LOVE AT THE FIRST SIGHT VS : NUANSA BENING.
(Tatty Elmir)
Pekan lalu dalam perjalanan darat yang penuh semangat dan menggairahkan sepanjang Frankfurt- Spijkenisse, tak sengaja saya dan kawan-kawan mendengarkan lagu-lagu yang bertemakan cinta pada pandangan pertama dan sadar tak sadar mengikutinya bersenandung.
Dalam beberapa lagu garapan musisi lintas benua dan lintas jaman itu, saya dan dua orang kawan, serta suaminya yang sedang menyetir, menemukan kata-kata yang menarik untuk digunjingkan sepanjang siang hingga tengah malam. “Love at the first sight”, benarkah itu ada ?
Lalu kami berempat saling mengumbar beragam teori cinta, saling mengomentari, dan berlanjut dengan berbagai kisah mengenai pengalaman pertama bertemu jodoh. Jelas ini suatu topik seru yang bisa menghalau kantuk sembari bertlalala trililiii riang.
Tapi kami berempat sempat ngakak edan-edanan, ketika mendengar lagu “Ohya”, yang didaur ulang seorang artis Indonesia ternama, begini liriknya:
Sumpah mati padamu ku jatuh hati
Sumpah mati padamu ku jatuh cinta
Namun sayang ku tak sempat
Berkenalan denganmu dari hati ke hati
Lalu bicara cinta berdua
Sampai kini daku masih terus harapkan
Agar suatu saat ku berjumpa lagi
Semoga saja daku sempat berkenalan denganmu
Dari hati ke hati lalu bicara cinta berdua
Ingin ku mengejar seribu bayangmu
Namun apa daya tangan tak sampai
Memang benar apa kata pepatah
Kalau jodoh tak lari kemana duhai kekasihku
“Lho, belum berkenalan, namanya saja belum tahu, apalagi kepribadiannya dan segala macam tetek bengek tentang dia, kok bisa-bisanya jatuh cinta?”, komentar sahabat saya yang Indonesia aseli dengan sederet kepantasan ‘rasa’ ala timurnya.
“Hahahaa belum kenalpun sudah diklaim sebagai kekasih hati”, celutuk yang satunya.
“Mungkin itulah yang dinamakan cinta gila, buta dan rasa-grusu”, balas saya sok-sok’an
“Bukan cinta, suka sekedar nafsu tepatnya”,
“Ini lagu benar-benar mencerminkan gaya hidup masa kini, serba instan”, protes kawan pertama.
“Lagu cermin budaya di masanya”, ungkap kawan yang lain, yang dibesarkan dalam kultur Belanda meski berdarah Jerman-Tionghoa, seraya tersenyum-senyum penuh arti.
Serasa déjà vu, pagi ini ketika pulang mengantarkan anak sekolah, sembari menyetir suami saya mendendangkan lagu “Nuansa Bening” yang ditulis musisi Keenan Nasution di tahun 1970an. Mendadak sontak saya lalu teringat peristiwa hangat yang baru saja terjadi pekan lampau.
Kami juga kembali mendiskusikan lirik lagu yang baru didengar dan kami ikut senandungkan. Kali ini topiknya sama, meski dalam formasi lirik lagu pemantik diskusi, berbeda dengan nilai-nilai yang berseberangan dengan lagu yang saya dengar pekan lalu itu.
Oh..tiada yang hebat dan mempesona
Ketika kau lewat di hadapanku
Biasa saja…
Waktu perkenalan lewatlah sudah
Ada yang menarik pancaran diri
Terus mengganggu
Mendengar cerita sehari-hari
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan
Reff :
Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku
Oh, tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja…
Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi
Dirimu nuansa-nuansa ilham
Hamparan laut tiada bertepi
Back to Reff
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercinta
“Nah ini baru yang dinamakan cinta sejati….perjalanan panjang sebuah rasa yang agung mulia, setelah melalui suatu proses panjang, bukan sesuatu yang instan. Tak ada cinta pada pandangan pertama bukan?”, ujar saya sok tahu sembari membayangkan suasana hati Keenan Nasution ketika menciptakan lagu dan lirik Nuansa Bening yang dilagukan si abang sembari bermain drum yang dikasetkan tahun 1978 itu. Apakah ini berkaitan dengan kisah cinta penuh liku si abang yang masih bujangan ketika ketemu mba Ida yang saat itu sudah menjanda dan beranak pula ? Apakah ini mewakili kisah cinta puritan, nan suci, nan klasik sepasang manusia yang sholeh dan sholehah ?
Pertemuan pertama tak punya kesan apa-apa, lalu perkenalan berlanjut menjadi kawan, terus menjadi lebih dekat dan kian dekat, kemudian meningkat lagi dari kawan biasa menjadi sahabat. Nah baru setelah itu muncul ‘rasa istimewa’ karena kehebatan buah pikir, cara pandang, visi misi dan gaya hidup, keelokan intelektual, emosional serta kekuatan spiritual dan semua kelebihan potensi diri biasanya baru terungkap setelah kita mengenal seseorang cukup lama dan dekat bukan ?.
“Jangan gitu say….cinta itu rahasia sebuah hati. Panah asmara itu tak mengenal jalur yang baku, ia bisa datang tanpa diundang dalam waktu dan tempat yang sangat rahasia dan tak terduga, jangan membuat kelas, batas dan stereotyping begitu”, protes suami.
“Idiih, ketertarikan pada pandangan pertama itu sesuatu yang materialistik, physically banget kali, itu tak terbantahkan”
“Tapi faktanya pula, mata condong kepada yang elok rupawan, yang mudah terlihat, sesuai kata pepatah lama, dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kali, dari mana datangnya cinta …..dari mata turun ke hati hahahahaaa”, suami tercinta tak mau kalah.
“Pastinya itu bukan sesuatu yang agung, tapi sesuatu yang mudah, murah, dangkal, dan tentulah instinktif semata”
“Tapi kalau ledakan suka itu setelah melalui masa ‘inkubasi’ yang cukup lama dan lewat proses perenungan yang tidak instan, apakah itu pasti sesuatu yang hina?”, suami lalu menjelaskan tentang cara kerja otak lelaki dan perempuan dan berbagai teori kristalisasi yang tidak mudah dimengerti.
Sampai di rumah diskusi berlanjut, bisa dipastikan ikut nimbrung seisi rumah yang lain.
“Love at the first sight, kesannya animal instink memang, tapi tau ga Ma..suamiku ngakunya begitu…tapi terus dia memprosesnya kan, memperjuangkan, katanya semakin kenal semakin yakin, karena masuk pertimbangan lain-lain yang kian menguatkan rasa itu, emang salah ya ?”.
“Papa juga kok, ketemu mamamu waktu pertama kali itu sudah suka”
“Hahaaa kesimpulannya, laki-laki itu lebih peka animal instinknya”, celutuk yang lain.
Entah kenapa diskusi kami lalu mencontohkan perjalanan kisah cinta Fajrin dan Amy, pasangan penganten baru di FIM yang menikah 25 September lalu. Pada awalnya mereka hanya kawan biasa sesama mahasiswa satu jurusan di ITB terus meningkat jadi sahabat dan diam-diam saling mengagumi, terus berlanjut ke tahap sama-sama saling suka.
Bedanya, kalau si gadis hanya memendam di lubuk hati terdalam, tapi sang lelaki muda itu (Seperti kisah para jagoan dan pejuang tangguh lainnya) lalu berani menghadapi kenyataan, termasuk ditolak, serta resiko apapun dengan mengekspresikan kepada suatu tindakan nyata yang halalan toyiban, yakni melamar si gadis, (bukan “Menembak” lho yaa) hahaaa.
Kembali ke topik “Love at the first sight versus Nuansa Bening”, saya kok sampai sekarang masih kukuh dengan pendapat, bahwa cinta itu sejatinya adalah sesuatu rasa ‘istimewa luar biasa’, yang agung, yang mulia, yang tidak mudah hadir, karena tidak akan mudah pula sirna. Ia adalah perpaduan sempurna antara rasa yang dalam disertai tanggung jawab hebat. Jadi manalah mungkin bisa hadir dalam sekejap ?
Tapi saya setuju dengan pendapat, bahwa tempat di mana cinta itu hadir untuk yang pertama kali itu sesungguhnya juga bisa merepresentasikan sosok diri si empunya cinta. Kalau seseorang yang sholeh, intelek, berkelas, tentu akan bertemu cintanya di tempat-tempat terhormat, di tempat beraktivitasnya orang-orang se’kufu’, sederajat. Begitu juga sebaliknya.
Sangat tidak masuk akal (meski dunia sarat deviasi), bagaimana mungkin orang yang tidak berpendidikan, dan tidak pernah bergaul dengan orang-orang terpelajar, mengkhayalkan berjodoh dengan kalangan intelektual?.
Saya sering tersenyum sendiri membenarkan celoteh anak muda yang mengatakan, kalau ingin mendapatkan jodoh yang berkualitas, maka jangan lupa tingkatkan kualitas diri sendiri dulu. Mau dapat laki-laki sholeh? Maka jadilah perempuan sholehah dulu. Mau dapat gadis terhormat?, maka jadilah pemuda yang menjaga dan memuliakan kehormatan dulu.
Jangan pernah bermimpi punya pasangan yang sholeh/sholehah, kalau diri sendiri tidak suka beribadah, tidak cinta kebajikan, dan tidak pernah hadir di tempat para orang sholeh/sholehah beraktivitas.
Ketika hendak mengakhiri tulisan ini, seorang calon ibu muda yang tengah ditinggal suami tercintanya yang mengais peruntungan jauh di seberang benua sana, diam-diam menikmati dengan seksama diskusi meja makan orang tuanya seraya mendendangkan Nuansa Bening itu ……
“Kini terasa sungguh
Semakin engkau jauh
Semakin terasa dekat
Akan ku kembangkan
Kasih yang kau tanam
Di dalam hatiku……..”
(Pagi nan indah di awal Oct 2011.)
bunda..as always, mengalir tanpa menggurui dan selalu mengetuk hati.
khop khun na kha bunda… ^_______^
By: Tika fim 7 on October 3, 2011
at 8:33 pm
Terimakasih Tika sayang
By: tatty elmir on October 4, 2011
at 7:10 am
Bundaa…ijin buat dishare yaa…menarik ni buat anak muda ehehehhehe
By: Ophie on October 3, 2011
at 9:28 pm
Monggo Ophie. Semoga bermanfaat
By: tatty elmir on October 4, 2011
at 7:10 am
bunda, bagaimana kalau saya berharap mempunyai pasangan yang lebih shaleh dari saya
By: Budi Andana Marahimin on October 3, 2011
at 11:26 pm
Bagus dong Bud. Kata kakak fasil Budi, berupayalah agar lebih sholeh dan teruslah bergaul, beraktivitas dengan kelompok yang sama
By: tatty elmir on October 4, 2011
at 7:09 am
By: Budi Andana Marahimin on October 4, 2011
at 12:28 pm
Ikut nimbrung ah…
mau ngutip kata2 -Kahlil Gibran- yang ada di buku Jalan Cinta Para Pejuang [Ust. Salim A. Fillah]
Jangan kau kira cinta datang
dari keakraban dan pendekatan yang tekun
cinta adalah putera dari kecocokan jiwa
dan jikalau itu tiada
cinta takkan pernah tercipta,
dalam hitungan tahun, bahkan millenia
———————————————————–
@bang budi: sekedar mengingatkan
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).” [QS. An-Nur: 26]
By: Gilang Adhitya on October 4, 2011
at 9:39 pm