Posted by: tatty elmir | May 25, 2019

Recuerdos De la Alhambra

Nak,

Ini bukan tentang canggihnya petikan gitar dalam gubahan klasik yang diracik tehnik tremolo yang menghanyutkan itu.

Mari dengarkan cerita Ibu….

***

Sore itu menjelang Maghrib datang, saya termangu di depan masjid raya Granada Spanyol nan sederhana.

Di kiri tatap mata saya, searah jarum jam di angka sebelas, Sierra Nevada mengintip sayu berlumur salju, memantulkan cahaya yang melemah ditimpa mentari senja nan kuyu.
Dia selalu begitu.
Bertahun-tahun…berabad-abad menjadi saksi bisu.
Tentang kekuatan dan kelemahan.
Tentang kekejaman dan kebijaksanaan
Tentang kekuasaan yang dipergilirkan.
Tentang sejarah yang diputar balikkan.

Di seberang lembah, istana Alhambra masih berdiri gagah di antara rintihan maut ke maut yang menguasai kecongkakan mahkota yang direbut.

Saya tak habis pikir, bagaimana 8 abad kejayaan Islam habis raib. Dan kini tinggal cerita lara yang tak dipeduli kaum muda.
Apalagi ingin mengambil hikmah yang tersisa.

Saya membayangkan bagaimana suasana hati Abu Abdillah Muhammad Ash-Shagir dari Bani Al-Ahmar saat menyerahkan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya turun temurun dari nenek moyangnya.
Dalam sekejap mata harus diserahkan kepada si rakus Ferdinand dan Isabella yang licik luar biasa.

Saya tak tahu, apakah bukit di kiri saya ini merupakan bukit tempat Aisyah Al-Hurrah ibunda Shagir Sang Raja terakhir itu berdiri membentak anaknya; “Kini kau menangis seperti seorang perempuan, padahal kau tak pernah melakukan perlawanan layaknya seorang lelaki sejati”.

Bayangkan 8 abad Al Andalus berjaya.
Lihatlah jejak peradaban yang ditinggalkannya di Sevilla, Cordoba, Granada, Malaga, dan sebagainya.
Saat itu Cordoba bahkan jadi pusat peradaban Eropa. Semua ilmu pengetahuan dan teknologi Eropa berkiblat ke sana.
Istana-istana, benteng-benteng, situs purbakala, pustaka-pustaka, masjid-masjid dan gereja, beserta gedung-gedung tua bercita selera tinggi adalah salah satu bukti yang tak terbantahkan.

Lalu bandingkan
Dengan Republik Indonesia yang baru berusia menjelang 74 tahun.

Siapa bilang mustahil Indonesia akan punah?
Bukankah itu kepedean atau memang nalar dan hati sudah tak berfungsi?

Mari belajar dari kehancuran Al Andalus yang dulu sesungguhnya sudah diduga dan dirisaukan para pemimpin Islam di Ottoman.

Alam selalu memberikan tanda-tanda sebelum bencana datang.

Dan itu juga terlihat di bumi pertiwi ini kini.
Negeri yang baru berumur setampuk jagung dan belum ada apa-apanya jika dibanding dengan kejayaan Andalus.

Andalus hancur karena generasi mudanya tak peduli politik, mabuk dalam gemerlap dunia, sibuk membangun fisik tapi lupa mengokohkan MENTAL dan SPIRITUAL. Maksiat yang dianggap biasa, pengkhianat dan penjarah dipuja-puja, dan menjauh dari ibadah yang menghimpun segenap kebajikan.

Nak menangislah kini karena LELAH dalam kerja keras dan istirahat yang tak seberapa.

Nak menangislah kini saat kuping kita masih peka mendengar rintihan lapar kaum tak berpunya di saat kita makan kenyang dalam pesta pora.

Nak menangislah kini saat masih bisa melihat keadilan dan kebenaran diperjualbelikan atas nama kekuasaan.

Nak..menangislah kalian saat ini karena begitu beratnya melawan godaan untuk taat beribadah dan hanya tunduk pada kebenaran dan Allah semata.

INGAT
JANGAN sampai nanti baru menangis saat tanah airmu dirampok orang.

Menangislah kini…
Jangan tunggu saat kekalahan itu tiba nanti.

Jangan ulangi ratapan cengeng Abu Abdillah Ash Shagir.

Karena tangis penyesalan
selalu terlambat, dan terasa sangat menyakitkan.

Tatty Elmir
Granada Maret 2019

 

Image may contain: sky and outdoor

Advertisements
Posted by: tatty elmir | May 24, 2019

Jika Kami Tidak Pulang Nanti.

JIKA KAMI TAK PULANG NANTI.
(Tatty Elmir)

Untuk buah hati
Sandaran harapan kami.

Nak
Hari ini kami terpaksa mewakili kalian untuk turun ke jalan.
Karena kalian pastinya sedang sibuk, urusan kampus, atau kerja yang tak putus-putus.

Nak
Jika hanya memikirkan nasib kami yang sudah bau tanah ini, kami mending memilih tidur di kasur empuk, dalam kamar yang sejuk, ketimbang berteriak di jalanan dalam dahaga untuk menjadi umpan anjing-anjing ganas kelaparan yang dipersiapkan.

Atau bermalas-malasan menunggu beduk berbuka puasa. Seraya
Menonton telenovela yang menjajakan surga dunia.
Atau
Jika sedang tak mau ketinggalan berita, cukup klik aneka sosial media yang kadang lebih lantang bersuara dan lebih dipercaya ketimbang media mainstream yg kini bergelimpangan bobo panjang pingsan tak berdaya.

Nak, jika kami memikirkan diri sendiri, kami ikut saja gaya kebanyakan kawula, petantang petenteng dalam ketidak acuhan di sekaratnya bangsa yang tergeletak dalam rongrongan ketidak adilan, dan kedzaliman berselimut dusta yang sudah dianggap biasa, dan kalian merasa baik-baik saja.

Nak, kami turun ke jalan hari ini mewakili kepentinganmu, anak cucumu dan masa depan Negeri dan Bangsa ini. Agar kedaulatan benar-benar milik rakyat, bukan milik rentenir politik dan penjarah asing yang dipuja-puja..

Agar kalian dan segenap keturunan masih bisa merdeka makan dari hasil bumi dan panen petani sendiri.
Agar ikan di laut kita yang kaya ini masih bisa memenuhi gizi di meja makan keluarga.
Agar aneka kekayaan perut bumi tidak lagi dicuri dan hanya menyisakan kerusakan untuk negeri dalam nyeri tak terperi.

Nak, hari ini kami berdiri di sini mewakili kepentingan kalian dan segenap keturunan.
Agar esok nama Indonesia masih ada tertera di sampul paspormu bersama Garuda Pancasila. dan tidak bernasib sama seperti orang Uyghur di Turkistan, Rohingya, Palestina atau bangsa Moors di Andalusia.

Nak, hari ini kami berdiri di sini mewakili kepentinganmu dan segenap anak keturunan kalian.
Agar kelak masih bisa merasakan indahnya kemerdekaan, lezatnya kedaulatan dalam melaksanakan semua rukun-rukun keyakinan.

Nak
Jika kami tidak pulang nanti, berjanjilah akan meneruskan perjuangan ini.
Perjuangan untuk kedaulatan Ibu pertiwi, bukan untuk kekuasaan yang sesat dan sesaat. menghentikan semua kedzaliman dan menghadirkan kedamaian dalam peri kehidupan yg saling memuliakan.

Berjanjilah Nak
Bahwa di negeri merdeka ini orang dijamin bebas bersuara.
Tak ada aktivis dan ulama garis lurus yang dipenjara.
Tak ada profesional yang setia sumpah jabatan dijadikan umpan kesewenangan.
Berjanjilah Nak
Bahwa Indonesia bermartabat masih akan terus ada.

Berjanjilah nak berjanjilah
Agar Pancasila dan NKRI benar-benar dijaga, alat pemersatu Bangsa, bukan jadi jualan politik untuk adu domba.

Nak
Berjanjilah
Kalian akan meneruskan perjuangan ini hingga kedaulatan rakyat benar-benar tegak tanpa basa basi.

Nak bersumpahlah akan meneruskan perjuangan ini jika kami tak pernah kembali lagi.

Jakarta, 22 Mei 2019.

Posted by: tatty elmir | October 1, 2017

Mencari Si “Anak Hilang”

Mencari Penyebab “Si Anak Hilang” *)
Oleh : Dasril Ahmad

MESKI kedengaran klise, namun ungkapan “Si Anak Hilang” masih memancarkan nilai artistik dalam penggunaannya di dunia kesusastraan kita dewasa ini. Ia kerap digunakan dalam karya-karya sastra dan juga telaah-telaah sastra untuk menyatakan sesuatu yang telah tiada, baik itu berupa fisik maupun nonfisik. Misalnya, dalam puisi “Si Anak Hilang” (Dalam Sajak, 1955) penyair Sitor Situmorang menggunakannya untuk menyatakan seorang anak muda yang pergi merantau. Ia dinyatakan hilang dari kampung halamannya, tanpa meninggalkan bekas maupun pesan terhadap yang ditinggalkan; orang tua dan kampung halamannya sendiri. Ibu dan bapaknya selalu menanti kepulangannya, tetapi mereka hanya menanti dalam kesia-siaan belaka. Sebab ternyata, si anak tak kunjung pulang; ia hilang untuk selama-lamanya.

Sastrawan Satyagraha Hoerip dalam kata pengantarnya di buku “Mitos dan Komunikasi” Umar Junus (1981) menggunakan ungkapan “Si Anak Hilang” itu untuk menyatakan hal yang persis sama dengan Sitor. Ia menyebut Umar Junus sebagai “anak hilang”, karena lama hidup merantau di negeri jiran, Malaysia. Tetapi pada sisi lain (nonfisik), Hoerip menilai Umar Junus tak pernah hilang dalam lanskap telaah dan kritik sastra Indoneaia. Meski berada jauh di rantau orang, namun Umar Junus tetap mencurahkan perhatian dan kecintaannya terhadap sastra Indonesia. Ini berarti, Indonesia tak pernah hilang dari cinta dan pergumulan intelektual seorang Umar Junus. Hal ini akhirnya terbukti dengan banyaknya lahir tulisan dan terbit buku Umar Junus, berupa telaah-telaah terhadap karya sastra Indonesia. Justru itu, Hoerip menyatakan Umar Junus dengan ungkapan “Kembalinya si Anak Hilang”. Sementara itu, Nasjah Djamin menggunakan ungkapan itu untuk judul sebuah novelnya, yakni : “Hilangnya Si Anak Hilang” (Pustaka Jaya, 1977), dan banyak lagi ungkapan itu digunakan oleh pengarang dan kritikus sastra Indonesia dalam karya-karya yang mereka lahirkan.

Mengemukakan argumen terhadap pernyataan di atas, kita tak dapat pula menampik bahwa di ruangan Remaja Minggu Ini (RMI) Harian Haluan, Padang, sendiri pun telah dipergunakan ungkapan tersebut. Penulis Syarifuddin Arifin, misalnya, menggunakannya untuk menyatakan penulis-penulis muda Sumatera Barat yang sempat mengantarkan RMI ke masa jayanya pada periode 1970-an, tapi saat ini (1980-an) telah “mati” kreativitasnya, sebagai “Si Anak Hilang”. Tatkala seorang di antara penulis RMI Haluan yang (diduga) telah mati kreativitasnya itu, yaitu Tatty Fauzie Prasodjo, tiba-tiba kembali memublikasikan cerpennya pada RMI, edisi Minggu 3 Mei 1987, maka Syarifuddin Arifin dalam tulisan pengantar cerpen itu, menyebut Tatty sebagai “Kembalinya Si Anak Hilang”. Kemudian ia mengharapkan agar, selain Tatty, hendaknya mereka yang telah hilang dulu itu dapat kembali lagi dengan sendirinya, dan berpacu melecut kreativitas menulis di ladang penyemaian RMI Haluan ini.

Dalam hubungan ini, sebetulnya “Si Anak Hilang” yang melanda tubuh RMI Haluan, di samping segelintir berupa kehilangan fisik, namun lebih dominan kehilangan nonfisik (kreativitas). Hasrat dan harapan untuk mengembalikan “Si Anak Hilang” tersebut, bukanlah persoalan yang gampang. Kehilangan kreativitas berarti kehilangan secara total, yang tidak mesti dipandang sebagai persoalan sepele. Kondisi ini akan jauh berbeda dengan kehilangan berupa fisik, yang masih mungkin disandarkan hasrat dan harapan untuk kembali berkreativitas, asal mereka tetap mencurahkan perhatian dan rasa cintanya lewat pergumulan yang gigih terhadap sastra. Jika faktor terakhir ini sudah menipis dalam diri mereka, maka lebih baik mereka tak usah pulang untuk selama-lamanya. Akan terasa kurang menggairahkan, kalau mereka pulang tanpa inovasi, yang menyiratkan intensitas pergumulan yang mereka lakukan selama “meng-hilang”.

Di atas saya menyebut (malah dalam tanda kutip) kata-kata seperti; kreativitas, total, pergumulan, gigih, dunianya, menipis, inovasi dan intensitas. Lalu apa hubungannya penggunaan kata-kata itu dengan topik artikel kecil ini? Dapat atau mungkinkah kata-kata itu ditumpangi hasrat dan harapan yang andal guna membantu kita mencari penyebab “Si Anak Hilang”, khususnya yang melanda tubuh RMI Haluan ini? Menjawab pertanyaan ini tidaklah begitu sulit. Tetapi sebelumnya kita mesti dapat mengarifi diri seraya menepis anggapan (klise) bahwa, mencari penyebab berarti mencari kesalahan yang membawa kekusutan untuk penyelesaian masalah. Sebab, mencari penyebab timbulnya sesuatu hal atau keadaan, adakalanya juga usaha mencari titik kelemahan yang memungkinkan timbulnya hal atau keadaan tersebut. Oleh karena itulah, titik kelemahan yang menyebabkan timbulnya “Si Anak Hilang”, antara lain terletak pada beban “semantik” yang diemban oleh kata-kata di atas.

Dalam hal ini, penyair Rusli Marzuki Saria (redaktur RMI Haluan) agaknya orang yang beruntung dan berbahagia telah menemukan penyebab “Si Anak Hilang” ini. Dalam suatu kali pertemuan di redaksi Haluan, ia mengatakan, “Sebetulnya kreativitas penulis-penulis muda RMI Haluan itu tidak akan mati (“Si Anak Hilang” tidak akan ada), kalau saja mereka mempunyai keuletan, keseriusan yang total dalam menggumuli dunianya (sastra) dengan gigih. Kalau hal-hal elementer ini telah menipis, maka intensitas akan lemah dan inovasi terbang bersama angin, sehingga kreativitas akan mati muda! Mereka umumnya tidak studi, dan karya-karya mereka hanya lahir karena faktor kebetulan (spontanitas), tidak atas dasar pergumulan yang intens, melainkan karena pengaruh (rangsangan) dari (karya) orang lain. Ini sangat berbahaya..! Saya tak pernah demikian. Ini akan membunuh kreativitas,” tegasnya. *** (Padang, 18 Juni 1987)

*) Tulisan lama yang dibuang sayang. Pernah dimuat di RMI Harian Haluan, Padang, edisi; Juli 1987).

Keterangan Foto : Bersama penulis Tatty Elmir (dulu Tatty Fauzie Prasodjo, yang disebut sebagai “si anak hilang”), berkunjung ke rumah sang guru, penyair Rusli Marzuki Saria (Papa), sekaligus merayakan ulang tahun ke-81 Papa RMS, di Padang, 28 Pebruari 2017 lalu. Tatty bercerita, selama ‘hilang’, ia hijrah ke Jakarta, mendirikan Forum Indonesia Muda (FIM), dan telah menulis (menerbitkan) beberapa buku, di antaranya novel “Keydo” (qanita, Jakarta, 2011). Ternyata, Tatty “si anak hilang’ pulang dengan kreativitas sastra yang gemilang! Alhamdulillah. *** (d.a).FB_IMG_1506843943381

Posted by: tatty elmir | August 17, 2017

Pada Siapa Risau Ini Kukabarkan.

IMG_20170816_053846_212

 

PADA SIAPA RISAU INI KUKABARKAN.
(Tatty Elmir)

Pada siapa risau ini kukabarkan.
72 tahun Indonesia merdeka,
Ternyata tak hanya kabar baik menyapa Bangsa kita.
Rupiah yang dicetak penuh warna,
Tak ada harga dibanding uang orang yang hanya hitam putih saja.

Pada siapa risau ini kukabarkan,
Anak dan remaja penghuni sepertiga negeri ini.
Yang mestinya terawat dan terjaga,
Kini dihantam badai yang memilukan.
Setiap hari, 50 orang terancam mati sia-sia karena narkoba.
Setiap hari pula 150 ribu pekerja seks komersial menjajakan maksiat dan sepertiganya adalah anak-anak yang belum genap dosa.

Pada siapa risau ini kukabarkan
Badai pornografi yang menyelip di tengah gempitanya kemajuan teknologi setelah era reformasi,
Telah mengantarkan anak-anak menjadi penjahat yang tak punya hati.

Kejahatan seksual kini marak di semua propinsi.
Anak-anak yang kecanduan itu,
Tidak hanya memperkosa anak tetangga,
Namun juga saudara kandung
Bahkan Ibunya sendiri.
Mak, azab apa lagi ini?

Kini anak-anak tidak lagi sekedar korban,
Namun pelaku dan otak kejahatan.
Belum lagi  2,4 juta angka aborsi pertahun, Yang sepertiganya dilakukan pelajar putri kenyes-kenyes…kinyi-kinyi.
Bagaimana kita bicara masa depan negeri?

Pada siapa risau ini kukabarkan,
Bangsa dan negara yang didirikan oleh para pejuang yang juga pecinta literasi,
Yang membawa buku kemana pun mereka pergi,
Kini tak lagi menjadi sosok yang diteladani.
Hanya 1 dari seribu anak negeri yang gemar membaca buku.
Bagaimana bangsa ini bisa dekat dengan ilmu?

Pada siapa risau ini kukabarkan, negeri kaya dengan 17 ribu lebih pulaunya,
Dan pencetak 5 terbanyak sarjana di dunia,
Tapi pengangguran meledak di mana-mana,
Ironisnya para kuli asing bertebaran sangat leluasa.

72 tahun Indonesia merdeka
Sudahkah terwujud cita-cita mulia yang dulu selalu menggema?
Bagaimana bisa mandiri dalam ekonomi
jika produksi dalam negeri tidak dilindungi, angka impor semakin tinggi.
Industri dan pengrajin lokal, terkapar.. menggelepar..
Lalu mati.

Bagaimana bisa berdaulat dalam politik, Jika rentenir tersamar maupun yang sudah go public
bebas merdeka mengutak atik.

Bagaimana bicara berkepribadian dalam kebudayaan,
jika musik pop Korea lebih dihargai
Ketimbang memberi ruang untuk pemusik dari 1.300 kelompok etnik yang kini semakin tak dilirik.

Pada siapa risau ini kukabarkan
Pada siapa risau ini kukabarkan ??

 

(Jakarta, Agustus 2017)

Posted by: tatty elmir | July 9, 2017

Yuk Hargai Kebhinekaan Dengan Adil.

Teman-teman tau ga bahwa kita punya saudara yang sangat istimewa, namanya Boti? Dan ini foto kami bersama keluarga Raja Boti nan unik itu.

Hmm salah satu kesukaan saya yang mungkin tidak semua orang suka adalah menemui Suku-suku, komunitas dan agama-agama unik di dunia.
Waktu muda dulu, saya pernah berbulat tekad alias nekat menyambangi suku Amish old order di Lancaster Pennsylvania dan sempat tinggal bersama komunitas Divine Tracy di Philadelphia US. Plus belajar memahami gaya hidup kelompok New Age yang ngehits di tahun 80an.

Dan kesukaan itu tidak pernah terhenti meski saya sudah jadi nenek sekarang, dan kerap dikritik kerabat yang mempertanyakan kekukuhan iman saya.
Beberapa sahabat bahkan gemas bertanya, apakah kesukaan itu menunjukkan saya masih mencari-cari kebenaran?
Apakah saya masih ragu terhadap agama yang saya anut sejak lahir ?
Hahaha jawaban saya cukuplah sebentuk pelukan erat sebagai bentuk terimakasih sudah dipedulikan sahabat.

Dan kini setelah tua ini, sungguh saya merasa sangat bersyukur masih saja diijinkan suami untuk meneruka langkah ke hampir semua tempat yang diinginkan. Hingga akhirnya suatu ketika saya sampai di pedalaman pulau Timor NTT dan bertemu saudara-saudara saya dari suku Boti ini.
Apa yang unik dari suku ini?
Banyak.
Menurut para etnograf&antropolog, mereka adalah penerus satu-satunya Atoin Meto/Dawan (induk suku asli Timor) yang masih memegang teguh “Halaika” kepercayaan asli masyakarakat Timor. Sementara anak keturunan suku Atoin Meto yang lain sudah meninggalkannya.
Sama seperti suku Baduy dalam di Banten, atau suku Amish di Amerika, warga Boti bertahan hidup alamiah dan tak tersentuh teknologi.
Pastinya sangat menghargai alam.
Ada tiga ajaran terkenal Halaika yang berhubungan dengan alam. Yakni;
1. Lais Tal Kio ( Memelihara lingkungan)
2. Lais Nasaehe banu manu maluat(Menjaga/merawat hasil tanaman sampai tua dan bisa dimanfaatkan)
3. Lais fani benasna uik ike suti nteo paham tuaf nakelo (Bekerja keras mengelola sumber daya alam).

Dari kesederhanaan Boti saya banyak belajar kearifan. Antara lain tentang kemandirian, kejujuran, keelokan budi, kepercayaan diri dan keteguhan hati. Suku Botilah satu-satunya pewaris Atoin Meto yang tidak bisa ditundukkan dan dikristenkan oleh para penjajah dulu. Baik Portugis maupun Belanda. Sampai sekarang mereka tetap konsisten, yang mungkin keteguhan pada prinsip itu oleh sebagian orang disebut sebagai masyarakat “Tertinggal”.

Saya sungguh bangga dan bersyukur terlahir sebagai Bangsa Indonesia yang sangat kaya ragam. Setiap suku punya kearifan budaya nan berbeda.. Karena kita berbeda itulah timbul rasa ingin tahu dan saling kenal. Dari saling kenal lahir saling menghargai dan mencintai.

Oleh karena itu jika kita jujur menghargai Bhineka Tunggal Ika, maka biarlah orang Baduy bahagia dengan Sunda Wiwitannya. Orang Boti pede dengan Halaikanya, orang Sumba bangga dengan Marapunya, orang Bali konsisten dengan Hindunya.
Sama halnya dengan mayoritas masyarakat Papua yang menerapkan “Syariat” Kristennya. Maka biarkanlah pula masyarakat Aceh, Minang dan Banten tunduk pada Syariat Islamnya.
Jangan usik ketenteraman mereka. Biarkan mereka mengatur sendiri bagaimana tata cara mereka hidup aman, nyaman di rumah, di daerahnya masing-masing.

Negeri ini akan aman tentram penuh kedamaian, jika semua orang dapat menahan diri untuk tidak ikut campur ‘ngerecoki’ rumah tangga tetangga.
Dan tentu saja para tetangga juga harus tau diri dan saling SETIA pada keluarganya masing-masing. Jangan pernah curhat alias ‘ngerasanin” keluarga sendiri pada tetangga.

Tak pernah ada pergeseran dan kecelakaan terjadi di dunia ini, jika semua berjalan TAAT, disiplin, konsisten dan lurus pada jalur dan porsinya.

(Tatty Elmir)

 

 

2017-06-23 12.27.37.png

Suatu hari bersama keluarga Bapa Raja Boti

Posted by: tatty elmir | May 17, 2017

Selamat Hari Buku Nasional.

Di hari buku nasional ini, ijinkan kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pembaca buku. Khususnya buku baru kami “Never Ending Hijrah”.

Karena buku tanpa pembaca tidak bermakna dan tidak dapat memberi manfaat apa-apa.

Terimakasih pula atas semangat para pembaca menghadiri setiap bedah bukunya.

Yang menginginkan kami hadir dalam bedah buku di kota masing-masing bisa hubungi kami di 0812.817.7951.

Jika waktunya pas InsyaAllah kami juga akan hadir di kota kawan-kawan semua. Agar kebermanfaatannya lebih menyebar terasa.

Salam Hijrah.

Tatty Elmir, Kurniawan Gunadi dkk

IMG_20170517_20bedah1219_925

Bedah buku Never Ending Hijrah di hotel Grand Shanti Denpasar Bali.

Posted by: tatty elmir | May 4, 2017

Yuk Dataaang

IMG_20170502_061006_479.jpg

 

Assalammualaykum Bp/Ibu/Sahabat yang indah budi

Akan sangat berati jika Bpk/Ibu sekeluarga berkenan hadir dalam launching buku baru kami “Never Ending Hijrah”
Kamis 4 Mei jam 12.30-14.00 di panggung utama Islamic Book Fair -JCC.

Buku ini bukan hanya mengulik perjuangan sepasang suami istri WNI menjadi petani/peternak sukses di New Zealand, tapi juga tentang kegigihan mereka mensyiarkan Islam di daratan paling selatan dunia itu.
Terimakasih dan salam hijrah

Tatty Elmir dkk.

http://m.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/17/04/16/ooi08f374-buku-never-ending-hijrah-akan-dibedah-di-ibf-2017

Posted by: tatty elmir | April 3, 2017

Menghimpun Berkah Dari Hijrah Ke Hijrah 2.

20161123_071332

Tak henti berhijrah. Ya… Itulah filosofi hidup yang melekat pada diri Ibu muda dengan 5 orang anak tersebut. Mulai dari perilaku, kebiasaan, hingga benar-benar hijrah fisik. Sejak usia setahun, Silvi sudah diboyong ke dua orangtuanya merantau ke Holland.

Setelah empat tahun di negeri kincir angin tersebut Silvi kembali ke Jakarta, dan  lalu meneruskan pendidikan ke rantau yang lain, yakni Nigeria di tahun 1985. Disana Silvia bersekolah di ADRAO International School. Lalu pada tahun 1988 hingga 1989 Silvi bersaudara sempat ‘ngekos’  waktu belajar di Sekolah Indonesia SIC di Kairo, Mesir.

Setelah sempat balik ke Indonesia selama 4 tahun, Silvi lalu pindah lagi mengikuti tugas orang tua di KBRI New Zealand di kota Wellington.Dari kebiaasaan hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain itulah akhirnya Silvi benar-benar belajar banyak tentang nilai-nilai   kehidupan. Utamanya tentang kemandirian, keuletan, ketangguhan, toleransi, konsistensi untuk terus belajar, dan tentu saja harus adaptif.

Terutama saat tinggal di Kairo ketika masih berusia 11 tahun jauh dari orang tua. Hanya mereka beradik kakak di sana. Ceritanya saat itu orang tua Silvia dipindah tugaskan dari Nigeria di Afrika untuk kembali ke Jakarta. Nah untuk masa transisi, kedua orang tuanya memutuskan untuk ‘menitipkan’ anak-anaknya kepada sahabat keluarga yang dipercaya untuk bersekolah di sekolah Indonesia di Kairo.

Kemandirian itu pula yang membuat Silvi hingga kini tak gamang jika harus melakukan pekerjaan apapun yang selama ini kerap diidentikkan dengan pekerjaan laki-laki. Seperti berburu, mengoperasikan mesin-mesin pertanian,  dan berbagai pekerjaan peternakan yang sangat ‘macho’.

20161116_121914.jpg

Silvi juga tak canggung ketika harus ke kota membawa kendaraan operasional farmnya yang lagi rusak. Atau saat terpaksa bepergian seorang diri ke luar kota dengan menyetir sendiri mobil besarnya, hingga mengurus tetek bengek rumah tangga dengan 5 anak tanpa pembantu yang mengasisteni.

“Kalau buat saya hijrah itu membangun karakter… it’s a beautiful thing, masa-masa yang membentuk kita menjadi seseorang.  Tanpa berhijrah, kita akan terus di bubble kita, mungkin gak bakal empati terhadap orang lain, mungkin gak bakal empati terhadap binatang. Hijrah membuat saya lebih dewasa dan lebih mendekatkan diri  pada Allah Subhanahu Wataala…..InshaAllah”, ucap Silvi.

Kisah serupa, suaminya DR Reza Abdul Jabbar juga merupakan perantau ulet yang digodok keadaan sejak muda. Belum lagi berusia 15 tahun, dia telah memilih langkahnya sendiri untuk merantau ke Singapura. Waktu itu Reza baru tamat SMP Negeri 3 Pontianak dan ingin mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya.

“Setelah tamat SMP,  Ayah saya menanyakan ingin sekolah apa. Lalu terjadi diskusi yang mengeksplor keinginan saya untuk masuk sekolah pertanian atau peternakan. Nah jadi diputuskan akan sekolah kemana ni, klo memang pengennya sekolah di peternakan. Jadi kami berpikir kalau gak Australia ya New Zealand atau Canada”, jelas Reza.

Setelah setahun di Singapura belajar berbagai macam dan merasa cukup bekal bahasa Inggrisnya, Reza memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air,  dan masuk SMA Negeri 3 Jakarta.

“Di SMA Jakarta, saya mulai kelas 1 lagi. Tapi gak papa. Saya anggap 1 tahun di Singapura mencari pengalaman merantau. Biasanya orang-orang kan cari pengalaman begitu setamat SMA kan? Kalau untuk saya terjadinya itu setelah SMP. Tapi semua tetap mengacu kepada poin ingin kuliah di New Zealand”, Reza berkisah.

Biasanya anak-anak yang menamatkan SMA  di Indonesia, jika meneruskan ke NZ  harus masuk dulu sekolah transisi yang disebut Foundation year selama 1 tahun. Karena  SMA Indonesia tidak diakui jika ingin ke perguruan tinggi di  New Zealand. Atas dasar itulah Reza menutuskan untuk sekalian pindah sekolah saat masih duduk di bangku SMA agar tidak membuang-buang waktu. Belum lagi persoalan tahun ajaran baru di Indonesia yang baru mulai Juli, sedang di New Zealand Januari.

Semua menjadi perhitungan yang matang dalam diskusi antara Reza dengan Ayahnya. Mereka tidak mau ada waktu menunggu yang sia-sia. Karena itu atas nasehat Ayahnya yang terbiasa berhitung dengan cakap itu, Reza memutuskan untuk berangkat ke New Zealand saat masih semester pertama di kelas 2 SMA.

Saat itu Ayahanda Reza, Abdul Jabbar menantang anaknya untuk selalu juara, dan harus bisa langsung duduk ke kelas 3 di Lynfield College Auckland. Dan tantangan itu berhasil. Perjuangan Reza sukses untuk langsung duduk di kelas tiga, dengan bonus ranking pertama pula. Aduhai senangnya hati Haji Abdul Jabbar Ayahandanya Reza. Dan kepercayaan kepada si sulung buah hatinya itu bertambahlah.

Untitled-7

Sejak awal merantau di Auckland, Reza benar-benar sebatang kara. Tak ada sanak saudara yang ditumpangi. Hanya beruntung dapat Ibu kos yang baik hati.  Sama waktu di usia 14 tahun merantau di Singapura dan melanjutkan ke SMA  di  Jakarta.

Kedua orang tua tetap berdomisili di Pontianak. Hanya datang sekali-sekali menengok putra sulungnya itu. Kepercayaan besar yang diberikan kedua orang tuanya membuat Reza berlatih untuk bertanggung jawab. Apalagi setelah itu Reza dibelikan  rumah di daerah Kepala Gading.

“MasyaAllah anak itu…tetangga pada memuji, anak semuda itu sudah bisa hidup mandiri dan tau diuntung. Tidak pernah ada yang melaporkan Reza keluyuran padahal di rumahnya disediakan mobil. Dia lebih suka di rumah belajar bersama kawan-kawannya yang cerdas. Dia memang selalu memilih kawan yang baik dan pintar. Alhamdulillah waktu itu Reza ketularan dan berhasil menjadi juara umum”, kenang Ibunda Reza, Talaah Jabbar.

Untitled-6

Meski terlahir dari keluarga pengusaha yang cukup berada, namun Reza sejak kecil dilatih kedua orang tuanya untuk mandiri, bekerja keras dan kukuh dalam memperjuangkan keinginan dan memegang prinsip-prinsip  Islam.

Ayahnya yang kontraktor berbagai infrastruktur di Kalimantan Barat itu, membiasakan anaknya  sejak dini untuk berdialog, dengan memancing komentar Reza terhadap sesuatu masalah.

Reza kecil juga kerap dilibatkan Ayahandanya dalam berbagai obrolan orang-orang dewasa dengan tetamunya untuk membahas berbagai macam topik, terutama bisnis. Karena itu sejak kecil pula Reza tidak pernah berkeinginan menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri.

Hijrah sendiri dalam pandangan Reza ada tiga persoalan. Pertama soal hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kedua, hijrahnya orang-orang dari kekafiran ke dalam Islam. Ketiga, hijrahnya orang dari tempat yang susah ke tempat yang lebih baik.

“Jadi mungkin yang saya lakukan ini hijrah untuk mencari suatu kesempatan lebih baik. Hijrahnya seorang anak muda untuk menuntut ilmu. Ya pada awalnya kan begitu. Jadi Alhamdulillah Allah mudahkan urusan kami, di Indonesia pun Allah mudahkan. Dan seiring dengan kondisi menuntut ilmu itu, terjadi perubahan keadaan, kondisi dan cita-cita pun berubah”.

Reza mengakui, pada awal merantau ke New Zealand, tidak terpikir olehnya untuk menetap.  Jika kuliah selesai, Reza justru berniat untuk pulang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, melihat kesempatan, peluang dan berbagai macam keadaan, setelah dipikir dan ditimbang masak-masak akhirnya barulah keputusan diambil untuk tetap lanjut di perantauan negeri Selatan .

2016-11-20 12.40.23.jpg

Menurut Reza dan Silvi, bumi Allah ini begitu luas, tidak dibatasi dengan bingkai teritorial. “Jadi kalau ada suatu kaum merasa susah, merasa tertindas, tidak bisa memberdayakan diri sendiri dalam banyak constrain maka dia harus berhijrah”.  Tukas mereka kompak.

Reza berpendapat hijrah ini perlu bekal. “Dan sebaik-baiknya bekal kata Allah adalah taqwa”, tegasnya. Reza menambahkan “Hijrah ini dengan harapan dapat kesempatan lebih baik kan? Nah lebih baik ini jangan sampai hanya secara duniawi saja, tapi hancur lebur secara aqidah. Dan ini banyak kita jumpai, demi Allah banyak kita jumpai”, ungkap Reza.

“Hijrah.. tapi anak-anak yang mereka lahirkan  tidak bisa baca Al Qur’an. Bahkan kadang-kadang orang tuanya sendiri tidak bisa baca Al Qur’an atau lupa. Nah kalau begini bukan hijrah, ini kemunduran”. Imbuhnya.

Reza dan Silvi senantiasa  berdoa kepada Allah semoga  keluarga mereka tidak menjadi bagian dari orang-orang yang mundur itu. Reza mengaku selalu mengingat baik-baik pesan beberapa gurunya, untuk bertanggung jawab terhadap diri dan keluarga. Jangan sampai di negeri yang mereka pilih untuk berhijrah justru menjauh dalam roh Islam.

“Jangan sampai anak-anak yang kami buatkan pilihan tersebut,  tidak terbentuk, tidak terjaga,  dan tidak bertambah imannya”.

Untuk itu Reza dan Silvi mengajarkan kepada anak-anak mereka bertauhid sampai mati. “Karena kalau belum sampai mati, belum kelar”. Karena itu Reza dan Silvi  senantiasa melibatkan seluruh anak-anaknya di berbagai kegiatan komunitas Islam yang dibangunnya bersama saudara Muslimin-Muslimatnya yang terdiri dari berbagai Bangsa itu di kota Invercargill.

“Kami semua merasa perlu melibatkan diri ke dalam runningnya the affairs of the Moslem, masjid, Islamic Center, Majelis-majelis ilmu, madrasah dan semuanya itu memang kita harus ceburkan diri kita sampai basah gitu lho”

Reza dan Silvi mengikhtiarkan seperti itu, dengan harapan akan  selalu ada tempat untuk mencari ilmu. Teman-teman biasa akan menjelma menjadi saudara, karena kaum mukminin dan mukminat sesama perantau sesungguhnya saudara yang paling dekat.

“Karena kalau kita menghindari atau memisahkan diri daripada kaum muslimin, yang terjadi malah kebalikan, mundur aqidah kita”. Imbuh Silvi pula.

Reza dan Silvi  bukan hanya mencoba meresapi baik-baik QS At-Taubah 9;20 yang artinya ; Hai orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”.  Namun mereka telah mencoba terus menerus berlatih mengamalkan 3 prinsip hidup dalam ajaran Islam tersebut. Yakni Iman, hijrah dan jihad.

Meski Silvia dan Reza lebih banyak menjalani kehidupan di rantau ketimbang di negeri sendiri, namun sepasang suami istri yang sangat kompak ini tidak pernah merasa kehilangan “Rasa” sebagai orang Indonesia.

Bagi Silvia, 34 tahun menjalani kehidupan di rantau dari 39 jumlah usianya, dan 25 tahun bagi Reza sepanjang usia hingga 41 tahun saat ini, tidak mencerabut rasa kebangsaannya.

Reza dan Silvi tak ada bedanya dengan masyarakat di tanah air sendiri. Walau hidup jauh di rantau, setiap hari mereka tak melewatkan berita terhangat dari tanah air lewat berbagai grup WA dan sosial media lainnya. Tak ada peristiwa di tanah air yang ia tak tahu, dan berusaha senantiasa terlibat dalam berbagai ikhtiar perbaikannya.

Reza juga senang hati mengulurkan tangan menjadi ‘konjen’ tak resmi di propinsi Southland NZ. Regional Southland Murihiku itu teritorialnya mencakup Invercargill City, Gore District, dan  Southland district. Setiap WNI  yang bermukim di ketiga tersebut, yang paspornya hampir kadaluarsa, tak perlu lagi harus jauh-jauh  mengurus perpanjangan paspornya ke KBRI di Wellington. Cukup mengantarkannya ke rumah Reza dan Silvi maka paspor barupun jadi lewat tanda-tangan di hadapan Reza.

Selain menjadi tempat tujuan orang-orang Indonesia mulai rakyat biasa hingga para pejabatnya untuk belajar peternakan hingga curhat pribadi, Reza juga mengulurkan tangan untuk berbagai kegiatan pendidikan dan sosial di tanah air. Dan di pundak Reza pulalah almanah sebagai komandan Diaspora Indonesia untuk New Zealand diembannya.

DSC01294_crop.jpg

Keras memegang prinsip agama tidak membuat Reza dan Silvi menutup diri terhadap pergaulan. Para petani  tetangga mengenalnya sebagai pasangan yang suka menolong. Bahkan mereka yang berbeda keyakinan kerap meminta Reza berdoa kepada Tuhan untuk nenurunkan hujan.

Reza dan Silvi juga bergaul dan berniaga tanpa membeda-bedakan orang.  Keteguhan agama baginya untuk diamalkan dan diteladankan. Tidak untuk menghakimi orang lain atau membuat orang lain merasa bersalah.

Menurut Reza dan Silvi, ekspresi dan bukti cinta tanah air, juga tidak harus dilakukan di tanah air. “Di manapun berada, kita bisa berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia”, tegas Reza.

Hidup dari rantau ke rantau, dari satu fase kehidupan ke fase kehidupan yang lain, telah membentuk Reza dan Silvia menjadi pasangan yang tangguh, yang terbiasa bekerja keras, berjuang bersusah payah dulu sebelum bermimpi memetik hasil.

Dan konon menurut pegawai dan orang-orang dekat mereka, karakter perantau tangguh inilah yang menjadi kunci sukses mereka dalam berbisnis, berumah tangga, bermasyarakat, dan berdakwah.

 

 

Posted by: tatty elmir | April 3, 2017

Menghimpun Berkah Dari Hijrah ke Hijrah 1.

20161116_061959

 

Siang itu pesawat Air New Zealand yang membawa saya dan Retno dari Christchurch ke Invercargill mendarat mulus di bandara Otatara. Invercargill adalah kota paling selatan di South Island New Zealand yang dalam Bahasa Maori disebut Waihopai.

Meski melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan dari tanah air karena memakan waktu  sekitar 36 jam di perjalanan akibat transit 12 jam di Sydney dan delay selama 6 jam di kota Christchurch, tak membuat semangat kami melemah.

Terbayang dulu bagaimana semangatnya orang-orang Skotlandia di era 1850an membangun Invercargill, sebagai lahan gembalaan domba-domba penghasil wool mereka. Padahal mereka bermukim di Dunedin, yang berjarak 250an kilo meter dari kota yang dipenuhi rumah-rumah hunian warga yang sederhana, namun di sana-sini diselingi bangunan bersejarah ala Victoria hingga Art Deco.

Tak berapa lama berselang setelah urusan bagasi kelar, seorang perempuan berjilbab panjang datang menjemput dan menghamburkan senyum ramah dan  pelukan akrabnya kepada kami. Jilbab lebarnya itu ternyata tak menyembunyikan keelokan paras Melayu dan perawakan jangkungnya yang melebihi ukuran rata-rata perempuan Indonesia.

20161116_075649

 

Namanya Silvia Wardani Pamudji, putri salah seorang diplomat senior Indonesia Almarhum Tutur Pamudji yang pernah bertugas di berbagai negara, termasuk New Zealand.

Dari bandara Otatara Silvi membawa kami dengan mobil  4WD double cabinnya menyisir tepi kota yang sepi, hingga akhirnya melaju di jalanan lurus mulus daerah Mokotua menuju lahan peternakan yang sangat luas di daerah Anarua.

Padang rumput menghijau terhampar luas hingga terlihat seperti berbatas dengan ujung langit yang terlihat sangat dekat. Beberapa petak di antaranya terisi dengan gulungan-gulungan baleage, stok rumput untuk musim dingin yang mirip potongan-potongan marshmallow. Menjadikan paddock laksana lukisan berbingkai yang sangat artistik.

20161117_043514

 

Saat memasuki Marshall Road, lebih dari 30an kilometer dari kota Invercargill, Silvi mengatakan bahwa kami sudah dekat. Kami menebak-nebak sendiri, bahwa kiri kanan lahan luas yang sebagian dipenuhi sapi-sapi perah yang sangat montok,  yang  dadanya hampir tumpah ke tanah itu adalah miliknya.

20161128_101136

Dan ternyata dugaan kami tidak meleset. Tiba-tiba terbayang bagaimana bisa perempuan kelahiran Jakarta 27 April 1977 itu bersama suami tercintanya bisa menjadi tuan tanah dan petani peternak yang sukses di negeri orang.

Peristiwa apa, dan kekuatan ajaib apa yang membawanya kemari? Bagaimana kisah perjuangan anak rantau itu dan kegigihan mereka mengungguli persaingan ?  Berpuluh, beratus dan beribu pertanyaan menyeruak untuk dikuak.

 

 

20161202_070108.jpg

(Bersambung..)

 

Posted by: tatty elmir | April 16, 2016

Terusir Di Kampung Leluhur Sendiri.

IMG_20160416_083849

 

 

Rasanya begitu banyak yang ingin saya tulis malam ini perihal saudara-saudara kita di kampung Akuarium Pasar Ikan yang digusur dengan begitu kejam di tanah Nenek Moyangnya sendiri.

Siang itu saya melihat begitu banyak warga duduk bergerombol kehilangan akal tak tahu harus bagaimana. Dua orang anak laki-laki dan Ayahnya saya saksikan mengais-ngais sesuatu yang berguna di reruntuhan rumah mereka yang mirip bekas bencana gempa. Ya…mereka mencari adakah sesuatu yang kiranya masih berguna. Bukan berharga. Karena mereka tidak punya yang berharga.

Dari siang hingga tengah malam lalu saya dan relawan Forum Indonesia Muda dan berbagai lembaga lain yang membersamai mereka. Menemani mereka makan dengan lahap menu sederhana yang kami bawa. Mendengar cerita mereka. Meredakan kemarahan warga dan caci maki terhadap penguasa yang dilabel sebagai manusia yang tidak punya hati. Bahkan ada seorang tokoh masyarakatnya yang bilang, “Mba, selama hidup, dari kecil hingga ompong begini, baru ketemu gubernur yang demikian kejam. Kami persis warga Gaza yang terusir di tanah airnya sendiri”, ujarnya.

Dan malam ini saya baru saja dihubungi warga Akuarium yang tergusur, perihal keadaan mereka dan berbagai ancaman yang kini melanda.

Rasanya tak bisa lagi banyak berkata, karena begitu banyak yang menyesakkan dada. Malam ini, ketika kita tengah tidur nyenyak di kasur empuk di kamar sejuk, di Luar Batang sana, ada banyak anak-anak yang tidur di perahu bersama orang tuanya, juga bantalan dermaga dan di puing-puing reruntuhan rumah mereka.

 

Saya tak tahu sampai kapan derita mereka itu di akhiri.

Saya juga tak tahu, apakah upaya relawan memulihkan trauma pada anak-anak itu bisa berhasil. Yang saya tahu mereka begitu fasih memaki tokoh dan etnis yang telah membuat mereka menderita.

Semoga saja kehadiran para relawan kemanusiaan di sana dapat sejenak menghapus luka, atau sekedar menyeka air mata. Karena hati mereka telah remuk dalam luka dan kesakitan, dalam sebuah tragedi.

Warga negara asli dari sebuah Negara merdeka yang terusir dengan sangat kejam dari tanah tumpah darah dan leluhurnya sendiri.

 

 

 

 

 

 

Older Posts »

Categories