan hati yg perfect.

    14 hours ago · Like
  • Azmy Basyarahil‎”Don’t turn your head. Keep looking at the bandaged wound. That’s where the light enters you. And don’t believe for a moment that you’re healing yourself” -Jalaludin RumiKarena tidak ada upaya yang benar-benar menyentuh kenyataan, kecuali penguasaan diri utk mampu mengenali keadaan jiwa kita sendiri setiap saatnya.. Sangatlah penting, krn jiwa memiliki kemampuan untuk mengafirmasi keberadaan materi yg (di)tiada(kan) dalam interaksi simbolik (beragam makhluk dan ketetapan) di alam dunia. Dengan kemampuan mengenali jiwa, tidak ada lagi ruang bagi kita utk melemahkan diri sendiri dgn mengatasnamakan ke-galau-an. Manusia hanyalah bisa bergerak menyentuh harapan, tanpa adanya sedikitpun kemungkinan tersentuhnya sebuah kepastian. Lalu, mengapa harus terlalu lama berdiam (apalagi melemahkan sendiri jiwa kita) hanya karena kegagalan menyentuh satu dari sekian banyaknya jalan menuju kepastian? Sementara kita tidak pernah tahu, jalan manakah yg sesungguhnya menghadirkan kemenangan..Karena boleh jadi tertundanya pencapaian mimpi-mimpi kita, terhambatnya penggapaian harapan-harapan kita, terhentinya langkah-langkah kita, adalah karena kita seringkali tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah swt berikan pada kita hingga detik ini. Maka jika semua usaha telah kita lakukan dengan benar, yakinlah tangan-tangan Tuhan yg akan melapangkan jalan dan menunjukkan arah jalan terbaik untuk kita. Tidak ada ketetapan yg lebih baik dari ketetapan Tuhan untuk hambaNya…

    Makasih Bunda Tatty Elmiratas kiriman note-nya, mengajak kita utk terus meningkatkan kualitas kepahaman & fakultas kesadaran jiwa :)

    14 hours ago · Like
  • Vina Triana Sudarto Bunda Tatty Elmirbener, rasanya terlalu lemah jika hanya digalaukan oleh seseorang, dan meninggalkan kewajiban untuk mnjadikan bangsa lebih baik, memenuhi kwajiban pada orang tua, dan membuat orang2 di sekeliling ini tersenyum. Kegalauan yang dirasa belakangan ini, ternyata belum apa-apa dibandingkan dengan kegalauan orang-orang terdahulu. Makasih ya Bunda. Tapi, masih boleh galau kan ya tapi kewajiban gak ditinggalkan? #seolah menikmati kegalauan# karena Bun, kalo dalam galau, kadang kok malah lebih khusyuk ya utk ibadah. hehehe.. galau yang kata kak @naimah lutfi .

    14 hours ago · Like · 1
  • Tika Novalianizin share ya bunda :)

    12 hours ago · Like
  • makjlebjleb yas.. :D

    11 hours ago · Like
  • Mast Tio dan sesuatu yang baik akan terus menjadi baik..
    terimakasih Bund atas Notesnya yang mendewasakan kita semua.
    tapi ttep Bund, Indonesia Harus GALAU!
    sudah dibaca kahn Bund….http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150361719622144
    bahwa keGALAUan itu ada jua yang Positif..
    Hidup GALAU! Ayo Indonesia Bisa! ^^

    Bismillah.., Guys dan Gels…Upu Kabar rek iki?? Semoga dalam keadaan baik dan sehat selalu. Walaupun banyak bencana di negeri kita tercinta ini, ingatlah bahwa Indonesia punya pemuda seperti kalian yang bisa membawa Indonesia keluar dari keterpurukan. …
    11 hours ago · Unlike · 1 ·
  • Mierza Darsya Putraso we have to sustaining and minimising losses to our self,friends, family when we are hit by unexpected “galau” , then improve decisions and seizing opportinities :)

    14 minutes ago · Like
  • Write a comment…
Posted by: tatty elmir | October 31, 2011

Renungan Sumpah Pemuda

UNTUK ANANDA BESTARIKU

(Menghimpun Kunang-kunang Part 11 )

Ini tentang pekan indah  kita yang baru berlalu…..

Anak-anak muda cemerlang  itu,

Dengan ransel di punggung, tas di bahu,

Semangat berpacu, rasa ingin tahu menggebu,

Bergegas datang kemari, dari seluruh penjuru negeri, menantang matahari

 

Ini tentang dikau , ananda bestari

Wajah mu begitu  berseri-seri

Tekad bulat menggali potensi

Dan semua yang terbaik bagi diri

Padamu tersandar harapan

‘Tuk menjadi tumpuan nurani penjaga pertiwi.

 

Tangan mengepal, kaki menghentak

Bersorak dalam asa yang terkuak

Tawa canda suka cita itu, selimuti wajah lelahmu.

Dan malam ini anakku…dengarlah nyanyian Ibu

Lagu sederhana sajak penyair yang  entah dari mana

Tentang nasehat orang tua pada anak-anaknya yang kini beranjak dewasa…

 

 “ Tegarlah  tegar tunas Bangsa,

   Kuatkan iman, kukuh dalam barisan,

   Hadirkan  prestasi perisai diri

   Bulatkan tekad kejar cita-cinta sejati,

   Bangsa yang besar dalam kuat genggam mu,

   Bangsa yang punya harga diri ada di nyali mu”.

 

Ananda bestari ku,

Jika ada yang hendak kau teriakkan kini,

Maka itu adalah menyampaikan kebenaran, meski akan melukai dirimu sendiri.

 

Jika ada yang hendak kau lawan, maka lawanlah kezaliman.

Kezaliman diri, yang menyerah pada penjajahan  atas rasa malas dan tidak peduli.

 

Ananda bestari ku,

Tahukah kau puncak yang harus didaki ?

Dialah kemandirian, kedaulatan dan kepribadian.

Mandiri di ranah ekonomi, berdaulat di kancah politik dan berkepribadian di sawah kebudayaan bumi pertiwi.

 

Ananda bestari ku,

Jadilah cerdik pandai yang tak hanya jago berandai-andai,

Jangan sekali-kali pandaimu itu untuk membodohi rakyat yang tak pandai menjilat

Jadilah pemimpin yang dimuliakan, yang tak cuma bijak dalam dalih yang berputar-putar,

Jangan sekali-kali menghinakan saudara dan Bangsamu sendiri.

 

Jadilah  saudagar tegar,  penguasa ekonomi negeri

Tapi jangan sekali-kali kau perjual belikan keyakinan dan kebenaran yang hakiki.

 

Jangan pernah menyerah, ananda bestari ku

Karena menyerah hanya milik  kaum lemah, dan yang kalah.

Jika pun kita harus berserah,  maka berserahlah hanya kepada Allah.

 

Wiladatika, 28 Oktober 2011

Bertemu dan Saling Menginspirasi Dengan Pemuda Berprestasi dan Berkarya Di Berbagai Bidang.

Bersama petani muda yang direkrut dari anak-anak jalanan oleh Karang Widya

Mahasiswa Jadi Guru emang bisa ? (Ternyata malah jadi guru idola)

Malam renungan

Tak ingin berpisah

Yang orang Sumatera dan Papua dalam satu jiwa “Indonesia Raya”

Effort luar biasa di dunia nyata.

Bangga Berkarya

Bagi Orang kreatif, sampah justru akan jadi penyubur

Awal Medan Juang

Mendiskusikan temuan di luar jendela rumah kita

Saling berbagi, saling menerima

Regenerasi :)

Utusan Uncen, mengajarkan Goyang Yosim Pancar. Salam Sehat ala Papua

Satu Asa

Satu Indonesia !

Like · · Unfollow post · Share · Delete

  • 4 shares
    • Prof-Pondok Munzir ArsyuddinTrimakasih atas pesan2.x bunda..:-)

      30 October at 14:08 · Like
    • Ecky Agassi‎:’)

      30 October at 14:35 · Like
    • Muhammad Sigit Susantojadikan ini sebagai pemacu gerak kita kawan,, negara ini butuh pemuda dan karyanya bukan hanya katanya.. bismillah,,, doakan kami bunda… FIM 11 (FIMaga)… :)

      30 October at 14:41 · Like · 3
    • Muhammad Sigit Susanto‎Jong Celebes FIM 11

      30 October at 14:42 · Like
    • Avina Nadhila Widarsaamin, semoga doa yang Bunda panjatkan tercapai semua :)

      30 October at 15:13 · Like
    • Enra Shonhab LazuaAmin….

      30 October at 15:19 · Like
    • Enra Shonhab LazuaAmin….

      30 October at 15:19 · Like
    • Maulana Rizki Aditamaluar biasa bunda.. semoga kami semakin progresif dalam bergerak :) )) aminnn ^^

      30 October at 16:24 · Like · 1
    • Hanif AzharGreat article, bund :)

      30 October at 17:56 · Like
    • Bella Moulinaterharu bunda :’)

      30 October at 18:14 · Like
    • Maya P. RumpeTuhan punya rencana atas tiap2 kita. Biarlah rencana itu berbuah positif & kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain. Keyakinan akan keniscayaan melahirkan kekuatan kunangkunang penerang malam.Ayah & Bunda, terimakasih untuk kisah yg telah kita mulai ini. Semoga kunangkunangmu ini tetap setia hingga garis akhir.
      Amen.

      30 October at 18:19 · Like · 2
    • Bella Moulinakak maya udh blik kah?

      30 October at 18:27 · Like
    • Tisa Khairunnisasubhanallah bunda mantab ^__^ mau share juga ah :)

      30 October at 18:41 · Like
    • Maya P. RumpeBella: Udah td pagi..

      30 October at 18:43 · Like
    • Mar’atul Azizah Jadi Riza Bundaa.. *haru*
      Tiap desain-Nya adlh terindah bagi kita.. Detil dan tidak hny sekedar apa ada’y.. Pun dgn tiap prjuangan kita.. Tiada kata lelah, tiada kata jera.. Semangat unt hidup lebih bermakna! ;-) doa dan cinta ananda unt Bunda & keluarga besar FIM, semoga Allah mengikat hati2 kita, menjaga dan mengencangkan ikatatan’y, Amiin..

      30 October at 19:11 · Like · 3
    • Tatty ElmirUntuk seluruh ananda bestariku. Terimakasih kembali. Mohon maaf atas segala khilaf dan lemah kami. Smg Tuhan Yang Maha Kuasa masih mempertemukan kita kembali dalam aktivitas dan kebersamaan yang penuh kebermanfaatan. Peluuk.

      30 October at 19:42 · Like · 3
    • Ichigo Wannabefighter‎*peluuuk bunda jugaaaa… >.<

      30 October at 19:50 · Like
    • Nahla Jovial Nisaaq mau di tag dooong. :)

      30 October at 21:59 · Like
    • Kamil Muhammad Riyan‎=)

      30 October at 23:35 · Like
    • Intan Chandra Septidhia mau ditag juga dong bunda tatty..haruu…panggil Bestari :)

      31 October at 01:36 · Like
    • Maya P. Rumpe‎@Intan: Ssstt… Ga usah segitu terharunya dong. Ntar Bebes kegeeran. Hihihi.. :P

      31 October at 05:20 · Like
    • Priyo A. SancoyoHiks hiks, baru di forum indonesia muda saya nangis di dpan bgtu banyak orang, persaudaraan, cinta kasih serta rasa memiliki antar individu saya rasakan betul. satu tekad bersama membangun negeri yang berdaulat

      31 October at 05:34 · Like · 4
    • Afdilla Gheivaryterima kasih nasehatnya bunda. saya dan rekan-rekan lainnya, akan berusaha menjadi kunang-kunang yang terus memberikan cahayanya, menerangi dan menebar keindahan untuk sekelilingnya

      31 October at 05:57 · Like · 3
    • Kamil Muhammad RiyanAmin

      31 October at 06:18 · Like
    • Mikhael Noah Syauqimeskipun menjadi kunang kunang, godaannya besar ya ternyata =,=’

      31 October at 06:26 · Like
    • Nahla Jovial Nisasyauqi mah bukan kunang-kunang tp kupu-kupu. wahaha. semangaaat debater’s

      31 October at 13:23 · Like
    • Gia Heti ErgianaMikhael Noah Syauqisalut..

      31 October at 13:34 · Like
    • Nahla Jovial Nisa jadi pengen tahu arti bestari itu apa ya kak Bestari Nurfitriana?

      31 October at 13:41 · Like · 3
    • Maya P. Rumpe

      ‎#Coba2 googling td dapetnya ini:Nama : Bestari
      Asal-Muasal : Indonesia
      Jenis Kelamin : Laki-Laki & Perempuan
      See more

      Tuesday at 00:13 · Like · 1
    • Mega Tala Harimukthiterharu…Aku untuk bangsaku! :’)

      Tuesday at 07:03 · Like
    • Ibrahim Imaduddin Islam selamat bergabung dalam keluarga besar kunang-kunang kawan2 FIM 11.
      setelah pelatihan, itulah saat dimana kita harus bisa membuktikan pada dunia, bahwa kita ada dan kita bisa menjadi bagian dari penggerak perubahan Indonesia.Ayo.. Indonesia Bisa #JargonSEAGames

      Wednesday at 17:30 · Like · 2
    • Septian Cahyadi Ibnu SyarifMari bersama memberi cahaya tanpa pamrih.. karena cahaya itu akan ada jika kita saling memberi tak harap kembali, tancapkan tiang kebenaran wahai pejuang di Jalan Sunyi, jiwamu letih tetapi tidak semangatmu yang terus berkobar..

      Wednesday at 18:56 · Like
    • Tama Pratamaorang-orang pilihan itu adalah kita.

      Yesterday at 00:14 · Like
Posted by: tatty elmir | October 14, 2011

Forever Amish

Yuk Mencari Kearifan  Sampai Ke Negeri Amish

Ketika berada di Jerman kemaren, saya dan kawan saya sempat berdiskusi tentang gaya hidup. Entah kenapa ujung-ujungnya kami saling berbagi pengalaman tentang petualangan ke negeri-negeri yang tidak biasa. Dan bisa ditebak, saya akan dengan bangga menceritakan pengalaman berkunjung ke Amish. Yang membuat saya sakit perut memburai tawa, Stefan Bremerich nama kawan saya seorang  Land Lord tersebut tiba-tiba bertanya begini dengan entengnya “Kenapa kamu tertarik dengan Amish? Bukankah di puncak gunung dan di desa-desa di Indonesia  masyarakatnya juga hidup tanpa teknologi?”. Aduuuh Stefan maksudmu bukan untuk menghina negeriku kan? :(

*****

Sejak kecil saya selalu mendekap erat di dalam dada,  impian untuk berkelana hingga ke ujung dunia yang tak tampak dalam pandangan mata mata, tatkala sejauh-jauh mata menatap lautan atau angkasa yang membentang luas. Pernah tergila-gila dengan Tibet, gara-gara Ibu dan kakek saya penyuka Sufistik dan menurunkan kekaguman tentang Ibu Adawiyah. Mereka dulu suka mendongeng tentang negeri di awan, yang indah, tenang dan damai. Lalu ketika kian sering membaca negeri-negeri yang ‘aneh’ setelah menginjak remaja, maka saya punya referensi baru, yakni negeri Amish.

Jika dalam motivasi pendidikan terkenal  ungkapan  ” Tolabul ilmi walaukana Minal bishin ” Carilah ilmu sampai ke negeri Cina ”, maka sayapun  punya tekad  ” Carilah ilmu sampai ke negeri Amish ”. Saya tak peduli dengan kontroversi ungkapan tersebut yang diyakini sebagian orang sebagai hadist, atau sekedar kata-kata mutiara saja, dan sebagian lagi  menyebut hadist dengan kualitas ” Dhaif Syadid ” ( Sangat lemah ). Bahkan ada  yang beranggapan bahwa itu ” Maudhu ” atau palsu. Atau  ada pula ahli dengan menyertakan argumen dan bukti-bukti bahwa ungkapan tersebut dinyatakan hadist oleh perawi fasiq…. Ah… saya  memang tak pernah berminat terombang ambing dengan berbagai pendapat yang membingungkan itu. Karena itu saya pribadi lebih aman menyebut ungkapan itu sebagai kata-kata bijak untuk melecut orang agar bergerak…berjalan…mencari ilmu hingga ke ujung dunia sekalipun.

Mimpi saya  bukan ke negeri Cina, tapi ke Amish. Ya… ingin membuktikan kebenaran buku, cerita dan film-film yang telah menyihir kesadaran selama ini, dan menarik-narik langkah untuk datang.  Benarkah di pusat hiruk pikuk modernitas ada tatanan kesederhanaan yang mengabaikan kemanjaan modernitas itu sendiri ? Bagaimana mungkin kita bisa belajar zuhud di pusat pusaran  kenikmatan duniawi yang memabukkan itu ?

Setelah demikian banyak jalan berliku yang dilalui, kawat berduri yang dilangkahi, sekian lama, sekian upaya, akhirnya datang juga hari yang dinanti-nanti. Ketika saya tengah mendapat  undangan untuk belajar Radio journalism  ke Philadelphia waktu muda dulu, maka impian ke Amish tinggal selangkah. Ahay senangnya :)

***

Suatu pagi nan cerah, saya numpak sepur Amtrak ke Lancaster yang masih dalam kawasan negara bagian Pennsylvania. Sesampai di lancaster saya dan seorang kawan yang menemani mencari Eavesdropper si rumah ajaib, simbol mawar merah itu. Konon dari Eavesdropper dulu orang bisa memantau suara yang berlalu lalang di east King Street. Sayang..karena niatan saya ke Amish sudah sangat meledak, maka segala  keunikan rumah yang didirikan tahun 1100 yang berasitektur khas itu, luput dari perhatian. Baru setelah pulang ke tanah air, saya merasa menyesal :(

Lancaster yang berasal dari bahasa Inggris Lancashire, pernah menjadi Ibukota Amerika, meski hanya sehari,  ketika kongres kontinental pemerintah kolonial pada bulan September 1777 ditarik dari Philadelphia untuk melarikan diri dari pasukan Inggris, sebelum pindah ke York Pennsylvania.

Malam-malam sebelum keberangkatan ke Lancaster, di tempat saya tinggal, penginapan Divine Tracy (*Baca postingan Divine Tracy di blog ini) beragam pertanyaan dan keingin tahuan kian meledak di dalam dada.  ”Mengapa orang Amish mengharamkan listrik ? Ada rahasia apa dengan keteguhan mereka ? Bagaimana mereka bisa survive dengan pola hidup ala kadar ? Bagaimana pemerintah merespon pola hidup mereka yang terkadang bertentangan dengan kebijakan pemerintah ?  dan segudang rasa ingin tahu yang lain. Read More…

Posted by: tatty elmir | October 13, 2011

Media Literacy

CATATAN PERJALANAN

MELONGOK DAPUR JFF – INSTITUT FUR MEDIENPADAGOGIK DI MUNICH

Dear sahabat,

Anda prihatin dengan tayangan media yang kian hari kian tidak ramah anak dan keluarga ?

Jangan gusar, jangan pernah berputus asa. Percayalah, anda tidak sendirian. Saya juga  merasakan, bahkan pernah diteror dan mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan sebagai konsekuensi  dalam memperjuangkan hal  itu. Tapi InsyaAllah itu semua tidak menyurutkan langkah, malahan semakin terpacu, ditambah lagi dengan asupan energi dari berbagai pihak yang kian hari kian menguat :)

Bukan hanya di negeri ini. Keprihatinan itu rupanya  kini  terus bergulir dan tentunya akan menjadi suatu kekuatan besar jika kita bersama dapat  bergandeng tangan, bahu membahu untuk memperjuangkan suatu nilai-nilai yang kita yakini. Tak dapat dipungkiri, dunia memang tengah dihadapi persoalan yang sama.

Menjelang akhir bulan lalu, saya beroleh kesempatan memenuhi undangan  untuk mengikuti workshop Media Literacy di kota tenang Munich.

(* Terimakasih atas kemurah hatian dan perhatian KPI serta Depkominfo yang telah memudahkan semua langkah)

***

Direktur JFF Ulrike Wagner dan aktivis JFF Elke Stolzenburg menjelaskan tentang JFF

BELAJAR DARI 60 TAHUN PERJUANGAN JFF- INSTITUT FUR MEDIENPADAGOGIK DI MUNICH.

 

JFF–Adalah  Institut untuk  riset media  dan pendidikan media.

Pada awalnya  JFF sebagai mana kepanjangannya Jugend Und Film, didirikan pada tanggal 21 Desember 1949 di Munich, hanya berbentuk untuk sebuah proyek yang dirancang melakukan kajian di bidang pemuda dan film.

Namun beberapa tahun kemudian mereka menyatukan langkah dengan sebuah lembaga penelitian yang punya mimpi sama. Lembaga tersebut adalah “Wissenschaftliches Institut für Jugendfilmfragen”.

 

Pada tahun 1976 keduanya  bergabung untuk menjadi Institute untuk Pemuda, Film dan Televisi (“Institut Jugend Film Fernsehen”), JFF merupakan  lembaga tertua di Jerman, menggabungkan media pendidikan dan media penelitian.. Meskipun masih dikenal dengan nama JFF judul resmi baru adalah JFF – Institut untuk media penelitian dan media pendidikan alias Institut für Medienpädagogik in Forschung und Praxis

 

JFF ini didukung oleh asosiasi nirlaba JFF – Jugend Film Fernsehen Ev.  Para anggotanya bekerja di semua bidang  riset media, dan pendidikan media. Mereka merancang pendidikan aktif dan memproduksi bahan ajar untuk sekolah dan di kampus-kampus berbagai perguruan tinggi. Mereka tidak hanya dari Jerman, tetapi beroperasi di seluruh Eropa.

Ketua Dewannya adalah Profesor Dr Bernd Schorb, Direktur dari Institute Demmler Kathrin dan Dr Ulrike Wagner. Dalam operasional, Kathrin Demmler – bekerja sama dengan Gunther Anfang – dari departemen pendidikan media praktis dan Dr Ulrike Wagner yang bertanggung jawab memasinisi  departemen penelitian.

Wilayah kerja lembaga ini merata  seluruh Jerman. Kehadiran mereka ditopang dan  dibiayai oleh negara, terutama oleh subsidi  dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bavarian. Proyek juga didanai pada tingkat lokal oleh lembaga-lembaga publik seperti media milik pemerintah/negara. (“Landesmedienanstalten”).

Lembaga di atas  ini bertanggung jawab untuk pengaturan program TV komersial dan penyiaran atau “KPI”nya Jerman.

Pekerjaan Institute tidaknya  berfokus pada TV, video film, dan radio, tetapi juga pada teknologi komputer dan world wide web. Perkembangan baru dibahas dan diteliti dalam konsekuensi nyata mereka dan menjadi sesuatu yang krusial  bagi pertumbuhan remaja.

Salah satu tujuan utama dari JFF adalah  menghubungkan hasil penelitian ilmiah untuk pendidikan media praktis.

Penelitian mereka merupakan acuan dasar untuk pengembangan model pendidikan dan proyek-proyek yang kemudian dimasukkan ke dalam praktek – dalam bekerja dengan anak-anak,  baik di dalam maupun di luar sekolah. Mereka juga  bahu membahu dengan remaja, orang dewasa dan para orang tua.

Di sisi lain kerja praktis media, memiliki dampak yang sama pentingnya pada penelitian ilmiah.

Salah satu daerah yang paling penting dari penelitian JFF, adalah menjawab pertanyaan masyarakat, perihal  tayangan tak layak, seperti pornografi  dan  kekerasan di media berikut bagaimana dampaknya pada anak dan remaja.

Yang paling penting, lembaga ini  adalah institusi yang paling peduli di Jerman, atas segala sesuatu yang berurusan dengan dampak buruk media, terutama perlindungan akan hak anak yang kini kian tereksploitasi oleh kepentingan pebisnis  media semata.

Karena itu JFF  secara rutin memberikan rekomendasi untuk berbagai  pemangku kebijakan publik.

Di bidang media praktis, JFF memanggul  tanggung jawab utama dalam mendukung produksi media aktif  di kalangan anak-anak dan remaja. Pelatihan berlangsung  terus menerus untuk guru dan pekerja muda guna melayani tujuan yang sama, meningkatkan kesadaran akan pentingnya  media literacy dan media edukasi.

Karena itu JFF lewat pertemuan ini juga menawarkan kesempatan pendidikan  kepada relawan peduli media sehat di Indonesia  yang selama ini giat melakukan pekerjaan yang sama di Indonesia, seperti MTP, Forum Indonesia Muda (FIM), dan ASA Indonesia.

Sebagaimana mestinya, perjuangan menegakkan hak-hak masyarakat terhadap konsumsi media, bermuara pada kegiatan membuat konten media sehat itu sendiri. Nah JFF juga demikian, mereka menawarkan berbagai publikasi pada semua topik media. Publikasi ini dimaksudkan juga untuk merangsang dan memback up  segala    kegiatan inovatif pendidikan media, atau yang kerennya biasa kita sebut sebagai counter culture.

 

. Dalam pratek kesehariannya, perjuangan  JFF  antara lain diwujudkan dalam pelayanan :

• Workshop, seminar, presentasi dan lokakarya

• Penelitian dan keahlian Media

• Konsultasi perihal Media

• Memberikan informasi  seputa riset media dan media literacy dalam praktek keseharian.

• Merekomendasikan Film-film yang layak tonton.

• Produksi bahan audiovisual

***

 

Dear sahabat,

Tertarik menjadi relawan media edukasi ?  yuk kita mulai dari rumah masing-masing.

Langkah awal adalah Kritisi media :

  • Ajak seluruh anggota keluarga untuk menyeleksi sendiri media mana yang layak dikonsumsi.
  • Biasakan dengan cerdas menangkap  dan mendiskusikan dalam keluarga tentang  PESAN TERSAMAR, maupun NYATA setiap tayangan. Jangan begitu saja percaya pada  judul jualan media baik yang bertitel berita maupun pendidikan yang menginspirasi. Sama halnya  dengan iklan rokok, mereka senantiasa mengabarkan bahaya rokok, namun sesungguhnya yang dijual adalah rokok itu sendiri.
  • Kemudian lanjutkan dengan memberi pendapat pada visi misi media yang menjajalkan berbagai info kepada kita. Apakah tayangan itu hanya sekedar corong kepentingan suatu kelompok semata ? Cari tahu kepentingan politik dan bisnis kelompok mereka. Lalu sikapi produk mereka.
  • Tuliskan uneg-uneg dan pelanggaran yang mereka lakukan di berbagai media(termasuk sosial media), dan laporkan kepada lembaga yang bertanggung jawab melindungi masyarakat dari tayangan media. ( di Indonesia dikenal dengan nama Komisi Penyiaran Indonesia)
  • Mari menjadikan keluarga dan diri kita manusia yang merdeka dari penjajahan nilai-nilai yang merusak

Semoga kepedulian kita menjadi langkah awal untuk menghadirkan media yang ramah dan sehat untuk anak dan keluarga di seluruh penjuru dunia.

)

Nadine Trine Apfelsine Kloos & Niels Bruggen petinggi Flimmo, salah satu divisi JFF yang menangani urusan tontonan anak..

Kami mencoba menyatukan derap langkah dalam satu keprihatinan yang sama.

Günther Anfang , berbagi ide dan rekam kreativitas

JFF: Supporting active media production of teenagers

Untuk menopang aksi counter culture itu, mereka mencari dana dengan menyediakan jasa penyewaan peralatan multi media. Dengan Christ sang komandan.

***

Karena udara adalah milik masyarakat banyak, maka tak ada yang boleh merusak, menggunakannya dengan semena-mena.

“Katakan tidak” pada asap rokok dan polusi udara lainnya.

Tidak juga untuk frekuensi gelombang radio,televisi dan internet yang merambat di udara, ruang angkasa itu yang kini sudah tak lagi ramah keluarga.

Masyarakat harus kritis ! Karena merekalah sesungguhnya yang berkuasa atas diri mereka sendiri. Jadilah masyarakat yang berkehendak.Kita yang berhak  menentukan sendiri, bacaan dan tontonan apa yang sehat dan layak untuk dikonsumsi keluarga kita.

Mari menilai sendiri, apakah tontonan yang dijejalkan ke rumah kita itu layak dan sehat untuk dikonsumsi ? Bagaimana dampaknya terhadap perkembangan si buah hati ?

Yuk saling mengingatkan betapa pentingnya untuk belajar Media Literacy dan media pedagogik.

(Pesan dan semangat dahsyat workshop Media Literacy di JFF Munich yang sudah 60 tahun berjuang mencerdaskan umat dan menyelamatkan generasi muda dari dampak buruk media )

 

    • Yosi MolinaTFS tante… Oleh2 yg berharga nih.

      13 October at 17:34 · Like
    • Tatty ElmirTerimakasih Mol.Semoga tetap semangat meniti jalan juang yang diyakini itu :)

      13 October at 19:43 · Like
    • Yosi MolinaAamiin..

      13 October at 19:52 · Like
    • Imam Choirul RoziqinSangat mencerahkan bunda .. Ini salah satu hasil diskusi kita waktu dimobil kan ya bareng om elmir.. sebentar lagi kita realisasikan bunda mengenai literasi media nya, kami semua siap bantu bunda.. :)

      14 October at 11:30 · Like
    • Mierza Darsya Putrabun… ada lg kan workshopnya? Asa Muda doong… giliran ginian aja baru ngaku2 deh… hihihi

      15 October at 14:06 · Like
    • Tatty ElmirYuk besok kita bicarakan di Gudang Peluru :)

      15 October at 20:31 · Like
    • Agung Baskoro Full

      wah..makasi Bunda oleh2nya. kalau ada yang lain, masih ditungguin koq:) mungkin kelupaan..hihi..

      sepertinya Hariqo Wibawa Satria mesti juga membaca, beliau di KPI Bunda, mungkin banyak action plan yang bisa beliau kondisikan.

      mungkin bisa juga di materi FIM 11 ada sesi khusus Bun, sekalian dengan bahaya pornografinya, biar anak2 FIMnya bisa memasifkan ke daerah2.

      agung izin share note bunda ke Agung Baskoro II, semoga rekan-rekan di sana di account tersebut juga bisa membaca tulisan Bunda

      16 October at 03:08 · Unlike · 1 person
Posted by: tatty elmir | October 3, 2011

Love at The First sight VS: Nuansa Bening


 

LOVE AT THE FIRST SIGHT  VS : NUANSA BENING.

(Tatty Elmir)

Pekan lalu  dalam perjalanan darat yang penuh semangat dan menggairahkan sepanjang Frankfurt- Spijkenisse, tak sengaja saya dan kawan-kawan mendengarkan lagu-lagu yang bertemakan cinta pada pandangan pertama dan sadar tak sadar mengikutinya bersenandung.

Dalam beberapa lagu garapan musisi lintas benua dan lintas jaman itu, saya dan dua orang kawan, serta suaminya yang sedang menyetir,  menemukan kata-kata yang menarik untuk digunjingkan sepanjang siang hingga tengah malam. “Love at the first sight”, benarkah itu ada ?

Lalu kami berempat saling mengumbar beragam teori cinta, saling mengomentari,  dan berlanjut dengan berbagai kisah mengenai pengalaman pertama bertemu jodoh. Jelas ini suatu topik seru yang bisa menghalau kantuk sembari bertlalala trililiii riang.

Tapi kami berempat sempat ngakak edan-edanan, ketika mendengar lagu “Ohya”,  yang didaur ulang seorang artis Indonesia ternama, begini liriknya:

Sumpah mati padamu ku jatuh hati
Sumpah mati padamu ku jatuh cinta
Namun sayang ku tak sempat
Berkenalan denganmu dari hati ke hati
Lalu bicara cinta berdua

Sampai kini daku masih terus harapkan
Agar suatu saat ku berjumpa lagi
Semoga saja daku sempat berkenalan denganmu
Dari hati ke hati lalu bicara cinta berdua

Ingin ku mengejar seribu bayangmu
Namun apa daya tangan tak sampai
Memang benar apa kata pepatah
Kalau jodoh tak lari kemana duhai kekasihku

“Lho, belum berkenalan, namanya saja belum tahu, apalagi kepribadiannya dan segala macam tetek bengek tentang dia, kok bisa-bisanya jatuh cinta?”, komentar sahabat saya yang Indonesia aseli dengan sederet kepantasan ‘rasa’ ala timurnya.

“Hahahaa belum kenalpun sudah diklaim sebagai kekasih hati”, celutuk yang satunya.

“Mungkin itulah yang dinamakan cinta gila, buta dan rasa-grusu”, balas saya sok-sok’an

“Bukan cinta, suka sekedar nafsu tepatnya”,

“Ini lagu benar-benar mencerminkan gaya hidup masa kini, serba instan”,  protes kawan pertama.

“Lagu cermin budaya di masanya”, ungkap kawan yang lain, yang dibesarkan dalam kultur Belanda meski berdarah Jerman-Tionghoa, seraya tersenyum-senyum penuh arti.

Serasa déjà vu, pagi ini ketika pulang mengantarkan anak sekolah, sembari menyetir suami saya mendendangkan lagu “Nuansa Bening” yang ditulis musisi Keenan Nasution di tahun 1970an.  Mendadak sontak saya lalu teringat peristiwa hangat yang baru saja terjadi pekan lampau.

Kami juga kembali mendiskusikan lirik lagu yang baru didengar dan kami ikut senandungkan. Kali ini topiknya sama, meski dalam formasi lirik lagu pemantik diskusi, berbeda  dengan nilai-nilai yang berseberangan dengan lagu yang saya dengar pekan lalu itu.

Oh..tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja…

Waktu perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu

Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan

Reff :
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku

Oh, tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja…

Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi

Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi

Back to Reff

Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercinta

“Nah ini baru yang dinamakan cinta sejati….perjalanan panjang sebuah rasa yang agung mulia, setelah  melalui suatu proses panjang, bukan sesuatu yang instan. Tak ada cinta pada pandangan pertama bukan?”, ujar saya sok tahu sembari membayangkan suasana hati Keenan Nasution ketika menciptakan lagu dan lirik Nuansa Bening yang dilagukan si abang sembari bermain drum yang dikasetkan tahun 1978 itu.  Apakah ini berkaitan dengan kisah cinta penuh liku si abang yang masih bujangan ketika ketemu mba Ida yang saat itu sudah menjanda dan beranak pula ? Apakah ini mewakili kisah cinta puritan, nan suci, nan klasik sepasang manusia yang sholeh dan sholehah ?

Pertemuan pertama tak punya kesan apa-apa, lalu perkenalan berlanjut menjadi kawan, terus menjadi lebih dekat dan kian dekat, kemudian meningkat lagi dari kawan biasa menjadi sahabat. Nah baru setelah itu muncul ‘rasa istimewa’  karena kehebatan buah pikir, cara pandang, visi misi dan gaya hidup, keelokan intelektual, emosional  serta kekuatan spiritual dan semua kelebihan potensi diri biasanya baru terungkap setelah kita mengenal seseorang cukup lama dan dekat bukan ?.

“Jangan gitu say….cinta itu rahasia sebuah hati. Panah asmara itu tak mengenal jalur yang baku, ia bisa datang tanpa diundang dalam waktu dan tempat yang sangat rahasia dan tak terduga, jangan membuat kelas, batas dan stereotyping begitu”, protes suami.

“Idiih, ketertarikan pada pandangan pertama itu sesuatu yang materialistik, physically banget kali, itu tak terbantahkan”

“Tapi faktanya pula, mata condong kepada yang elok rupawan, yang mudah terlihat, sesuai kata pepatah lama, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta …..dari mata turun ke hati hahahahaaa”, suami tercinta tak mau kalah.

“Pastinya itu bukan sesuatu yang agung, tapi sesuatu yang mudah, murah, dangkal, dan tentulah  instinktif semata”

“Tapi kalau ledakan suka itu setelah melalui masa ‘inkubasi’ yang cukup lama dan lewat proses perenungan yang tidak instan, apakah itu  pasti sesuatu yang hina?”, suami  lalu menjelaskan tentang cara kerja otak lelaki dan perempuan dan berbagai teori kristalisasi yang tidak mudah dimengerti.

Sampai di rumah diskusi berlanjut, bisa dipastikan ikut nimbrung seisi rumah yang lain.

Love at the first sight, kesannya animal instink memang, tapi tau ga Ma..suamiku ngakunya begitu…tapi terus dia memprosesnya kan, memperjuangkan, katanya semakin kenal semakin yakin, karena masuk pertimbangan lain-lain yang kian menguatkan rasa itu, emang salah ya ?”.

“Papa juga kok, ketemu mamamu waktu pertama kali itu sudah suka”

“Hahaaa kesimpulannya, laki-laki itu lebih peka animal instinknya”, celutuk yang lain.

Entah kenapa diskusi kami lalu mencontohkan perjalanan kisah cinta Fajrin dan Amy, pasangan penganten baru di FIM yang menikah 25 September lalu. Pada awalnya mereka hanya kawan biasa sesama mahasiswa satu jurusan di ITB terus meningkat jadi sahabat dan diam-diam saling mengagumi, terus berlanjut ke tahap sama-sama saling suka.

Bedanya,  kalau si gadis hanya memendam di lubuk hati terdalam, tapi sang lelaki muda itu (Seperti kisah para jagoan dan pejuang tangguh lainnya) lalu berani menghadapi kenyataan, termasuk ditolak, serta resiko apapun dengan  mengekspresikan kepada suatu tindakan nyata yang halalan toyiban, yakni melamar si gadis, (bukan “Menembak” lho yaa) hahaaa.

Kembali ke topik “Love at the first sight versus Nuansa Bening”, saya kok sampai sekarang masih kukuh dengan pendapat, bahwa cinta itu sejatinya adalah sesuatu rasa ‘istimewa luar biasa’, yang agung, yang mulia, yang tidak mudah hadir, karena tidak akan mudah pula sirna.  Ia adalah perpaduan sempurna antara rasa yang dalam disertai tanggung jawab hebat. Jadi manalah mungkin bisa hadir dalam sekejap ?

Tapi saya setuju dengan pendapat, bahwa tempat di mana cinta itu hadir untuk yang pertama kali itu sesungguhnya juga bisa merepresentasikan sosok diri si empunya cinta. Kalau seseorang yang sholeh, intelek, berkelas, tentu akan bertemu cintanya di tempat-tempat terhormat, di tempat beraktivitasnya orang-orang se’kufu’, sederajat. Begitu juga sebaliknya.

Sangat tidak masuk akal (meski dunia sarat deviasi), bagaimana mungkin orang yang tidak berpendidikan, dan tidak pernah bergaul dengan orang-orang terpelajar, mengkhayalkan berjodoh dengan kalangan intelektual?.

Saya sering tersenyum sendiri membenarkan celoteh anak muda yang mengatakan, kalau ingin mendapatkan jodoh yang berkualitas, maka jangan lupa tingkatkan kualitas diri sendiri dulu. Mau dapat laki-laki sholeh? Maka jadilah perempuan sholehah dulu. Mau dapat gadis terhormat?, maka jadilah pemuda yang menjaga dan memuliakan kehormatan dulu.

Jangan pernah bermimpi punya pasangan yang sholeh/sholehah, kalau diri sendiri tidak suka beribadah, tidak cinta kebajikan, dan tidak pernah hadir di tempat para orang sholeh/sholehah beraktivitas.

Ketika hendak mengakhiri tulisan ini, seorang calon ibu muda yang tengah ditinggal suami tercintanya yang mengais peruntungan jauh di seberang benua sana,  diam-diam menikmati dengan seksama diskusi meja makan orang tuanya seraya mendendangkan Nuansa Bening itu ……

“Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku……..”

 

(Pagi nan indah di awal  Oct 2011.)

Posted by: tatty elmir | September 16, 2011

Fiksi : Single But Not Available

SINGLE BUT NOT AVAILABLE

Tak ada telaah matematika inderawi, tak juga tafsir versi mazhab psikodinamika ala Sigmund Freud, apalagi transfer nilai-nilai Tauhidiyah ala Islamiyah yang selama ini digandrunginya.  Alana terbangun  dan mendadak sontak melompat ke dunia nyata ketika mendengar suara berisik di tengah mimpi indahnya tentang ekspedisi ke berbagai goa terkeren di dunia.

Hari ini  7 purnama terlewati sudah, dari hari ulang tahunnya yang ke 19. Tapi mimpinya berpetualang Waitomo Glowworm di Selandia baru, Luray Cavern di Amerika, Eisriesenwelt di Austria, dan beberapa goa terkenal dunia lainnya belum satupun terwujud. Boro-boro menjelajah goa hantu Cueva de los Cristales di Meksiko atau Goa terluas dunia Majlis Al Jinn di Oman, mau jalan-jalan saja di kota tempatnya berkuliah kini harus minta ijin dulu sama Ayah Bundanya yang berpikir masih rada ‘kuno hariginikongono nano-nano’.

“Bukannya Bunda dan Ayah tidak percaya kau nak…. Tapi kami tak percaya pada dunia…di luar sana kejam sayang..kami hanya khawatir kalau membiarkan dirimu yang sok dewasa padahal masih seumur jagung, lugu walau suka belagu itu kalau dibiarkan berkeliaran di luar sana, tentu akan diincer garong kota. Apa mau diterkam singa gurun negeri antah berantah itu ?”.

“Hyaaaah” alana melenguh panjang. Mencoba menelusuri jalan pikir Ayah Bundanya yang lebih sering membuatnya bingung ketimbang paham. “Kalau memang Ayah Bunda belum rela melepas aku menjelajah, ngapain juga aku diijinkan kuliah jauh-jauh di rantau orang, sedikit-sedikit di telepon, sedikit-sedikit ditanya kemana aja, ngapain aja, dengan siapa ? kayak lirik lagu lebay itu”. Alana bersungut dalam hati sembari menutup jendela kamar asramanya rapat-rapat, di ujung musim gugur yang melankolis di areal kampus  nan rindang.

Hari itu Ayah kembali menelepon mengingatkan dirinya untuk dapat menjaga diri baik-baik, jangan terlalu terbuka pada semua orang. “Elok-elok manyubarang, jan sampai titian patah..elok-elok di rantau urang, jan sampai babuek salah”, begitu selalu nasehat yang dilagukan ayah dalam bahasa nenek moyangnya. Itu pun  belum selesai, masih lagi disertai  sederet panjang wejangan kuno lain. “Baik tidak berarti bisa ditipu” dan sebagainya.

I’m just your  little girl Dad, I’m just your little girl mom. Always….  see ? see ?”, tanya sendiri, jawab sendiri, begitu gaya Alana di depan kaca…. Jengah ! Sampai kapanpun ia tetap gadis kecil di mata Ayah Bunda, padahal ?

***

Petang ini, menjelang saatnya berbuka puasa, Alana mendadak kumat ‘sarap’ pingin kayang, split, nendang-nendang, roll depan, roll belakang… atau mengikuti gerakan liar sensual ‘edan-edanan’ ala penari Pesek orang Papua sana, mengikuti kegilaannya seperti yang sudah-sudah. Dia mendengar dengan jelas suara neneknya menanyakan sesuatu yang ‘gila’ kepada Papay cowok ganteng kerabat orang tuanya yang rupanya sedang datang bertamu.

“Ya ampuuun Paaay…sudah besar ya sekarang, mana guanteng pisaaan. Duuh tingginya kamu, dadamu bidang sekali, tuh rambut kerennya…eeeh kuliah di mana ? jurusan apa ? semester berapa ? Sstttt sudah punya pacar belon ?”. Urrrrghh Alana jadi bete ketika mendengar Papay ngegombal “Belum tuh nek, belum laku, emang nenek mau nyariin ya?. Iya deh nek, nenek aja yang nyariin ya.. Papay percaya selera nenek”.

“Sukanya yang kaya gimana Pay?”

“Yang orangnya riang, kulitnya terang, rambutnya hitam panjang, suka sama anak kecil, sayang sama nenek-nenek, trus pinter lah nek pasti’

“Rajin sholat, pakek jilbab  enggak?”

“Udah pasti sholehah juga lah nek”.

Alana tambah bete ketika neneknya dengan nada riang gembira menjawab;

“Yaaa sudaaah…kebetulan kalau begitu, tuh si Lana juga belum punya pacar. Kan kamu suka dia kan? Tapi sssttt katanya dia ga mau pacaran…takut dosa… jadi pacarannya entar aja kalau sudah nikah. Nahhh kamu masih naksir Alana kan ? makanya sekarang rajin-rajin aja belajar, cepat lulus…cepat kerja…nanti nenek bilang sama Ayahnya Lana untuk menjodohkanmu dengan dia. Hehehehe “, nenek dan Papay sama-sama terkekeh girang..membuat Alana menjerit dalam hati

“Jijaaaaay bajaaaaay”. Maka semakin bete dia !!

Alana mengeluh mengusap dada saban mendengar berita seperti ciloteh neneknya barusan. Dia pikir, dengan ikut pulang mudik ke kampung neneknya menjelang lebaran ini, dia akan selamat dari godaan orang tua, tetangga, kakak-kakak dan para iparnya yang terus-terusan mencecarnya soal jodoh jika mereka bercengkerama di rumah.

Alana menyesal telah mengumbar kepada orang serumahan tentang keinginannya untuk nikah muda, tentang indahnya pacaran setelah menikah, tentang obsesi-obsesinya untuk membangun ketahanan keluarga sebagai pijakan pertama untuk berkontribusi bagi pembangunan ketahanan bangsa. Ia ingin membuat counter culture atas ‘image pernikahan dini’ sebagai efek pergaulan bebas anak muda masa kini yang banyak menjadi tema sinetron dan  film-film kacangan. Dan yang paling penting..Alana ingin hati dan dirinya terjaga, terselamatkan.

Gara-gara salah ‘omong’ ini, ayah bundanya kini sibuk memasang mata, mencari… menelisik pribadi anak-anak kawan mereka yang berkualitas. Yang lebih gila, masing-masing saudaranya sudah punya ‘jagoan’ yang mereka usung. Bahkan abang iparnya yang mantan aktivis kampus tanpa sungkan-sungkan bilang,

“Alana…boleh ga Abang bawa kawan-kawan abang itu kemari untuk dikenalkan sama Ayah bunda. Ini nih lihat proposal mereka…very high quality jomblo kan semua?” Urrrggh Alana makin bete dan kian bete, apalagi mendengar kabar ayah bundanya terkadang menyambut baik dan melayani mereka yang datang dengan tangan terbuka ramah tamah. Alamaaak.

Alana kena batunya !!, Dia tak menyangka respon atas ‘statement iseng’nya disambut serius. Padahal ia hanya menguji hati Ayahnya yang dulu memegang teguh aturan, bahwa untuk menikah harus lulus S1 dulu, terus si calon harus benar-benar terseleksi, pejuang tangguh, tidak cengeng, bertanggung jawab, pokoknya berkarakter kuat, sholeh sudah pasti, tapi dia juga benar-benar harus berkualitas dalam qua intelektual, gigih teruji, ‘mature’ dan siap jadi imam yang akan membawanya ke surga dunia hingga akhirat. Alana ingin tahu apakah ayahnya kini sudah berubah dalam kerangka pikir beracuan rasionalitas manusia ataukah ketetapan ajaran Allah.

Alana benar-benar mati kutu kena batunya. Penyebabnya gara-gara hatinya diam-diam tercuri sama pemuda yang semula ia remehkan. Dulu Alana sering mengejek  menyampirkan gelar padanya “Si uda-uda narsis, sok cool, sok keren, sok ngetop, sok idola, sok paling hebat, padahal minderan, ketawa aja pake mikir, nyanyi pake otak kiri, ngomong terlalu diatur, tidak spontan..jaim banget….sekalinya ngelucu malah ketauan norak….garing abisss !!” dan sederet gelar sinis lain. Alana tak menyangka, kini kenapa Tuhan memberinya rasa suka sama orang itu? Mendengar namanya saja sudah suka. Membayangkan wajahnya saja sudah senang, apalagi mendengar suaranya, serasa dunia dipenuhi bunga-bunga.

“Duh.. Akankah itu rahmat ataukah kutukan?”, Alana sungguh tersiksa, kerap mengeluh sendiri karena tak kuasa mengenyahkan rasa yang berkuasa itu.

Yang bikin Alana tambah greget, si ‘Anak udik sok keren’ itu kerap hadir dalam mimpinya. Kadang membuatnya bahagia senyum-senyum sendiri,  jika cerita di mimpi penuh suka cita. Tapi juga pernah  membuatnya menangis tersedu sampai matanya sembab  gara-gara cerita di mimpi si pangeran masa depannya  itu ternyata sudah punya istri yang cantiknya selangit hadeeeuh……

Alana tak habis pikir, lelaki kecil penantang hidup itu telah mengalahkan kagumnya pada cowok-cowok keren bintang kampus yang suka tebar pesona, dan macan aktivis ‘serba wah’ di organisasi. Kakak kelas orator hebat idola cewek se kampus yang dulu rajin mengajaknya bersepeda bareng kawan-kawan lain kini juga terlupakan sudah. Alana tak lagi terpikat message sok alim jaim “dek, jangan lupa habis pengajian kita sepedaan ya…salam gowes” dari dia, Alana tak lagi mencium bunga mawar yang sering dikirim si bule yang katanya pingin jadi juru dakwah budaya Islam itu. Alana juga tak lagi menghiraukan sapaan ‘Adek hebat kakak’ atau godaan jail sahabat lama yang terkadang mencuri kesempatan dalam kesopanan ;)

Again..and again Alana  kena batunya !! Dia yang cuma mewacanakan pingin menikah muda dengan catatan hanya dengan si ‘udik narsis pangeran masa depan’, ternyata isunya mengalir sampai jauuuuh…mengalahkan Bengawan Solo yang hanya sampai laut Jawa. Isu Alana yang pingin nikah muda juga merembes ke lintas benua. Kawan-kawan Ayah bundanya ikut-ikutan menjodoh-jodohkan dengan anak-anaknya yang terkeren ala mereka yang ada di belahan dunia berbeda.

Ujung-ujungnya ia kini jadi bulan-bulanan seluruh sanak saudara dan juga orang tua. Mereka semua tengah sibuk mencarikan jodoh yang layak buatnya. Rasa suka terhadap penjajah hatinya itu tak kunjung lekang, tak kunjung enyah, sementara Alana kian limbung, merasa sang ‘bintang pujaan’  leluasa tebar pesona ga habis-habis, bolak-balik kirim sinyal kidung smaradhana nan menggoda tak jelas yang tak berkesimpulan tegas.

“Makanya Lan…ngapain mikirin dia. Sudah..lupakan saja… Itu kan gaya khas Don Juan ala baheula sok alim sok jaim, tapi sebetulnya playboy cap dodol tak bertanggung jawab, tak mau berkomitmen, pengecut, raja tega mempermainkan banyak hati para wanita. Makanya sudah lah.. coba buka pintu hatimu pada si anu, jagoan kakak yang sudah teruji kesungguhannya mengejarmu dari dulu. Dia itu Gentleman tahu ? Sudah lama pula tamat, pekerjaanpun mantap”, rayu kakak pertamanya.

“Kemana-mana juga kerenan si ‘anu’ lagi. Multi talented, sensitif, caring, loving, dekat sama kita semua.  Baru pula dapat beasiswa ke Harvard, bukannya kamu juga pingin sekolah ke sana?… mana ortunya baeeeek banget”, bujuk kakak keduanya.

“Idiiih…jelas-jelas lebih berkelas si ‘ kak fulan’, sangat dewasa, sangat siap jadi imam, gak sok jaim, membuat kita semua nyaman, jago masak, jago musik, suaranya oke banget, philanthropist, siap support Yayasan keluarga,  kerjaannya oke, 15 kecerdasan dia punya, pengalaman menaklukkan 5 benua dia kuasai pula” sahut kakaknya yang lain tak mau kalah.

“Yaah kak, mending si kakak X saja, orangnya super duper oke, tajir, ga pelit, suka traktir”, adiknya yang masih ‘ngences’  ikut-ikutan memberi saran polos ala kanak-kanaknya.

“Te bete beteeee..ngapain sih topik obrolan di rumah ini itu-itu melulu..malesin !!”,  teriak Alana sebal seraya berlari ke piano dan menghentakkan  “Somebody to love” ala Brittany Murphy di film Happy Feet. Suaranya melengking  ingin meledakkan semua galau di hati.

“Each morning I get up I die a little 

Can barely stand on my feet

Take a look in the mirror and cry,

 Oh Lord what you’re doaing to me

 I Spend all my years in believing you.

Oooh somebody..can you find me….somebody to loveeeee”.

“Cieee yang minta dicari dan ditemukan”, goda kakak ke tujuhnya.

“Iyee…ane lagi main petak umpet Gan”, jawab Alana mencoba dalam gaya standar ‘tengil’nya menutup gejolak hati sembari meneruskan berteriak  ”Somebody to looooove….te bete beteeeeeeee. Manusia sedunia ini bikin beteeeee”.


“Idiiih…bukannya situ yang mulai melempar wacana pingin nikah muda” sergah si sulung menjulurkan lidah.

“Iyaaa…tapi bukan dengan cara mengobral adeknya ke mana-mana, tega bener kalian..nyebelin tauk”

“Diiih siapa yang ngobral adek? Kita semua tuh sayang kamu dek !! Ga kepingin kamu patah hati untuk seseorang yang siapa tahu ga berarti. Ga kepingin kamu sedih kalau ternyata dia tidak seperti  harapanmu” jelas si kakak yang kedua.

“Ya dek, coba pikir-pikir lagi deh…ngapain buang-buang energi…buang-buang umur jika itu sia-sia…makanyanya jangan sia-siakan diri. You are really worthed my dear Adek. Lagian kamu tuh turun level, ga kelasnya bersaing sama si ‘anu’   yang jelas-jelas seluruh dunia tahu, dia dengan norak ga punya harga diri mengejar-ngejar si Uda narsismu itu. Yang bikin mangkel, jagoanmu itu  belaga pilon, ga gerah ..ditaksir selera macam itu…malah terlihat melayani dan menikmati dikejar-kejar itu. Kali ngerasa dia tuh superstar ya?”

“Menggembok hati untuk orang yang ga jelas itu namanya mendzalimi diri sendiri tau?”. Ucapan sadis mengerikan sederet kakaknya yang berentet kayak sepur itu membuat Alana jatuh nelangsa memburai sukma. Berlari ia ke kamar bundanya meminta perlindungan seperti masa-masa kecil dulu.

“Bun…kalau ternyata dia tidak merasa seperti apa yang Lana rasakan ini ya sudahlah… Lupakan tentang nikah muda itu ya bun, Alana mau konsentrasi kuliah. Mendongkrak nilai, sambil tetap jadi corong rakyat yang berhendak ya Bun. Doakan Lana bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat dengan hasil optimal.. S1..S2..S3 sampai Es krim, es teler, es tebak, es pudding caramel, es pisang hijau atau es apa lagi, Pokoknya Lana pingin jadi perempuan berdaya. Punya karir yang cemerlang, biar ga diremehkan laki-laki manapun. Menikahnya mah entar-entar aja.”

“Lho kok mencari ilmu niatnya biar ga diremehkan orang ? salah niat tuh”, koreksi Bunda.

“Jadiiiii slogan single but not available di statusmu itu bakal diremoved doooong”, tiba-tiba rombongan kakak tengil degil sang dara muncul di balik pintu menguping pembicaraan mereka, sembari genjrang genjreng gitaran dengan nyanyian menggoda.

“Yang itu tetap kak…InsyaAllah Lana tak akan membuka hati lagi kecuali untuk suami saja ketika masanya tiba nanti”, ucap Alana pelan sendu tak seperti biasa.

“Aw.. aw…ceritanya patah hati dong?”

“Kagak”

“Lha..Itu namanya apa?”

Saling serang ala sayang-sayangan keluarga Alana kembali mengoyak malam yang semakin kelam. Tiba-tiba bunda yang sedang mendekap gadis baru gedenya yang masih labil itu berbisik,

“Kalau kau menjaga hati dan diri hanya karena untuk sesosok manusia,,, maka engkau mungkin akan kecewa anakku. Karena manusia sudah biasa menguntai kecewa. Karena itu jagalah hati, diri dan rawatlah ‘rasa’ itu hanya karena Allah semata. Insya Allah…Dia akan memberimu semua. Mungkin cinta dia Pangeran masa depan yang kau sebut ‘Si uda narsis’ yang menyebelin tapi diam-diam kau rindu itu, dan yang paling utama cinta DIA Sang Maha Pecinta”.

“Hah betul itu Bun?”

“Lha iya…kan sudah janji Allah…kalau kita mengejar dunia, maka kita akan dapat dunia saja. Namun jika kita mengejar akhirat..maka kita akan mendapat akhirat dan dunia.

“Hidup high quality Sigle”, sela si kakak.

“Hidup ‘Single but not available’ huahaaa” sahut yang lain seruuu.

Malam itu Alana pulas meringkuk dalam pelukan sang bunda. Tak ada yang perlu dirisaukan. Rembulan bersinar dengan megahnya…satwa tertidur nyaman dalam hangatnya pelukan malam yang akan selalu dipertukarkan. Alana berdoa, semoga  inilah malam terakhir kegalauannya. Dia ingin kehidupan kembali berjalan normal, tersenyum dan tertawa meniti hari dengan riang gembira.

“Dunia akan selalu terhampar indah di mata orang-orang yang berjalan dalam aturanNYA,  dan mereka yang senantiasa berpikir dan bersyukur.”

 

Tatty Elmir@penghujung Agustus 2011.

 

 

Posted by: tatty elmir | September 15, 2011

Keluarga Tercabik, Dosa Turunankah ?


KELUARGA TERCABIK, DOSA TURUNAN KAH ?

 

Mata cerdas wanita cantik separo baya yang kondang sebagai petinggi sebuah bank ternama itu tiba-tiba tersapu kabut….berembun, ketika  beliau menjelaskan kisah ‘dalam negeri’nya yang dikuak banyak media. “Saya paham, kisah dibalik perceraian saya pasti akan membangun sebuah ‘image’ buruk terhadap saya. Tapi bagi saya itu tak begitu penting, karena tujuan saya jauh lebih besar dari itu…..biar yang lain tidak bernasib sama dengan saya dan anak-anak saya”, ujar si Ibu X  kepada saya belasan tahun silam.

Ibu X lalu dengan berlinang air mata menceritakan kisah rumah tangganya yang kelabu. Suami tercintanya digaet wanita lain, lalu ia membesarkan sendiri kedua anaknya. Sampai di sini cerita begini tentu kita anggap biasa. Tapi saya terhenyak ketika si Ibu cantik kemudian melanjutkan cerita bagaimana keadaan anak-anak setelah ditinggal sang ayah.

“Anak-anak saya kebetulan bersekolah di lembaga pendidikan terkenal. Di sekolah elit ini ikatan kekeluargaan antara orang tua dan guru, apalagi sesama orang tua demikian erat. Terutama pengurus ikatan orang tuanya. Manfaatnya tentu banyak, tapi dampak negatifnya, semua pada tahu keadaan dan rahasia rumah tangga masing-masing, termasuk siapa yang bercerai dan sebagainya. Nah ketika kami bercerai, anak-anak saya protes, tak tahan menatap mata apalagi menjawab tanya mereka tentang kami. Bagi mereka kawan-kawan saya yang baik hati itu, tentu pertanyaan semacam ‘Bagaimana kabar ayah ibumu ? mereka baik-baik saja kan ? tinggal di mana sekarang ? Kamu ikut siapa ? kalian masih suka piknik bersama kan ?’ adalah bentuk perhatian dan kasih sayang. Tapi tahukah mereka bahwa keadaan anak-anak saya dalam keadaan tertekan nan amat sangat ? Ibarat orang bisulan, meski orang lain punya niatan mengelus bisul sebagai bentuk sayang, tapi bagi si penderita itu merupakan sakit yang luar biasa.

Bocah  ini setiap malam menangis meratapi nasib yang disia-siakan sang ayah. Hatinya begitu luka karena selama ini ia begitu dekat dengan sang ayah, dan tiba-tiba ayahnya pergi menghilang begitu saja dan melihat dengan mata kepalanya sendiri menggandeng perempuan lain di sebuah pusat pertokoan. Jadi setiap kata yang menyertai nama ayahnya, maka itu adalah deraan baginya.”,  profesional keren itu lalu menambahkan, bahwa salah seorang anaknya pernah melempar sepatu memecahkan kaca rumah sepulang sekolah, dan menjerit-jerit kepada pembantu rumah tangga mempertanyakan mengapa mamanya sangat sibuk bekerja, sehingga dia kesepian,  berenang sendiri, membuat pe-er sendiri bahkan raporpun hampir selalu dititipkan sopir untuk diambil.  Ujung-ujungnya dia mengomel bahwa semua penderitaan dirinya karena mamanya sibuk. Dan gara-gara mamanya sibuk bekerja itulah papanya mencari perhatian perempuan lain.

Beberapa waktu setelah kejadian itu, ketika saya bertemu si Ibu super ini lagi, beliau menceritakan bahwa gadis cantiknya yang jebolan perguruan tinggi kelas satu di negeri ini, lagi-lagi putus tunangan gara-gara ia berasal dari keluarga yang bercerai. “Ini sudah yang ke sekian kalinya Tat”, keluh si Ibu sembari meminta saya menuliskan kisah ini sembari menyamarkan namanya, agar kejadian yang menimpanya tidak terulang kembali.

Semua calon mantu saya itu…adalah anak-anak hebat dari keluarga baik-baik. Saya mengerti…tentu mereka menginginkan berjodoh dan orang tua menginginkan berbesan dengan latar belakang keluarga yang sama yang setara. Tapi ada yang mereka yang lupa, bahwa perceraian saya adalah sesuatu yang tidak saya inginkan. Saya sampai diperingatkan hakim agama waktu itu, untuk sadar diri karena tidak mau cerai dan bersikeras tetap ingin mempertahankan rumah tangga. Dia sampai ngomong ‘Ibu maaf, tahukah Ibu bahwa dalam agama kita, jika ada seorang suami mengikarkan talak ketika berjalan di depan rumah dan didengar saksi-saksi, maka talak itu sudah jatuh, meski Ibu tidak mendengar dan berada di tempat yang jauh, mungkin lagi memasak di dapur’.

“Saya sedih sekali…merasa hidup tidak adil untuk saya dan anak-anak saya. Dulu kalau ada kaca sekolah yang pecah karena lemparan bola, maka yang tertuduh pertama tentu anak saya. Kalau ada yang berisik di kelas, maka anak saya langsung dituduh jadi dalangnya…apapun yang tidak baik terjadi di pergaulan mereka, maka semua mata memandang  dan menghukum anak saya pasti biangnya. Dalam masyarakat kita memang sudah tertanam keyakinan, bahwa keluarga bermasalah pasti akan melahirkan anak-anak bermasalah”.

Mata saya menerawang mengingat itu semua, ketika mendengar pengakuan seorang anak ‘psikologis’ saya  tentang nasib pernikahan orang tuanya yang tidak berjodoh panjang.

“Nak sayang, ibu paham kenapa engkau menyembunyikan hal itu selama ini. Memang masih banyak di masyarakat kita yang berpendapat bahwa perceraian itu aib, yang tak layak diketahui orang banyak. Ibu mengerti mengapa dikau begitu tertutup ketika kawan–kawanmu bicara riang gembira tentang kejadian-kejadian lucu di keluarga masing-masing.

Setiap mengingat keluarga orang tuamu, mungkin itu adalah perih atas luka lamamu. Luka yang mungkin menjadi sebab kemurungan yang berkepanjangan. Karena itu dikau tak pernah tampil spontan, terlalu hati-hati dan tidak alamiah. Ibu juga tahu dikau seorang yang penuh ‘reserve’, susah memercayai orang lain.

Ibu membaca tentang ketakutan-ketakutanmu nak, kekhawatiran yang mungkin tak selamanya beralasan. Namun Ibu tak menampik, betapa di luar sana masih banyak orang tua yang melarang anaknya menikah dengan anak-anak yang tidak berasal dari lingkungan “Happy Family”. Banyak orang mungkin punya pengalaman buruk, betapa mudahnya perceraian dilakukan seseorang yang juga berasal dari keluarga korban perceraian. Kata-kata “Orang yang tidak punya komitmen, akan melahirkan anak-anak yang tidak punya komitmen pula”. Itu judgmental namanya. Tentu sangat menyakitkan, dan sangat tidak adil !! Seolah-olah pendidikan tidak mempunyai arti. Seolah-olah manusia tidak dikarunia akal.

Setiap kejadian memang akan melahirkan perilaku 2 versi saja secara garis besar.  Yang satu menjadikan itu sebagai kebiasaan yang menyenangkan, ataukah sebaliknya.

Ada yang berpendapat, anak korban perceraian, biasanya dibesarkan dalam situasi penuh amarah, benci, dendam dan penuh intrik, dengki beserta sederetan konflik lain. Tak salah juga jika banyak yang melihat tokoh-tokoh ‘aneh’ yang penuh kebencian, bengis, berasal dari keluarga yang retak yang melihatkan potret ketidak elokkan itu setiap hari.

Ada pula yang punya pengalaman melihat anak korban perceraian menjadi orang-orang yang egois, tidak rela berbagi, tidak peduli dan mau-maunya sendiri. Mereka berkilah, jika si anak dididik sang Ibu, maka tak pelak akan diajarkan tentang tokoh perempuan yang mandiri, tidak butuh laki-laki. Dan yang dibesarkan ikut ayah, bisa jadi akan melihat sosok laki-laki sejati itu adalah laki-laki perkasa yang tak butuh wanita. Keangkuhan berbasis gender ini mungkin tentu saja ada.

Tapi mungkin pula  tak banyak yang tahu, bahwa betapa banyak di luar sana, ayah-ayah dan Ibu-Ibu  hebat nan penuh kasih sayang serta punya punya komitmen tinggi terhadap keutuhan keluarga, ternyata lahir dari keluarga tercabik. Pengalaman masa kecil itu justru membuat mereka terpacu menjadi lebih baik. Pengalaman buruk orang tua ia jadikan peringatan, agar melangkah lebih hati-hati.

Dan mereka yang memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, tentu akan mensyukuri setiap pencapaiannya dengan merawatnya sehati-hati mungkin.

Tersenyumlah, dan cobalah tertawa lepas dengan mengaktifkan seluruh potensi otak kananmu.

Teruslah berjalan anakku…..

Siapapun jodohmu kelak, semoga ia adalah seseorang yang punya komitmen terhadap “Ketahanan Keluarga untuk membangun ketahanan bangsa”, seperti yang engkau cita-citakan itu. Dan percayalah ..tak ada ‘dosa’ yang diwariskan itu !!”.

(Tatty Elmir @September Ceria 2011 :)


Posted by: tatty elmir | September 15, 2011

Kado Puisi Taufiq Ismail Untuk Ulang Tahun Presiden

Jumat 9 September yang lalu, Presiden SBY berulang tahun. Orang berduyun-duyun memberikan selamat, mengirimkan bunga dan mengantarkan kado istimewa. Bagi seorang budayawan nan juga sastrawan yang sepanjang hidupnya terus berjuang, tentu ada cara istimewa pula berkontribusi. di sebuah stasiun televisi ia menyampaikan ini.

Karena saya tidak menonton televisi, masih beruntung bisa mendapatkan naskah asli dari sang kreatornya. Semoga  apa yang ditulis Bapak Taufiq Ismail ini dapat menjadi renungan bersama.

“Halus, tapi tajam. Kata-katanya indah namun mengiris dalam”.

Taufiq Ismail

Acara TV One, Jum’at 9 September, 2011.

Menghormati Hari Jadi Presiden Republik Indonesia

Adalah suatu kehormatan

Saya diminta oleh TV One

Agar sebuah puisi pagi ini dibacakan

Sangat istimewa, karena kepada siapa ini ditujukan.

Kepada saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Selamat hari jadi hari ini

Semoga dalam mengemban tugas sangat berat ini

Anda dalam kesehatan dan dianugerahi kekuatan

Karena sepanjang sejarah negara kita

Belum pernah ruwetnya masalah yang membelit bangsa

Seruwet sekarang ini.

Perkenankan saya di awal puisi ini

Sama berbagi apa yang sudah sama kita ketahui.

Kita hidup di sebuah zaman ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan

Dengan uang hubungan antar manusia diukur dan ditentukan

Ketika mobil, tanah, deposito, relasi dan kepangkatan

Ketika politik, ideologi, kekuasaan disembah sebagai Tuhan

Ketika dominasi materi menggantikan Tuhan

Sehingga di negeri ini tak jelas lagi batas antara halal dan haram

Seperti membedakan warna benang putih dan benang hitam

Di hutan kelam

Jam satu malam

Ketika 17 dari 33 Gubernur jadi tersangka

52 persen banyaknya

Ketika 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka

36 persen jumlahnya

Ketika 27 dari 50 anggota Komisi Anggaran DPR ditahan

62 persen jumlahnya

Ketika sogok menyogok dari barat ke timur menjadi satu

Pelaku bisnis menyuap ke kanan dan ke kiri

Mengantar komisi kesanadan ke mari

Eksekutif, legislatif, yudikatif dan bisnis banyak menjadi garong berdasi

Walau masih ada yang jujur, tapi jumlahnya sedikit sekali

Ketika hakim, jaksa, polisi dan pengacara sedikit yang bisa dipercaya

Ketika keputusan pengadilan blak-blakan diperjual-belikan

Begitu banyak hakim, ha-a-ka-i-em, bila dipanjangkan

Hubungi – aku – kalau – ingin – menang *)

Begitu banyak jaksa, je-a-ka-es-a, bila dipanjangkan

Jajaki – aku – kalau – sesuai – anggarannya

Begitu banyak polisi, pe-o-el-i-es-i, bila dipanjangkan

Percayalah – obyekan – licin – ini – sukses – implementasinya

Inilah dia zaman, betapa susah kita berjumpa kejujuran.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Kita hidup di zaman ketika perilaku bangsa mulai berubah

Sedikit-sedikit tersinggung, teracung kepalan dan marah-marah

Lalu merusak, membakar dan menumpahkan darah

Menggoyang-goyang pagar besi hingga rebah

Berteriak dengan kata-kata sumpah serapah

Sungguh sirna citra bangsa yang ramah tamah.

Ini terjadi sesudah bendungan besar roboh satu dasawarsa silam

Reformasi yang membawa perubahan politik kenegaraan

Tapi berhanyutan pula nilai-nilai luhur luar biasa tinggi harganya

Nilai keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa

Remuk berkeping-keping karakter mulia bangsa.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Apabila dalam bait-bait puisi saya di atas tadi

Berulang kali disebut anomali bangsa sendiri

Tapi saya tidak mengumpat atau menyalahkan kesanake sini

Saya merasa sangat malu di dalam hati

Dan serta berdosa

Karena saya ikut mewariskan keruwetan dan kebrantakan ini

Umur saya lebih tua dari umur anda

Saya dulu sudah ikut berikhtiar merubah keadaan

Tetapi oleh Tuhan tidak sepenuhnya dilapangkan jalan.

Inilah yang kepada anak-cucu saya sampaikan.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia,

Bukan kepalang beban tanggung-jawab yang anda pikul

Lebih berat dari zaman-zaman sebelumnya

Jauh-jauh-jauh lebih berat

Bersihkanlah yang kotor-kotor dari Pemerintahan anda

Selamatkan anak-anak dan cucu-cucu kita dengan akhlak mulia

Bekerjalah dengan gebrakan yang cepat dan tegas

Sebagai bangsa kita bekerja, bekerja, bekerja

Sebagai bangsa kita berdoa, berdoa, berdoa.

2011.

*) dari buku kumpulan puisi Hakim Agung Laica Marzuki, 2008.

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers