Pernah mendengar ungkapan “Pour cold water on something ?
Saya mendengar istilah ini dari seorang Profesor sebuah perguruan tinggi ternama di Amerika. Saat itu (Sekitar akhir tahun 90an) saya berkeinginan untuk mengadakan fundraising bagi berbagai kegiatan kemanusiaan di Indonesia dengan roadshow kebudayaan di berbagai perguruan tinggi ‘ngetop’ di negeri pakde Sam itu.
Awalnya saya diliputi optimis yang luar biasa, karena begitu banyak orang yang mengajukan diri mendukung. Semua ini karena saya disupport oleh sebuah lembaga yang menempatkan Sang Profesor. Lalu entah kenapa, salah seorang yang saya andalkan itu tiba-tiba mendadak mendapat proyek besar yang membuatnya tidak dapat memenuhi komitmen untuk membantu mewujudkan ide saya.
Di akhir meeting kami, professor A ini mencoba berpanjang lebar mencoba mendapat pembenaran dari saya dengan menjelaskan mengapa akhirnya dia meninggalkan rencana besar kami dan “Terpaksa” memilih proyek barunya. Penjelasan itu diakhiri dengan mengucapkan kata-kata ini pada saya “ Sorry Tatty, I poured cold water on your head”.
Dan celakalah, setelah itu semangat saya membeku
*****
Seorang gadis menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Ibunya, dan memohon ampun karena telah melukai hati Ibunya. Gara-gara ia berubah pikiran. Kini ia sudah tak lagi ingin bersegera menikah dengan laki-laki yang selama ini kerap hadir dalam mimpinya, seperti selama ini yang ia katakan dan rengekkan saat meminta dukungan ayah bundanya. Lupa sudah gadis itu dengan semua nilai-nilai yang ingin ia perjuangkan atas sebuah rencana besar nan mulia yang ia teriakkan selama ini.
“Who’s Poured cold water on something ?”, tanya sang Ibu heran, karena tak mengira begitu cepat segala sesuatu berubah. Adakah suatu peristiwa ataukah seseorang yang telah merubah suatu pandangan yang selama ini diyakini dan diperjuangkan ? Apakah ada suatu peristiwa besar yang menyebabkan orang dapat berbalik 180 derajat dalam waktu singkat ?
Hati gadis itu telah membeku.
*****
Pour cold water on something hanyalah sebuah ungkapan. Tidaklah benar-benar ada seseorang telah mengguyurkan air kepada sesuatu. Air dingin di sini berarti telah “Mematahkan semangat/ antusiasme seseorang”.
Terlepas betapa gencar atau tidaknya orang yang mematahkan semangat kita, tapi mestinya jika kita hendak melakukan sesuatu yang kita yakini kebenarannya, tidaklah akan tergantung kepada ada atau tidaknya orang yang mendukung dan memengaruhi kita.
Mestinya kita belajar dari konsistensi perjuangan dan ketegasan hati Victor Hugo:
“Kalau mereka seribu..
Aku akan menjadi seorang di antara mereka
Kalau mereka seratus
Aku akan menjadi seorang dari mereka
Kalau mereka sepuluh
Aku akan menjadi seorang dari mereka
Kalau mereka seorang saja
Maka akulah yang seorang itu “.
*****
Untuk segala sesuatu kebajikan yang diperjuangkan, mestinya kita melakukan dengan penuh kesadaran berlandaskan sebuah KEYAKINAN. Karena itu kita tidak akan mudah berubah, tidak akan mudah patah.
“Orang biasa berbuat sesuatu karena kepentingan. Sedang pejuang sejati melakukan setiap perbuatan berdasarkan KEYAKINAN dan NILAI-NILAI”
Karenanya, betapapun badai maut menghadang, maka langkah surut sang pejuang itu berpantang !
Berbuat sesuatu semestinya keluar dari hati dan pemikiran yang tulus, terlebih lagi apabila kita melakukan untuk hal positif dan kemaslahatan orang banyak. Krn pada akhirnya apa yang kita lakukan akan memberikan dampak kepada diri kita sendiri apapun itu. Dan Orang yang bermental positif tidak akan ada yang bisa menghalangi untuk mencapai tujuannya…..
By: diana on January 13, 2012
at 8:25 am
I Can do It..
Meninginspirasi di pagi hari bunda..^_^
By: langitmalam on January 13, 2012
at 8:26 am