CATATAN PERJALANAN
MELONGOK DAPUR JFF – INSTITUT FUR MEDIENPADAGOGIK DI MUNICH
Dear sahabat,
Anda prihatin dengan tayangan media yang kian hari kian tidak ramah anak dan keluarga ?
Jangan gusar, jangan pernah berputus asa. Percayalah, anda tidak sendirian. Saya juga merasakan, bahkan pernah diteror dan mengalami berbagai bentuk tindak kekerasan sebagai konsekuensi dalam memperjuangkan hal itu. Tapi InsyaAllah itu semua tidak menyurutkan langkah, malahan semakin terpacu, ditambah lagi dengan asupan energi dari berbagai pihak yang kian hari kian menguat
Bukan hanya di negeri ini. Keprihatinan itu rupanya kini terus bergulir dan tentunya akan menjadi suatu kekuatan besar jika kita bersama dapat bergandeng tangan, bahu membahu untuk memperjuangkan suatu nilai-nilai yang kita yakini. Tak dapat dipungkiri, dunia memang tengah dihadapi persoalan yang sama.
Menjelang akhir bulan lalu, saya beroleh kesempatan memenuhi undangan untuk mengikuti workshop Media Literacy di kota tenang Munich.
(* Terimakasih atas kemurah hatian dan perhatian KPI serta Depkominfo yang telah memudahkan semua langkah)
***
BELAJAR DARI 60 TAHUN PERJUANGAN JFF- INSTITUT FUR MEDIENPADAGOGIK DI MUNICH.
JFF–Adalah Institut untuk riset media dan pendidikan media.
Pada awalnya JFF sebagai mana kepanjangannya Jugend Und Film, didirikan pada tanggal 21 Desember 1949 di Munich, hanya berbentuk untuk sebuah proyek yang dirancang melakukan kajian di bidang pemuda dan film.
Namun beberapa tahun kemudian mereka menyatukan langkah dengan sebuah lembaga penelitian yang punya mimpi sama. Lembaga tersebut adalah “Wissenschaftliches Institut für Jugendfilmfragen”.
Pada tahun 1976 keduanya bergabung untuk menjadi Institute untuk Pemuda, Film dan Televisi (“Institut Jugend Film Fernsehen”), JFF merupakan lembaga tertua di Jerman, menggabungkan media pendidikan dan media penelitian.. Meskipun masih dikenal dengan nama JFF judul resmi baru adalah JFF – Institut untuk media penelitian dan media pendidikan alias Institut für Medienpädagogik in Forschung und Praxis
JFF ini didukung oleh asosiasi nirlaba JFF – Jugend Film Fernsehen Ev. Para anggotanya bekerja di semua bidang riset media, dan pendidikan media. Mereka merancang pendidikan aktif dan memproduksi bahan ajar untuk sekolah dan di kampus-kampus berbagai perguruan tinggi. Mereka tidak hanya dari Jerman, tetapi beroperasi di seluruh Eropa.
Ketua Dewannya adalah Profesor Dr Bernd Schorb, Direktur dari Institute Demmler Kathrin dan Dr Ulrike Wagner. Dalam operasional, Kathrin Demmler – bekerja sama dengan Gunther Anfang – dari departemen pendidikan media praktis dan Dr Ulrike Wagner yang bertanggung jawab memasinisi departemen penelitian.
Wilayah kerja lembaga ini merata seluruh Jerman. Kehadiran mereka ditopang dan dibiayai oleh negara, terutama oleh subsidi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bavarian. Proyek juga didanai pada tingkat lokal oleh lembaga-lembaga publik seperti media milik pemerintah/negara. (“Landesmedienanstalten”).
Lembaga di atas ini bertanggung jawab untuk pengaturan program TV komersial dan penyiaran atau “KPI”nya Jerman.
Pekerjaan Institute tidaknya berfokus pada TV, video film, dan radio, tetapi juga pada teknologi komputer dan world wide web. Perkembangan baru dibahas dan diteliti dalam konsekuensi nyata mereka dan menjadi sesuatu yang krusial bagi pertumbuhan remaja.
Salah satu tujuan utama dari JFF adalah menghubungkan hasil penelitian ilmiah untuk pendidikan media praktis.
Penelitian mereka merupakan acuan dasar untuk pengembangan model pendidikan dan proyek-proyek yang kemudian dimasukkan ke dalam praktek – dalam bekerja dengan anak-anak, baik di dalam maupun di luar sekolah. Mereka juga bahu membahu dengan remaja, orang dewasa dan para orang tua.
Di sisi lain kerja praktis media, memiliki dampak yang sama pentingnya pada penelitian ilmiah.
Salah satu daerah yang paling penting dari penelitian JFF, adalah menjawab pertanyaan masyarakat, perihal tayangan tak layak, seperti pornografi dan kekerasan di media berikut bagaimana dampaknya pada anak dan remaja.
Yang paling penting, lembaga ini adalah institusi yang paling peduli di Jerman, atas segala sesuatu yang berurusan dengan dampak buruk media, terutama perlindungan akan hak anak yang kini kian tereksploitasi oleh kepentingan pebisnis media semata.
Karena itu JFF secara rutin memberikan rekomendasi untuk berbagai pemangku kebijakan publik.
Di bidang media praktis, JFF memanggul tanggung jawab utama dalam mendukung produksi media aktif di kalangan anak-anak dan remaja. Pelatihan berlangsung terus menerus untuk guru dan pekerja muda guna melayani tujuan yang sama, meningkatkan kesadaran akan pentingnya media literacy dan media edukasi.
Karena itu JFF lewat pertemuan ini juga menawarkan kesempatan pendidikan kepada relawan peduli media sehat di Indonesia yang selama ini giat melakukan pekerjaan yang sama di Indonesia, seperti MTP, Forum Indonesia Muda (FIM), dan ASA Indonesia.
Sebagaimana mestinya, perjuangan menegakkan hak-hak masyarakat terhadap konsumsi media, bermuara pada kegiatan membuat konten media sehat itu sendiri. Nah JFF juga demikian, mereka menawarkan berbagai publikasi pada semua topik media. Publikasi ini dimaksudkan juga untuk merangsang dan memback up segala kegiatan inovatif pendidikan media, atau yang kerennya biasa kita sebut sebagai counter culture.
. Dalam pratek kesehariannya, perjuangan JFF antara lain diwujudkan dalam pelayanan :
• Workshop, seminar, presentasi dan lokakarya
• Penelitian dan keahlian Media
• Konsultasi perihal Media
• Memberikan informasi seputa riset media dan media literacy dalam praktek keseharian.
• Merekomendasikan Film-film yang layak tonton.
• Produksi bahan audiovisual
***
Dear sahabat,
Tertarik menjadi relawan media edukasi ? yuk kita mulai dari rumah masing-masing.
Langkah awal adalah Kritisi media :
- Ajak seluruh anggota keluarga untuk menyeleksi sendiri media mana yang layak dikonsumsi.
- Biasakan dengan cerdas menangkap dan mendiskusikan dalam keluarga tentang PESAN TERSAMAR, maupun NYATA setiap tayangan. Jangan begitu saja percaya pada judul jualan media baik yang bertitel berita maupun pendidikan yang menginspirasi. Sama halnya dengan iklan rokok, mereka senantiasa mengabarkan bahaya rokok, namun sesungguhnya yang dijual adalah rokok itu sendiri.
- Kemudian lanjutkan dengan memberi pendapat pada visi misi media yang menjajalkan berbagai info kepada kita. Apakah tayangan itu hanya sekedar corong kepentingan suatu kelompok semata ? Cari tahu kepentingan politik dan bisnis kelompok mereka. Lalu sikapi produk mereka.
- Tuliskan uneg-uneg dan pelanggaran yang mereka lakukan di berbagai media(termasuk sosial media), dan laporkan kepada lembaga yang bertanggung jawab melindungi masyarakat dari tayangan media. ( di Indonesia dikenal dengan nama Komisi Penyiaran Indonesia)
- Mari menjadikan keluarga dan diri kita manusia yang merdeka dari penjajahan nilai-nilai yang merusak
Semoga kepedulian kita menjadi langkah awal untuk menghadirkan media yang ramah dan sehat untuk anak dan keluarga di seluruh penjuru dunia.
)

Nadine Trine Apfelsine Kloos & Niels Bruggen petinggi Flimmo, salah satu divisi JFF yang menangani urusan tontonan anak..

Untuk menopang aksi counter culture itu, mereka mencari dana dengan menyediakan jasa penyewaan peralatan multi media. Dengan Christ sang komandan.
***
Karena udara adalah milik masyarakat banyak, maka tak ada yang boleh merusak, menggunakannya dengan semena-mena.
“Katakan tidak” pada asap rokok dan polusi udara lainnya.
Tidak juga untuk frekuensi gelombang radio,televisi dan internet yang merambat di udara, ruang angkasa itu yang kini sudah tak lagi ramah keluarga.
Masyarakat harus kritis ! Karena merekalah sesungguhnya yang berkuasa atas diri mereka sendiri. Jadilah masyarakat yang berkehendak.Kita yang berhak menentukan sendiri, bacaan dan tontonan apa yang sehat dan layak untuk dikonsumsi keluarga kita.
Mari menilai sendiri, apakah tontonan yang dijejalkan ke rumah kita itu layak dan sehat untuk dikonsumsi ? Bagaimana dampaknya terhadap perkembangan si buah hati ?
Yuk saling mengingatkan betapa pentingnya untuk belajar Media Literacy dan media pedagogik.
(Pesan dan semangat dahsyat workshop Media Literacy di JFF Munich yang sudah 60 tahun berjuang mencerdaskan umat dan menyelamatkan generasi muda dari dampak buruk media )
-
-
-
Yosi MolinaTFS tante… Oleh2 yg berharga nih.13 October at 17:34 · Like -
Tatty ElmirTerimakasih Mol.Semoga tetap semangat meniti jalan juang yang diyakini itu
13 October at 19:43 · Like -
Yosi MolinaAamiin..13 October at 19:52 · Like -
Imam Choirul RoziqinSangat mencerahkan bunda .. Ini salah satu hasil diskusi kita waktu dimobil kan ya bareng om elmir.. sebentar lagi kita realisasikan bunda mengenai literasi media nya, kami semua siap bantu bunda..
14 October at 11:30 · Like -
Mierza Darsya Putrabun… ada lg kan workshopnya? Asa Muda doong… giliran ginian aja baru ngaku2 deh… hihihi15 October at 14:06 · Like -
Agung Baskoro Fullwah..makasi Bunda oleh2nya. kalau ada yang lain, masih ditungguin koq:) mungkin kelupaan..hihi..sepertinya Hariqo Wibawa Satria mesti juga membaca, beliau di KPI Bunda, mungkin banyak action plan yang bisa beliau kondisikan.mungkin bisa juga di materi FIM 11 ada sesi khusus Bun, sekalian dengan bahaya pornografinya, biar anak2 FIMnya bisa memasifkan ke daerah2.
agung izin share note bunda ke Agung Baskoro II, semoga rekan-rekan di sana di account tersebut juga bisa membaca tulisan Bunda
16 October at 03:08 · Unlike ·
1 person
-




Bunda, izin copy untuk di blog saya! Tentang JFF- INSTITUT FUR MEDIENPADAGOGIK DI MUNICH. Bisa tidak bunda?
By: Wawan Kurn on November 7, 2011
at 7:32 pm
Tks. Silakan Wawan. Semoga dapat menebar manfaat.
By: tatty elmir on November 7, 2011
at 8:25 pm