Posted by: tatty elmir | January 9, 2012

Andai Kita Bisa Mengintip Tabir Jodoh Itu


 

Wajah X sahabat saya yang biasa cerah ceria itu mendadak kusut ketika suatu siang yang benderang ia menyampaikan berita bahwa anak gadisnya dilamar. Yang membuat saya bingung adalah perubahan rona di wajahnya yang menandakan ada masalah rumit yang menimpanya sempurna.  Apalagi setelah tahu yang melamar adalah Y sahabat kami, sahabat mereka sendiri yang anaknya nota bene adalah sahabat baik si anak sejak kecil.

“Anak dilamar kok sedih, mestinya bahagia dong. Jodoh itu kan rizki”, ucap saya mencoba menentamkan. Karena sebenarnya sudah bisa menebak masalah di balik itu.

*****

 

Keluarga X dan Y sudah lama bersahabat, dan anak-anak mereka otomatis sudah seperti saudara sendiri.  Y berulang-ulang mengumumkan pada dunia,  bahwa ia sudah jatuh hati pada anak gadis X semenjak si gadis masih kecil. “Sungguh, saya belum pernah bertemu gadis cilik sesantun dia, dan begitu sayang penuh perhatian sama saya. Sudah pasti bakal jadi  mantu idaman kelak. Dan saya yakin hanya dia yang bisa membuat anak saya bahagia dan tentram”, begitu ucapan Y berulang dari tahun ke tahun, semenjak sang gadis mulai tumbuh remaja hingga masuk perguruan tinggi.

Dulu, kalau sang putri  X datang berkunjung ke rumah keluarga Y, untuk keperluan belajar bareng atau sekedar silaturahim, maka dipastikan  Y akan pontang panting menyiapkan aneka masakan kesukaan si gadis.

Dan kini, saban anak bujangnya yang kuliah di luar negeri itu mudik, maka kunjungan ke rumah keluarga X berikut program bersenang-senang bareng pastilah dalam list utama keluarga mereka.

Pada awalnya sayalah yang diminta keluarga Y untuk menanyakan, apakah keluarga X akan berkenan jika mereka berniat akan menjodohkan anak-anak mereka.

Sebagai langkah awal tentu yang saya dekati adalah si gadis, karena kunci utama adalah dia.

“Nak, menurutmu apakah putra keluarga Y itu pemuda baik ?”. Tanya saya pada si gadis pada suatu hari.

“Waah..bukan hanya sekedar baik tante, baik buanget malah. Kami saling menyayangi, saling membela dan sudah seperti saudara sendiri. Tante tau kan waktu kecil dulu kalau dia ngambek selalu aku yang menghibur. Terus mana otaknya gak ada banding dengan anak-anak sebaya dia. Makanya namanya sangat harum di sana”, jawab anak gadis X sembari menyebutkan nama sebuah kampus bergengsi di manca negara sana. Wajah gadis itu berseri-seri menyebutkan beragam keunggulan sang pemuda.

“Nah..bisa mengerti ga nak, kalau punya anak sehebat itu, orang tuanya tentu juga ingin punya menantu yang setara dan dikenal baik dan bisa dipercaya”, saya mulai pasang jurus gerilya.

“Pastilah tante. Emang si Tante dan Oom Y sudah pingin punya mantu ya ?”, sambut si gadis dengan mata berbinar.

“Apa perlu saya bantu carikan tante?”, tambahnya lebih antusias.

“Serius kamu mau bantuin?”, balas saya penuh harap.

“Ya serius lah Tan. Emang mereka maunya kayak yang gimana sih ?”,

“Ga perlu dicari lagi nak, orangnya ga jauh-jauh, ada di sini. Ya kamu itu”, jawab saya hati-hati sembari mengamati setiap perubahan gurat di muka si gadis yang perlahan mulai menampakkan wajah tertekan.

“Ya Allah Tante…kenapa harus saya?, saya kan sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri”, perlahan-lahan awan kelabu di wajahnya mulai berbuah rinai. Berbulan-bulan saya dan sahabat Mamanya yang lain mencoba membujuknya.

“Kemana lagi hari ‘gini’  akan dicari pemuda hebat paripurna semacam putra keluarga Y”.

“Tante benar, jarang ada pemuda sholeh  sehebat dia jaman ini. Otak cemerlang, berbagai kecakapan kehidupan dia punya. Kami sekeluarga sayang pada dia. Tapi tante…untuk menikah tidak hanya cukup itu. Saya sama sekali tak punya chemistry sama dia. Dan saya juga yakin dia juga punya perasaan sama”, isak si gadis yang membuat saya kalut.

“Tidak..tante sudah pernah tanya dia, katanya dia sudah suka sama kamu semenjak kalian kecil dulu”.

“Suka sebagai saudara itu tante…percayalah…kami tak ada ‘rasa’ satu sama lain”. Dan percakapan seperti itu teramat sering terjadi antara kami. Saya selalu berharap si gadis akan berubah pikiran, karena Allah bisa membolak-balik hati manusia seberapa ‘keukeuh’pun dia.

Beberapa bulan setelah itu saya mendengar hubungan si gadis dengan X Ibunya menjadi sedikit ‘retak’ gara-gara upaya perjodohan itu. Kawan saya X dengan halus pernah mengungkapkan bahwa anak gadisnya tidak  kunjung terbuka hatinya, karena kurangnya upaya dari anak laki-laki keluarga Y. Sementara serangan gencar hanya dilakukan Ayah Bundanya saja.

“Mana mungkin gadis saya bersedia  menikah dengan laki-laki yang dia tidak yakin mencintainya. Dan sayangnya si ‘Bujang”  juga mati gaya, tidak cukup nyali menunjukkan ketangguhannya, sangat…sangat tidak memperlihatkan kegigihannya. Padahal di saat yang sama …. begitu banyak pemuda lain yang berjuang keras menunjukkan kesungguhannya untuk meraih hati gadisku itu”, terang sahabat saya itu.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, upaya perjodohan itu berakhir kandas, dan menorehkan luka, meski sejak awal X mewanti-wanti keluarga Y bahwa masalah jodoh adalah rahasia Allah. Karena itu ia berharap, apakah sukses atau tidaknya upaya perjodahan itu tidak akan melukai siapapun. “Jika mereka kelak ternyata tidak berjodoh, semoga tidak ada yang merasa tertolak, tidak ada yang merasa sedih apalagi merasa direndahkan”, pinta X.

Hari berganti bulan dan bulan berganti tahun, akhirnya Sang gadispun menikah dengan  laki-laki yang ia ridhoi menjadi imamnya. Tidak mudah bagi keluarga X untuk mengobati kekecewaan keluarga Y dan rasa bersalah mereka sendiri yang sebetulnya tidak perlu itu.

Kedua belah pihak mencoba saling mengobati hati, terutama pihak keluarga X kepada keluarga Y. Namun jelas itu bukan sesuatu yang mudah,  walau keluarga X berupaya keras terus menerus mencarikan jodoh yang baik pula untuk anak Y.

Suatu ketika Y pernah mengungkapkan  isi hatinya kepada saya, bahwa jika ia tahu anak mereka tidak berjodoh, maka ia tentu tidak akan menginisiasi  sesuatu yang konyol dan mempermalukan diri sendiri itu.

Dan saya berulang-ulang meyakinkan mereka, bahwa dalam hal ini tidak ada yang perlu merasa dipermalukan dan dihinakan, karena memang urusan manusia hanya sampai pada memaksimalkan upaya, sementara hasilnya adalah hak preogative  DIA Yang Maha Berkehendak semata.

Tak ada manusia yang bisa mengintip jodoh yang telah ditetapkan Allah pada seseorang memang.

 

Bagi saya, cukuplah kejadian ini menjadi pembelajaran  berharga, untuk  tidak akan pernah menggaransi siapapun dalam upaya perjodohan. Dan kian menebalkan keyakinan, bahwa tidak ada manusia yang bisa mengintip maupun merekayasa upaya perjodohan, secanggih dan seberkuasa apapun dia terhadap anak-anak mereka. Utang manusia hanya sampai pada ikhtiar yang maksimal.

Karena itu, bagi para pemuda  yang ingin menikah dengan gadis pujaannya, maka saya menyarankan :

  1. Tidak cukup upaya itu dilakukan hanya dengan  kedekatan hubungan sesama orang tua, meski sebagai langkah awal yang baik, jurus ini bisa diandalkan.
  2. Harus mengupayakan sendiri meraih hati sang gadis, menumbuhkan kepercayaan di hatinya, bahwa ia akan terlindungi dunia akhirat, karena urusan perkawinan adalah urusan ‘kepercayaan’ juga.
  3. Karena dalam sebuah  perkawinan menurut agama apa dan budaya manapun, wanita adalah pihak yang lemah, yang ‘menyerahkan’ diri dan masa depan beserta seluruh kehidupannya, maka tentu gadis manapun akan menjadikan pilihan MENIKAH, sebagai pertimbangan yang maha berat dan butuh kesadaran penuh berbalut keyakinan sempurna yang tidak bisa dibeli apalagi dipaksakan.
  4. Masalah jodoh dan cinta adalah masalah hati, maka tak ada manusia yang berkuasa atas itu. Hanya kepadaNYA, sang penguasa hati itu tempat kita bisa meminta. Jadi mintalah kepada Dia yang Maha punya.
  5. Terakhir, jangan pernah menyerah sebelum ditolak 21 kali (rumus suami saya hehehe). Karena cinta itu harus diperjuangkan. Dan pejuang tangguh takkan mati dalam sekali tikam bukan ?
  6. Segala sesuatu yang diperjuangkan dengan tidak mudah, maka akan didapatkan capaian yang maha indah. Maka teruslah berjuang :)

Selamat meneruskan perjuangan, selamat  meningkatkan daya tahan. Karena modal pejuang tangguh adalah daya tahan, daya tahan, dan daya tahan.

Salam optimis


Responses

  1. Yuk.. mari kita terus perbaiki diri kita terus menerus supaya kita jd lebih baik. Allah telah berjanji akan memasangkan orang baik dengan orang baik. Semoga menjadi pembelajaran berharga bagi kami semua yang masih muda2 ini bunda.

    Maka sia-sialah jika kita berharap tanpa sebuah usaha. Bisa jadi, Allah menyimpan harapan itu karena ingin melihat seberapa besar usaha kita untuk menggapainya. Lalu…Dia ingin menguji para hamba-Nya, siapa yang benar-benar ingin memetik harapan itu dgn berlandas cinta pada diri-Nya, bukan hanya karena mahluknya saja.

    *wah, saya tiba2 jadi sotoy nih..*

    • Heheheee..Elang terkadang bisa menjelma menjadi burung hantu yang bijak rupanya..
      Selamat berjuang ya Ry, semoga Allah mewujudkan semua mimpi yang diperjuangkan itu.
      Percayalah “Segala sesuatu yang diperjuangkan dengan tidak mudah, maka akan beroleh capaian yang maha indah.
      Maka teruslah berjuang”.

  2. sedang berjuang. yosh~

  3. Barang siapa yang berjihad(bersungguh-sungguh) mencari ridhaNya,ia kan tunjukan jalan-jalanNya. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat baik (Q.S 29:69)..

  4. bunda..
    “Harus mengupayakan sendiri meraih hati sang gadis, menumbuhkan kepercayaan di hatinya, bahwa ia akan terlindungi dunia akhirat, karena urusan perkawinan adalah urusan ‘kepercayaan’ juga.”

    ini yang sulit..
    semoga bisa membangun keluarga seperti Rasulullah..
    dan bunda tatty #rawamangun begitu dirindukan, mau punya keluarga seperti itu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers