“ Papa saya egaliter sekali.
Beliau sangat mengerti konteks persamaan ‘Kewajiban dan Hak’ dalam Rumah tangga yang gak pernah dibedain antara anggota keluarga yang laki-laki dan perempuan.
Seperti yang pernah Papa contohkan berikut……
Pernah suatu saat, ketika adik saya yang no.4 masih bayi dan ditinggal Mama untuk beberapa waktu dan kebetulan giliran Papalah yang sedang di rumah.
Tiba-tiba adik saya itu menangis. Diberi ASI hasil perasan dia tidak mau, diganti pampersnya tetap saja meraung. Entahlah, mungkin seorang bayi mempunyai nalurinya sendiri. Mendadak spontan dengan konyolnya Papa kepikiran untuk memakai daster Mama yang dipakai semalam..tak disangka-sangka,,adik saya langsung tidur..mungkin karena dia menyangka digendong oleh Mama..hehehe..
Papa juga tidak segan-segan menolong Mama hingga saat ini..sebut saja beragam kegiatan domestik seperti menyuapi adik, memasak, menyetrika baju,(Ketika pembantu sedang sibuk mengerjakan yang lain) menonton kami manggung dan merekamnya, antar-jemput dan mengambil raport di sekolah, membantu menjelaskan PR, bahkan berbelanja ke pasar dan tidak pernah malu dititipi pembalut (ini anaknya yg kurang ajar atau gimana ya?hehe-).
ALHAMDULILLAH…kami berlima sungguh beruntung,,entah apa yang bisa kami lakukan untuk para orang tua kami yang beranjak tua ini..Pokoknya, kalau ada yang sampe ngejahatin Papa Mama, u’ll see..Doa kami sangat MENGANCAM!
Yah, setiap anak – anak mestinya bersyukur dengan pola asuh masing-masing orang tuanya..Tapi gak ada salahnya (bahkan mungkin lebih baik), jika kita menyertakan/belajar tuntunannya lewat ajaran agama..yang para (calon) Ayah belajar lewat Lukman, dan para (calon) Ibu belajar dari pada pengasuh Rasul : Halimah As-Sa’diyah dan Ummu Aiman, Maryam, dan masih banyak lagi wanita mulia lain..termasuk orang tua kita sendiri…ambil yang baik – baik, tinggalkan yang buruk..”
******
Tulisan di atas merupakan penggalan sebuah artikel, yang tak sengaja saya temukan tadi pagi ketika membongkar files di PC saya, saat mencari data lama, bahan untuk materi workshop saya besok. Ya…..itu salah satu note si sulung yang dibuatnya beberapa tahun yang lalu.
Saya tersenyum sendiri, terkenang kembali berbagai peristiwa konyol dan lucu dalam keluarga kami.
Pernah juga suatu ketika, dalam sebuah perjalanan darat jarak jauh dalam sebuah acara liburan keluarga, seperti biasa kami bermain segala macam bentuk permainan seru guna mengenyahkan rasa bosan dan kantuk. Kali ini setiap orang harus menyebutkan satu kata yang merepresentasikan diri mereka yang ditunjuk secara bergiliran.
Pas giliran suami…anak-anak menggambarkan ayahnya dengan bermacam sebutan, antara lain “Kocak, Tengil, Menyenangkan, Konyol, Gaul, Perhatian, Realistis, dan Spontan”.
Ketika giliran saya, hampir semua anak-anak menyebut satu kata “Jaim” untuk merepresentasikan diri Ibunya.
Terang saya protes, tidak menerima..bagaimana mungkin mereka melabel saya begitu, padahal saya sangat yakin bahwa saya adalah juga seseorang dengan kepribadian terbuka, hangat yang ekspresif…. humoris, optimis, romantis, gaulis dan spontanis. (Hahahaa mendingan GR dari pada minder kata anak gaul era baheula)
“Ga percaya mama itu Jaim ?…yuuk kita buktikan…mama berani diuji kan ?”, kata 3 anak terdahulu. Serta merta mereka berbisik dan bersepakat ‘mengerjai’ saya. Sebelum ‘test jaim’ dilakukan, saya yang belum sarapan diminta anak-anak mengisi perut dulu. Lalu mereka meminta saya melahap setalam besar roti yang lupa saya potong waktu membelinya. Kontan saya menolak dan merasa risih.
“Ga ah…Entar aja kalau kita ketemu restoran nanti”, elak saya.
“Ayoolah Ma, ntar Mama masuk angin… ayo gigit aja rotinya Ma”, bujuk si nomor 2.
“Udahlah Maaaa sikat aja…kopek pake tangan kek….toh tante “Anu” tidak tahu”, ujar si tengil no 3 seraya menyebutkan nama sahabat saya yang pakar pendidikan karakter.
Merasa tidak mempan membujuk saya makan ala ‘barbarian’ seperti yang mereka katakan, lalu mereka merayu lagi……
“Ya udah….kalau begitu bagaimana jika coklat ini. Lumayan …buat mengganjal perut Mama”, usul yang lain. Maka si bungsu menaruh coklat yang setengah meleleh ke tangan saya setelah menjilatnya sedikit.
“Naaah gini cara ngejilatnya yang oke Ma” si nomor 4 ikut memberi instruksi.
Karena saya tetap menolak, akhirnya mereka satu persatu termasuk ayah mereka ikut memanas-manasi saya supaya mau makan ala barbarian seperti yang mereka pinta.
“Ayolah Maaaa…. Di mobil ini kita lepaskan semua tata tertib rumah… manner….aturan…tata krama itu. Anggap saja kita hidup di jaman batu kan seru tuh. Asyiiiiik “, koor mereka serempak.
Kebayang kan, bagaimana linglung saya dikeroyok begini ?
Nah Setelah gaduh usai..barulah kemudian suami saya angkat bicara…bahwa semua kejadian tadi adalah bukti, bahwa saya itu orangnya ‘Jaim”. Nah Lo..nah lo !!
*****
Terlepas apakah saya menerima atau mati-matian menolak label ‘Jaim’ anak-anak, namun saya InsyaAllah tak pernah untuk tidak mensyukuri, menikah dengan orang yang spontan, apa adanya, tak peduli pada sangkaan orang, dan merdeka mengekspresikan segala suasana hatinya dengan riang optimis, tanpa kuatir ‘image’nya jungkir balik di mata orang.
“Jangan pernah risau dengan apa sangkaan orang, tapi kuatirkanlah apa-apa yang kita telah perbuat, meski tiada satu yang tahu” begitu selalu nasehat suami kepada kami.
Hari ini entah mengapa saya ingin menulis ini, setelah membaca notes anak-anak saya, yang berisikan betapa respek dan cintanya mereka kepada sang Ayah.. Sekarang saya tambah paham, mengapa anak-anak begitu sayang, dan mengagumi ayahnya. Padahal yang saya tahu, semua yang ditulis, dikenang anak-anak adalah hal-hal kecil dan sepele. Bukan sesuatu yang spektakuler. Karena memang ayahnya bukanlah selebriti, apalagi super hero yang namanya tercatat dalam ensiklopedi orang-orang terkenal dan berjasa. Ayah mereka hanyalah manusia biasa yang terkadang teledor, dan banyak salah.
Tapi saya tersadar. Bukankah Pinctada Margaritifera, mutiara mahal dari Pasifik selatan, juga berasal dari serpihan pasir yang tiada berharga ? .
Ketika akan pergi meninggalkannya esok karena saya harus ke luar kota untuk beberapa hari, saya sudah bisa memastikan, bahwa saya akan kehilangan. Saya akan kesepian. Dan saya akan merindukan pelukannya.
Saya akan kehilangan malam-malam yang tentram karena tak ada lagi telapak tangan hangat yang menggenggam sepanjang malam. Dan hari ini saya membuktikan bahwa saya tidaklah sejaim yang anak-anak pikir. Dan suami tercinta saya ikut mengamini.
I Love you Uda. I Love you Ivan, Maghleb, Deni, JetC, Mandira, Faizt, Zacky.
(Tuh kan …akhirnya Mama berani mengungkapkan cinta pada kalian di ruang publik ini. Jadi Mama ga jaim kaaaan ? :)
….
And When I Go Away
I Know My Heart Can Stay With My Love …It’s Understood
It’s In The Hands Of My Love ….And My Love Does It Good
Wo-Wo-Wo-Wo-Wo-Wo …. My Love Does It Good
And When The Cupboards Bare
I’ll Still Find Something There With My Love
It’s Understood / It’s Everywhere With My Love
And My Love Does It Good
Wo-Wo-Wo-Wo Wo-Wo-Wo-Wo
My Love Does It Good
I Love Oh Wo……My Love
Only My Love Holds The Other Key To Me
Oh….My Love Oh…My Love
Only My Love Does It Good To Me
Wo-Wo-Wo-Wo Wo-Wo-Wo-Wo
My Love Does It Good
Don’t Ever Ask Me Why / I Never Say Goodbye To My Love
It’s Understood / It’s Everywhere With My Love
And My Love Does It Good
Wo-Wo-Wo-Wo Wo-Wo-Wo-Wo
My Love Does It Good
Oh….My Love Oh…My Love
Only My Love Does It Good To Me
Wo………………
( Selalu ingat lagu My Love Salena Jones ini kalau sedang jauh dari keluarga )
Yang Singgah