Posted by: tatty elmir | October 14, 2011

Forever Amish

Yuk Mencari Kearifan  Sampai Ke Negeri Amish

Ketika berada di Jerman kemaren, saya dan kawan saya sempat berdiskusi tentang gaya hidup. Entah kenapa ujung-ujungnya kami saling berbagi pengalaman tentang petualangan ke negeri-negeri yang tidak biasa. Dan bisa ditebak, saya akan dengan bangga menceritakan pengalaman berkunjung ke Amish. Yang membuat saya sakit perut memburai tawa, Stefan Bremerich nama kawan saya seorang  Land Lord tersebut tiba-tiba bertanya begini dengan entengnya “Kenapa kamu tertarik dengan Amish? Bukankah di puncak gunung dan di desa-desa di Indonesia  masyarakatnya juga hidup tanpa teknologi?”. Aduuuh Stefan maksudmu bukan untuk menghina negeriku kan? :(

*****

Sejak kecil saya selalu mendekap erat di dalam dada,  impian untuk berkelana hingga ke ujung dunia yang tak tampak dalam pandangan mata mata, tatkala sejauh-jauh mata menatap lautan atau angkasa yang membentang luas. Pernah tergila-gila dengan Tibet, gara-gara Ibu dan kakek saya penyuka Sufistik dan menurunkan kekaguman tentang Ibu Adawiyah. Mereka dulu suka mendongeng tentang negeri di awan, yang indah, tenang dan damai. Lalu ketika kian sering membaca negeri-negeri yang ‘aneh’ setelah menginjak remaja, maka saya punya referensi baru, yakni negeri Amish.

Jika dalam motivasi pendidikan terkenal  ungkapan  ” Tolabul ilmi walaukana Minal bishin ” Carilah ilmu sampai ke negeri Cina ”, maka sayapun  punya tekad  ” Carilah ilmu sampai ke negeri Amish ”. Saya tak peduli dengan kontroversi ungkapan tersebut yang diyakini sebagian orang sebagai hadist, atau sekedar kata-kata mutiara saja, dan sebagian lagi  menyebut hadist dengan kualitas ” Dhaif Syadid ” ( Sangat lemah ). Bahkan ada  yang beranggapan bahwa itu ” Maudhu ” atau palsu. Atau  ada pula ahli dengan menyertakan argumen dan bukti-bukti bahwa ungkapan tersebut dinyatakan hadist oleh perawi fasiq…. Ah… saya  memang tak pernah berminat terombang ambing dengan berbagai pendapat yang membingungkan itu. Karena itu saya pribadi lebih aman menyebut ungkapan itu sebagai kata-kata bijak untuk melecut orang agar bergerak…berjalan…mencari ilmu hingga ke ujung dunia sekalipun.

Mimpi saya  bukan ke negeri Cina, tapi ke Amish. Ya… ingin membuktikan kebenaran buku, cerita dan film-film yang telah menyihir kesadaran selama ini, dan menarik-narik langkah untuk datang.  Benarkah di pusat hiruk pikuk modernitas ada tatanan kesederhanaan yang mengabaikan kemanjaan modernitas itu sendiri ? Bagaimana mungkin kita bisa belajar zuhud di pusat pusaran  kenikmatan duniawi yang memabukkan itu ?

Setelah demikian banyak jalan berliku yang dilalui, kawat berduri yang dilangkahi, sekian lama, sekian upaya, akhirnya datang juga hari yang dinanti-nanti. Ketika saya tengah mendapat  undangan untuk belajar Radio journalism  ke Philadelphia waktu muda dulu, maka impian ke Amish tinggal selangkah. Ahay senangnya :)

***

Suatu pagi nan cerah, saya numpak sepur Amtrak ke Lancaster yang masih dalam kawasan negara bagian Pennsylvania. Sesampai di lancaster saya dan seorang kawan yang menemani mencari Eavesdropper si rumah ajaib, simbol mawar merah itu. Konon dari Eavesdropper dulu orang bisa memantau suara yang berlalu lalang di east King Street. Sayang..karena niatan saya ke Amish sudah sangat meledak, maka segala  keunikan rumah yang didirikan tahun 1100 yang berasitektur khas itu, luput dari perhatian. Baru setelah pulang ke tanah air, saya merasa menyesal :(

Lancaster yang berasal dari bahasa Inggris Lancashire, pernah menjadi Ibukota Amerika, meski hanya sehari,  ketika kongres kontinental pemerintah kolonial pada bulan September 1777 ditarik dari Philadelphia untuk melarikan diri dari pasukan Inggris, sebelum pindah ke York Pennsylvania.

Malam-malam sebelum keberangkatan ke Lancaster, di tempat saya tinggal, penginapan Divine Tracy (*Baca postingan Divine Tracy di blog ini) beragam pertanyaan dan keingin tahuan kian meledak di dalam dada.  ”Mengapa orang Amish mengharamkan listrik ? Ada rahasia apa dengan keteguhan mereka ? Bagaimana mereka bisa survive dengan pola hidup ala kadar ? Bagaimana pemerintah merespon pola hidup mereka yang terkadang bertentangan dengan kebijakan pemerintah ?  dan segudang rasa ingin tahu yang lain.Petualangan pertama saya diarahkan kawan yang menemani mengunjungi perkampungan Amish moderen. Perkampungan Amish persis suku Baduy, ada Baduy luar dan ada Baduy dalam. Tapi terus terang saya lebih tertarik  dengan gaya hidup Amish sekte ” Old Order ” alias Amish kuno. Memang di sini terdapat 25 kelompok Amish mennonites dan kelompok gereja Brethren di Lancaster County. Kelompok Amish di Lancaster adalah kelompok terbesar dibanding suku serupa di daerah Ohio dan berbagai daerah lain di Amerika.

Meski berbeda sekte, tapi secara umum pandangan hidupnya sama. Ideologinya berbasis pada kitab suci dengan mengedepankan spirit Glassenheit atau ketenangan, yang bermakna juga sebagai kepasrahan kepada Tuhan. Dengan kepasrahan inilah terbentuk dasar penolakan terhadap modernitas. Karena ciri dunia modern adalah “ Sadar pencitraan “, sedang hawa pencitraan  membuat segala sesuatu menjadi high profile, bertolak belakang dengan ciri kesederhanaan dan kerendah hatian mereka ( Demut ).

Terkadang saya meraba-raba, apakah seperti ini juga ekspresi kezuhudan Ibu Rabi’ah al Adawiyah ? Tokoh zuhud Islam yang amat saya takjubi itu ? Ibunda Rabi’ah yang telah menginspirasi banyak orang yang masyuk dalam pusaran kenikmatan taqwa, atau mungkin juga sekedar frustrasi akan dunia.? Ibu Rabi’ah yang telah menghabiskan waktu sepanjang hidupnya untuik beribadah, melatih jiwa raga untuk mengamalkan segala kebajikan, menutup pintu rapat-rapat untuk syahwat.

Nah, masyarakat Amish juga membatasi syahwat, semua kenikmatan ragawi, meski tidak mengenal selibat.  Karena itu kebutuhan mereka tidak banyak. Tidak kemaruk menghimpun kekayaan.  Semua yang dikenakan, baju, sepatu, topi, alat-alat pertanian, dan semua basic need juga mencitrakan kesederhanaan.

Orang Amish juga dikenal cinta damai, karena itu mereka tak mengenal perang dan menolak untuk ikut wajib militer. Masyarakat Amish memang sangat resisten dengan setiap apapun yang berbau militer, termasuk kumis. Ya laki-laki Amish selalu mencukur kumisnya karena kumis identik dengan militer.  Bahkan kancing baju, juga termasuk yang haram dikenakan, karena kancing baju juga  mengingatkan mereka pada seragam milter.  Itulah sebabnya  jas orang Amish hanya menggunakan pengait.

Banyak yang mengatakan bahwa masyarakat Amish adalah masyarakat tertutup dan tidak suka berinteraksi dengan turis. Namun pemahaman itu terbantahkan mana kala saya beruntung bisa berkenalan dengan pemuka agama Mennonite di Lancaster dan beliaulah  yang mengajak saya berkeliling. Mennonite, adalah bagian dari aliran Anna Baptist. Amish  merupakan pecahan Mennonite waktu pecah revolusi di tahun 1693.

Begitu menghirup udara Amish, pemandangan lalu berubah drastis. Mobil-mobil sangat jarang ditemui, kecuali mobil para turis. Yang kita temui adalah transportasi ala Amish nan unik. Namanya buggy. Buggy adalah kereta yang ditarik dua ekor kuda yang sangat gagah. Kereta kuda  yang beratap hitam itu berbunyi pletak-pletok di jalan desa beraspal. Tak ada karet yang melapisi roda, sehingga bunyi roda sangat nyaring dan tak bisa berlari kencang. Menurut kawan saya itu hal ini disengaja orang Amish, untuk membatasi sendiri keinginannya untuk bepergian. Mereka berpendapat, bepergian akan membawa mereka jauh dari nilai-nilai yang mereka anut.

Transportasi sederhana ala Amish (by Tatty Elmir)

Kami berkali-kali melewati jembatan kayu khas Amish yang ada atapnya. Jembatan kayu ini merupakan salah satu simbol kedekatan Amish dengan alam. Mereka meyakini berasal dari alam, hidup menyatu dengan alam dan akan kembali berpulang ke alam. Filosofi ini tercermin kuat dalam tananan hidup keluarga yang mengharamkan kontrasepsi. Mereka meyakini bahwa anak adalah titipan dan kekayaan alam. Berbeda dengan masyarakat perkotaan yang individualis. Masyarakat Amish  berorientasi pada tatanan yang anti indivualis, seirama dengan paham anti teknologi .

Semangat gotong royong dan anti individualisme (credit : http://minimediaguy.org/2007/02/21/the-amish-approach-to-new-media/)

Teknologi menurut mereka telah mengeliminasi peran manusia. Teknologi membuat masyarakat menjadi sombong, tidak tergantung satu sama lain, dan akan menjauh dari struktur masyarakat pertanian tradisional yang humble penuh penghambaan. Konon inovasi moderen memicu persaingan status dan memupuk kesombongan diri.  Bahkan foto pun bagi mereka  juga bagian struktur dari kesombongan diri, pemujaan terhadap diri sendiri. Hahaaa saya merasa dicubit, dan setelah itu agak menahan diri untuk tidak terlalu banyak jeprat-jepret.

Sepanjang perjalanan kawan saya bercerita tentang  Jacob Amman, pimpinan Amish generasi pertama di Jerman. Pantesan saya mendengar orang-orang di Amish berbahasa Inggris berdialek Jerman Swiss. Bahasa Jerman sendiri menjadi bahasa pengantar dalam beribadah, termasuk dalam kebaktian di rumah-rumah orang Amish.

Pak pendeta yang menemani kami itu juga bercerita tentang aturan gereja orang Amish yang disebut Ordnung, yang harus dijalankan setiap anggota, seperti larangan menggunakan barang-barang elektronik, telepon, musik, mobil, dan aturan berpakaian.

“ Kenapa dilarang ? “,  tanya saya sok penasaran, karena sesungguhnya sudah tahu banyak tentang gaya hidup orang Amish dari bacaan-bacaan yang telah membuat saya tergila-gila selama ini.

“ Karena semua barang-barang itu symbol kenikmatan duniawi “, jawab pak tua.

“ Salahnya di mana ? “

“ Semua akses yang membawa kepada kenikmatan duniawi, merupakan ancaman terhadap kehidupan gereja dan ketahanan keluarga “

“ Terus kalau musik salahnya di mana ? “, tanya saya lagi

“ Sama saja, musik juga termasuk media yang membawa imajinasi terbang, menyongsong kenikmatan yang melenakan, mendekatkan pada duniawi dan menjauh dari  Tuhan  “

Diam-diam saya membatin, bagaimana kalau musik-musik dengan lirik yang membawa pesan Tuhan. Karena menurut saya, musik sebagaimana kesenian lain, adalah media efektif penyampai nilai-nilai.

Di Amish ini, kalau ada anggota gereja yang melanggar aturan, maka tetua adat di sana akan memanggil dan kelompok mereka akan menyidang rame-rame.  Mereka menyebut “to confess before the congregation “ Jika pengakuan di depan jamaah itu tidak membuat pelaku jera, maka pelaku akan dikucilkan, tanpa mempermalukan.

Kekerabatan adalah sesuatu yang sangat penting  bagi masyarakat  Amish. Mereka menggarap lahan pertanian yang luas sampai membuat rumah tinggal, dilakukan dengan bergotong royong. Saya juga sempat melihat kegiatan di balai lelang Amish, bagaimana kekerabatan itu terpupuk. Mereka demikian guyub. Untuk yang ini saya betul-betul ngiri habis…..sudah menjadi sesuatu yang langka di Jakarta.

Balai Lelang Amish (by : Tatty Elmir)

Pakaian sederhana ala Amish (credit : http://stoppodcastingyourself.blogspot.com/2008_04_01_archive.html)

 

Seumur hidup, tentu saya tak akan melupakan kunjungan ke negeri Amish ini. Saya bersyukur dan tak henti-hentinya bertasbih memuji Tuhan sepanjang perjalanan di dalam kereta pulang menuju ke Philadelphia.

Berpetualang di negeri Amish tak sengaja sekaligus mereka telah mengajarkan saya tentang zuhud dalam kerangka iman yang berbeda. Di sini semua orang berorientasi pada penghambaan, bukan dihambakan.

Masyarakat Amish telah mentransfer begitu banyak spirit  kesederhanaan, percaya diri, ketaatan pada agama, kerendah hatian, kemandirian dan banyak lagi kearifan Amish yang mungkin dicibirkan mata kosmopolit. Tapi bagi  saya, itu adalah suatu prestasi suatu kaum yang membanggakan. Terlepas dari setuju atau tidaknya saya terhadap beberapa nilai mereka, namun saya sangat  menghargai perbedaan itu. Mereka telah menginspirasi dan patut kita  apresiasi akan keteguhan mereka semua, karena keteguhan memegang prinsip/nilai-nilai adalah sesuatu yang sudah luntur di luar sana.

Semoga nanti, entah kapan saya bisa kembali ke sana. I love you Amish :)

Amish Village, i'll be missin' you (credit : http://www.igougo.com/journal-j24863-Lancaster-Beautiful_Amish_Country.html)

*Pengalaman berkunjung ke Amish ini telah menginspirasi salah satu bab di novel KEYDO :)


Responses

  1. Bunda tatty, sbnarnya di indonesia ndiri sudah ada suku badui dalam, trz yang membedakan secara mendasar antara Amish’s people dan org2 badui apa?? hehehehe jdi penasaran pengen liat lsg org2 Amish

    • Kultur tentu. Tapi beberapa nilai-nilai mereka kurang lebih lah :)

  2. aaa..jadi semakin ingin menjelajah, melihat keanekaragaman budaya dan kebesaran Allah, semoga kan ada kesempatan,
    terima kasih bunda atas postingannya :)

    • Terimakasih kembali Ecky. Selamat menjelajah :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 52 other followers