Posted by: tatty elmir | September 15, 2011

Kado Puisi Taufiq Ismail Untuk Ulang Tahun Presiden

Jumat 9 September yang lalu, Presiden SBY berulang tahun. Orang berduyun-duyun memberikan selamat, mengirimkan bunga dan mengantarkan kado istimewa. Bagi seorang budayawan nan juga sastrawan yang sepanjang hidupnya terus berjuang, tentu ada cara istimewa pula berkontribusi. di sebuah stasiun televisi ia menyampaikan ini.

Karena saya tidak menonton televisi, masih beruntung bisa mendapatkan naskah asli dari sang kreatornya. Semoga  apa yang ditulis Bapak Taufiq Ismail ini dapat menjadi renungan bersama.

“Halus, tapi tajam. Kata-katanya indah namun mengiris dalam”.

Taufiq Ismail

Acara TV One, Jum’at 9 September, 2011.

Menghormati Hari Jadi Presiden Republik Indonesia

Adalah suatu kehormatan

Saya diminta oleh TV One

Agar sebuah puisi pagi ini dibacakan

Sangat istimewa, karena kepada siapa ini ditujukan.

Kepada saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Selamat hari jadi hari ini

Semoga dalam mengemban tugas sangat berat ini

Anda dalam kesehatan dan dianugerahi kekuatan

Karena sepanjang sejarah negara kita

Belum pernah ruwetnya masalah yang membelit bangsa

Seruwet sekarang ini.

Perkenankan saya di awal puisi ini

Sama berbagi apa yang sudah sama kita ketahui.

Kita hidup di sebuah zaman ketika uang dipuja-puja sebagai Tuhan

Dengan uang hubungan antar manusia diukur dan ditentukan

Ketika mobil, tanah, deposito, relasi dan kepangkatan

Ketika politik, ideologi, kekuasaan disembah sebagai Tuhan

Ketika dominasi materi menggantikan Tuhan

Sehingga di negeri ini tak jelas lagi batas antara halal dan haram

Seperti membedakan warna benang putih dan benang hitam

Di hutan kelam

Jam satu malam

Ketika 17 dari 33 Gubernur jadi tersangka

52 persen banyaknya

Ketika 147 dari 473 Bupati dan Walikota jadi tersangka

36 persen jumlahnya

Ketika 27 dari 50 anggota Komisi Anggaran DPR ditahan

62 persen jumlahnya

Ketika sogok menyogok dari barat ke timur menjadi satu

Pelaku bisnis menyuap ke kanan dan ke kiri

Mengantar komisi kesanadan ke mari

Eksekutif, legislatif, yudikatif dan bisnis banyak menjadi garong berdasi

Walau masih ada yang jujur, tapi jumlahnya sedikit sekali

Ketika hakim, jaksa, polisi dan pengacara sedikit yang bisa dipercaya

Ketika keputusan pengadilan blak-blakan diperjual-belikan

Begitu banyak hakim, ha-a-ka-i-em, bila dipanjangkan

Hubungi – aku – kalau – ingin – menang *)

Begitu banyak jaksa, je-a-ka-es-a, bila dipanjangkan

Jajaki – aku – kalau – sesuai – anggarannya

Begitu banyak polisi, pe-o-el-i-es-i, bila dipanjangkan

Percayalah – obyekan – licin – ini – sukses – implementasinya

Inilah dia zaman, betapa susah kita berjumpa kejujuran.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Kita hidup di zaman ketika perilaku bangsa mulai berubah

Sedikit-sedikit tersinggung, teracung kepalan dan marah-marah

Lalu merusak, membakar dan menumpahkan darah

Menggoyang-goyang pagar besi hingga rebah

Berteriak dengan kata-kata sumpah serapah

Sungguh sirna citra bangsa yang ramah tamah.

Ini terjadi sesudah bendungan besar roboh satu dasawarsa silam

Reformasi yang membawa perubahan politik kenegaraan

Tapi berhanyutan pula nilai-nilai luhur luar biasa tinggi harganya

Nilai keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa

Remuk berkeping-keping karakter mulia bangsa.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia

Apabila dalam bait-bait puisi saya di atas tadi

Berulang kali disebut anomali bangsa sendiri

Tapi saya tidak mengumpat atau menyalahkan kesanake sini

Saya merasa sangat malu di dalam hati

Dan serta berdosa

Karena saya ikut mewariskan keruwetan dan kebrantakan ini

Umur saya lebih tua dari umur anda

Saya dulu sudah ikut berikhtiar merubah keadaan

Tetapi oleh Tuhan tidak sepenuhnya dilapangkan jalan.

Inilah yang kepada anak-cucu saya sampaikan.

Saudaraku Presiden RepublikIndonesia,

Bukan kepalang beban tanggung-jawab yang anda pikul

Lebih berat dari zaman-zaman sebelumnya

Jauh-jauh-jauh lebih berat

Bersihkanlah yang kotor-kotor dari Pemerintahan anda

Selamatkan anak-anak dan cucu-cucu kita dengan akhlak mulia

Bekerjalah dengan gebrakan yang cepat dan tegas

Sebagai bangsa kita bekerja, bekerja, bekerja

Sebagai bangsa kita berdoa, berdoa, berdoa.

2011.

*) dari buku kumpulan puisi Hakim Agung Laica Marzuki, 2008.


Responses

  1. … don’t give up


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers