KELUARGA TERCABIK, DOSA TURUNAN KAH ?
Mata cerdas wanita cantik separo baya yang kondang sebagai petinggi sebuah bank ternama itu tiba-tiba tersapu kabut….berembun, ketika beliau menjelaskan kisah ‘dalam negeri’nya yang dikuak banyak media. “Saya paham, kisah dibalik perceraian saya pasti akan membangun sebuah ‘image’ buruk terhadap saya. Tapi bagi saya itu tak begitu penting, karena tujuan saya jauh lebih besar dari itu…..biar yang lain tidak bernasib sama dengan saya dan anak-anak saya”, ujar si Ibu X kepada saya belasan tahun silam.
Ibu X lalu dengan berlinang air mata menceritakan kisah rumah tangganya yang kelabu. Suami tercintanya digaet wanita lain, lalu ia membesarkan sendiri kedua anaknya. Sampai di sini cerita begini tentu kita anggap biasa. Tapi saya terhenyak ketika si Ibu cantik kemudian melanjutkan cerita bagaimana keadaan anak-anak setelah ditinggal sang ayah.
“Anak-anak saya kebetulan bersekolah di lembaga pendidikan terkenal. Di sekolah elit ini ikatan kekeluargaan antara orang tua dan guru, apalagi sesama orang tua demikian erat. Terutama pengurus ikatan orang tuanya. Manfaatnya tentu banyak, tapi dampak negatifnya, semua pada tahu keadaan dan rahasia rumah tangga masing-masing, termasuk siapa yang bercerai dan sebagainya. Nah ketika kami bercerai, anak-anak saya protes, tak tahan menatap mata apalagi menjawab tanya mereka tentang kami. Bagi mereka kawan-kawan saya yang baik hati itu, tentu pertanyaan semacam ‘Bagaimana kabar ayah ibumu ? mereka baik-baik saja kan ? tinggal di mana sekarang ? Kamu ikut siapa ? kalian masih suka piknik bersama kan ?’ adalah bentuk perhatian dan kasih sayang. Tapi tahukah mereka bahwa keadaan anak-anak saya dalam keadaan tertekan nan amat sangat ? Ibarat orang bisulan, meski orang lain punya niatan mengelus bisul sebagai bentuk sayang, tapi bagi si penderita itu merupakan sakit yang luar biasa.
Bocah ini setiap malam menangis meratapi nasib yang disia-siakan sang ayah. Hatinya begitu luka karena selama ini ia begitu dekat dengan sang ayah, dan tiba-tiba ayahnya pergi menghilang begitu saja dan melihat dengan mata kepalanya sendiri menggandeng perempuan lain di sebuah pusat pertokoan. Jadi setiap kata yang menyertai nama ayahnya, maka itu adalah deraan baginya.”, profesional keren itu lalu menambahkan, bahwa salah seorang anaknya pernah melempar sepatu memecahkan kaca rumah sepulang sekolah, dan menjerit-jerit kepada pembantu rumah tangga mempertanyakan mengapa mamanya sangat sibuk bekerja, sehingga dia kesepian, berenang sendiri, membuat pe-er sendiri bahkan raporpun hampir selalu dititipkan sopir untuk diambil. Ujung-ujungnya dia mengomel bahwa semua penderitaan dirinya karena mamanya sibuk. Dan gara-gara mamanya sibuk bekerja itulah papanya mencari perhatian perempuan lain.
Beberapa waktu setelah kejadian itu, ketika saya bertemu si Ibu super ini lagi, beliau menceritakan bahwa gadis cantiknya yang jebolan perguruan tinggi kelas satu di negeri ini, lagi-lagi putus tunangan gara-gara ia berasal dari keluarga yang bercerai. “Ini sudah yang ke sekian kalinya Tat”, keluh si Ibu sembari meminta saya menuliskan kisah ini sembari menyamarkan namanya, agar kejadian yang menimpanya tidak terulang kembali.
“Semua calon mantu saya itu…adalah anak-anak hebat dari keluarga baik-baik. Saya mengerti…tentu mereka menginginkan berjodoh dan orang tua menginginkan berbesan dengan latar belakang keluarga yang sama yang setara. Tapi ada yang mereka yang lupa, bahwa perceraian saya adalah sesuatu yang tidak saya inginkan. Saya sampai diperingatkan hakim agama waktu itu, untuk sadar diri karena tidak mau cerai dan bersikeras tetap ingin mempertahankan rumah tangga. Dia sampai ngomong ‘Ibu maaf, tahukah Ibu bahwa dalam agama kita, jika ada seorang suami mengikarkan talak ketika berjalan di depan rumah dan didengar saksi-saksi, maka talak itu sudah jatuh, meski Ibu tidak mendengar dan berada di tempat yang jauh, mungkin lagi memasak di dapur’.
“Saya sedih sekali…merasa hidup tidak adil untuk saya dan anak-anak saya. Dulu kalau ada kaca sekolah yang pecah karena lemparan bola, maka yang tertuduh pertama tentu anak saya. Kalau ada yang berisik di kelas, maka anak saya langsung dituduh jadi dalangnya…apapun yang tidak baik terjadi di pergaulan mereka, maka semua mata memandang dan menghukum anak saya pasti biangnya. Dalam masyarakat kita memang sudah tertanam keyakinan, bahwa keluarga bermasalah pasti akan melahirkan anak-anak bermasalah”.
Mata saya menerawang mengingat itu semua, ketika mendengar pengakuan seorang anak ‘psikologis’ saya tentang nasib pernikahan orang tuanya yang tidak berjodoh panjang.
“Nak sayang, ibu paham kenapa engkau menyembunyikan hal itu selama ini. Memang masih banyak di masyarakat kita yang berpendapat bahwa perceraian itu aib, yang tak layak diketahui orang banyak. Ibu mengerti mengapa dikau begitu tertutup ketika kawan–kawanmu bicara riang gembira tentang kejadian-kejadian lucu di keluarga masing-masing.
Setiap mengingat keluarga orang tuamu, mungkin itu adalah perih atas luka lamamu. Luka yang mungkin menjadi sebab kemurungan yang berkepanjangan. Karena itu dikau tak pernah tampil spontan, terlalu hati-hati dan tidak alamiah. Ibu juga tahu dikau seorang yang penuh ‘reserve’, susah memercayai orang lain.
Ibu membaca tentang ketakutan-ketakutanmu nak, kekhawatiran yang mungkin tak selamanya beralasan. Namun Ibu tak menampik, betapa di luar sana masih banyak orang tua yang melarang anaknya menikah dengan anak-anak yang tidak berasal dari lingkungan “Happy Family”. Banyak orang mungkin punya pengalaman buruk, betapa mudahnya perceraian dilakukan seseorang yang juga berasal dari keluarga korban perceraian. Kata-kata “Orang yang tidak punya komitmen, akan melahirkan anak-anak yang tidak punya komitmen pula”. Itu judgmental namanya. Tentu sangat menyakitkan, dan sangat tidak adil !! Seolah-olah pendidikan tidak mempunyai arti. Seolah-olah manusia tidak dikarunia akal.
Setiap kejadian memang akan melahirkan perilaku 2 versi saja secara garis besar. Yang satu menjadikan itu sebagai kebiasaan yang menyenangkan, ataukah sebaliknya.
Ada yang berpendapat, anak korban perceraian, biasanya dibesarkan dalam situasi penuh amarah, benci, dendam dan penuh intrik, dengki beserta sederetan konflik lain. Tak salah juga jika banyak yang melihat tokoh-tokoh ‘aneh’ yang penuh kebencian, bengis, berasal dari keluarga yang retak yang melihatkan potret ketidak elokkan itu setiap hari.
Ada pula yang punya pengalaman melihat anak korban perceraian menjadi orang-orang yang egois, tidak rela berbagi, tidak peduli dan mau-maunya sendiri. Mereka berkilah, jika si anak dididik sang Ibu, maka tak pelak akan diajarkan tentang tokoh perempuan yang mandiri, tidak butuh laki-laki. Dan yang dibesarkan ikut ayah, bisa jadi akan melihat sosok laki-laki sejati itu adalah laki-laki perkasa yang tak butuh wanita. Keangkuhan berbasis gender ini mungkin tentu saja ada.
Tapi mungkin pula tak banyak yang tahu, bahwa betapa banyak di luar sana, ayah-ayah dan Ibu-Ibu hebat nan penuh kasih sayang serta punya punya komitmen tinggi terhadap keutuhan keluarga, ternyata lahir dari keluarga tercabik. Pengalaman masa kecil itu justru membuat mereka terpacu menjadi lebih baik. Pengalaman buruk orang tua ia jadikan peringatan, agar melangkah lebih hati-hati.
Dan mereka yang memperjuangkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, tentu akan mensyukuri setiap pencapaiannya dengan merawatnya sehati-hati mungkin.
Tersenyumlah, dan cobalah tertawa lepas dengan mengaktifkan seluruh potensi otak kananmu.
Teruslah berjalan anakku…..
Siapapun jodohmu kelak, semoga ia adalah seseorang yang punya komitmen terhadap “Ketahanan Keluarga untuk membangun ketahanan bangsa”, seperti yang engkau cita-citakan itu. Dan percayalah ..tak ada ‘dosa’ yang diwariskan itu !!”.
(Tatty Elmir @September Ceria 2011
bagi saya anak-anak hasil broken home itu kehilangan pilihan untuk jadi orang “biasa-biasa”, yang tersisa hanyalah pilihan hancur/bermasalah atau sukses luar biasa. dan saya telah memilih dengan yakin untuk menjadi sukses luar biasa
By: Budi Andana Marahimin on September 15, 2011
at 7:50 pm
Great Bud, ‘broken home’ , tidak harus menjadi ‘broken people’
Tetap semangat nak. Hidup itu sedap..sedap sedap spt ‘tagline’ Budi bukan ? hehehe
We love You.
By: tatty elmir on September 16, 2011
at 7:05 am
iya bunda, terima kasih semangatnya, dan saya harus tidak mengulangi kesalahan 2 generasi beruntun diatas saya
, Insya Allah.
oh ya bunda, minal aidin wal fa idzin, mohon maaf lahir batin.
bunda maaf sebesarnya karena ngucapin sekarang, maaf ya bunda.
By: Budi Andana Marahimin on September 16, 2011
at 9:13 pm
Hai Bud, maaf lahir batin juga ya. Salam buat seluruh keluarga di Medan sana
By: tatty elmir on September 17, 2011
at 8:35 pm
Sepakat bunda. Broken home bukan alasan untuk menjadi broken people. Justru kita mendapat pelajaran yang berharga tentang keluarga.
Saya juga bbrpa bulan lalu sempat shock kalau mengingat ortu yang dulu bercerai, bahkan sampai saat ini belum bertemu ibu kandung.
Perasaan sakit itu memang ada, tapi hidup ini masih punya ribuan hal untuk membuat kita bersyukur…
trmksh sdh berbagi semangat melalui postingan ini bund..
By: shinta ardjahrie on September 17, 2011
at 7:24 pm
Bunda justru berterimakasih pada Shinta yang mau sharing, terutama dengan kata-kata bijaknya “Perasaan sakit itu memang ada, tapi hidup ini masih punya ribuan hal untuk membuat kita bersyukur”.
Duh nak, perjuangan untuk self healing dan meyakinkan diri sendiri itu tentu tak mudah. Bersyukur banget bunda membaca kearifan Shinta ini. Karena tak mungkin didapatkan dari orang-orang yang tidak pernah merasakannya. Semangat sayang, esok mentari akan bersinar lagi InsyaAllah
By: tatty elmir on September 17, 2011
at 8:34 pm
Salam kenal bunda.
Saya adalah anak yang tidak diharapkan lahir ke dunia oleh nenek dan kakek dari pihak ayah. Usia tiga bulan ortu cerai dan usia 2 tahun dibuang (diasuh nenek dan kakek) oleh ibu karena punya suami baru. Usia 12 thn saya sempat shock setelah nenek cerita semua dan usia 16 thn sempat terjerumus ke narkoba. Tapi life must go on. Alhamdulillah dengan optimisme, perjuangan dan pengorbanan sekarang hidup cukup untuk bs bertahan di ibu kota yg ganas. Bisa menjadi pns sambil kuliah dan menguliahkan 2 adik (tiri) serta rumah sendiri adalah pencapaian terbaik saat ini. Saya adalah korban dari keegoisan orang tua, tapi janganlah menjadi kerdil karenanya. Kuncinya adalah ikhlas lahir batin.
Terima kasih bunda untuk tempat berbagi cerita. Wassalam.
By: Agustinus Pratikno on December 22, 2011
at 7:14 am
Salam kenal juga Agus.
Sungguh terharu(sampai tak sadar meneteskan air mata) dan bersyukur bisa mendengar ceritamu nak..
Semoga ini dapat menjadi renungan kita bersama.
Terimakasih sudah berkenan mampir dan rela berbagi di sini. Semoga Yang Maha Kuasa senantiasa memberi kekuatan kepada kita semua di antara berbagai macam godaan & lemah yang menjadi tantangan kita.
Selamat berjuang meraih sukses.
Peluk semangat.
By: tatty elmir on January 1, 2012
at 8:15 pm
Salam kenal….
Saya punya cerita yang berbeda… sekian tahun saya bertahan dalam rumah tangga yang aneh…. kami saling menyayangi tp juga saling menyakiti…
saya produk dari single parent krn ayah saya meninggal ketika saya masih remaja…. dan ibu tidak pernah menikah lagi smp beliau meninggal krn kanker payudara tahun 2011 yg lalu…. saya tahu bagaimana sulitnya jadi single mom… dan tahu persis bgmn rasanya kehilangan figur ayah…
itu salah satu alasan utk tetap bertahan dalam kehancuran ekonomi, ketidakseimbangan psikologis, dan beban pengorbanan lain karena situasi rumah tangga kami…
beban menjadi makin berat ketika masalah makin runcing dan melibatkan aparat hukum…. saya menyerah… dan mulai berpikir utk bercerai saja… paman saya mengingatkan problem yg lebih besar yg mungkin akan muncul dgn perceraian itu… mengingat 3 anak saya masih remaja… mrk sedang dalam pencarian jati diri….
membaca tulisan ini membuka mata hati saya bahwa problem spt inilah yg mungkin akan sy hadapi kelak ketika memutuskan utk bercerai…. terimakasih atas tulisan ini….
namun jujur saja, dilema yg saya alami menjadi semakin panjang…. sulit memutuskan memilih bercerai atau tidak…. padahal keputusan ini menjadi langkah penting ke depan…. solusi sementara kami adalah separate, berpisah tanpa ada legalisasi… secara legal kami msh suami istri tp tinggal terpisah…..
saya tahu ini bukan solusi yg baik… tetap saja anak-anak mengalami problem yg sama dgn kondisi cerai… so kenapa tidak cerai sekalian yah? itu pertanyaan menggelitik dr hati kecil saya… krn dgn kondisi separate spt ini akan menutup kemungkinan ada pria baru dalam kehidupan saya yg mungkin saja membawa perubahan positif ke depan… hanya Tuhan yg tahu…
By: mayadewi on February 16, 2012
at 9:25 am
Terimakasih Mba Maya sudah berkenan berbagi. Membaca tulisan mba Maya, saya percaya Mba Maya adalah orang bijak dan penuh pertimbangan. Selamat berjuang mba, selamat meningkatkan daya tahan. Boleh peluuk ?
By: tatty elmir on February 16, 2012
at 4:52 pm
bunda, rasanya saya spt membaca kisah sendiri
ibu dan bapak bercerai saat saya masih kelas 5 sd, lalu sejak smp saya jauh dr orangtua, saya kos di ngawi sementara orangtua d jember. sulit untuk saya menerima semua ini, saat saya merasa punya segalanya lalu stlh mereka tdk bersama saya merasa nggak punya apa2. Ternyata bunda, proses itu adalah penguatan… saat org d luar sana selalu menyalahkan ibu dam bapak, mrk sll bilang kasian pada saya… dan saya menjadi lebih sakit saat byk yg memandang saya ini produk gagal dr kelg gagal yg bisa diperlakukan seenaknya.
Saya terus berusaha bertahan, akhirnya saya kmbl k jember saat sma. Tp saya nggak bs tgl dg org tua, saya ga mau memilih n menyakiti hati mereka. Saya tgl sendiri di rumah sendiri, benar2 sendiri. Tapi Allah benar2 saya sama saya, Allah memberikan kesempatan yg besar buat saya. Ternyata bunda, pengalaman hidup saya yg sndr dan dituntut untuk mandiri justru bisa mengembangkan diri saya… mengisi waktu dg menulis… dan saya pun bs bersekolah dr sma hingga kuliah dg jerih payah sndr, Alhamdulillah. Bukan krn bapak dan ibu tdk peduli dg saya tp karena saya mau membuktikan bahwa, “ini saya… dari keluarga broken home… tp saya bisa melakukan apa yg dlakukan oleh anak dr keluarga harmonis” Dan tnyt memang org2 mulai mengubah cara pandangnya ttg saya dan keluarga, lalu mrk mulai memuji kedua orangtua saya. Saya senang, karena orgtua saya menjadi kembali dihargai.
Bunda, Allah benar bahwa Dia tidak akan pernah memberi cobaan lebih dr kemampuan umatnya. Saya bangga punya ibu dan bapak, terlepas dr mereka sudah tidak bersama karena mereka sll melakukan yg terbaik buat saya.
Makasih bunda, tulisan bunda semakin menguatkan saya, saya nangis bacanya
By: alia on April 3, 2012
at 9:56 am
Go..go..goo Alia
By: tatty elmir on April 4, 2012
at 6:32 am