Posted by: tatty elmir | June 12, 2015

Angeline dan Sejuta Tanda Tanya.

Awalnya saya tidak tahu soal Angeline sampai suatu ketika saya ditanya seorang aktivis pendidikan. Saya memang tengah berusaha diet TV, sudah bertahun-tahun lalu. Tapi semenjak itu jadi rajin menyimak progress report penyidikan. Bayangan jasad Angeline yang  tengah meringkuk memeluk bonekanya  menari-nari di pelupuk mata. Lalu wajah cantik mungil Angeline semasa hidup, juga hadir silih berganti dengan  wajah-wajah cucu saya dan anak-anak Indonesia lainnya. Susah sekali untuk menahan air mata yang mengalir di tengah rasa sedih, kecewa dan murka.

Begitu banyak tanda tanya yang menghampiri, seperti;  Apa motif adopsi keluarga TM terhadap Angeline ? mengingat Keluarga TM sebelumnya sudah memiliki 2 anak perempuan? Benarkah almarhum suami TM meninggalkan wasiat untuk menyerahkan 60% warisannya?Siapa sebenarnya TM ? Siapa sebenarnya suaminya ? Bagaimana relasi mereka dengan H? Tidakkah ada yang melihat keanehan sebuah keluarga yang terbiasa hidup dengan standar tinggi mau memelihara ayam untuk dijual dan tinggal berkubang dalam bau busuk? Tidakkah ada yang melihat kesulitan ekonomi tengah melilit keluarga TM? Tidakkah kesulitan ekonomi itu dapat menjadi motif utama seseorang untuk membunuh? Mari kita lihat bagaimana cara mereka mengumpulkan uang dengan mengusung rasa kemanusiaan di Amerika lewat situs gofundme, ketika mereka melaporkan hilangnya Angeline.

Selain  itu begitu banyak misteri yang juga melahirkan tanda tanya. Semisal;  Bagaimana situasi psikologis dan kondisi Ibu H saat melahirkan Angeline, sehingga tega menyerahkan darah dagingnya sendiri kepada orang yang sama sekali tidak dikenal? Dengan embel-embel tidak boleh melihat lagi anak kandungnya tersebut? Lalu jika semua berita yang kita dengar benar adanya, kemana penyelenggara Negara yang katanya mengasihi orang terlantar dan fakir miskin? Apakah tidak ada tetangga dan para guru yang sebetulnya sudah “Curiga” ada yang tak wajar dengan perilaku si anak kecil yang pemurung, penyendiri, kumal, kelaparan, tak punya kawan, selalu berjalan kaki seorang diri ke sekolah yang berjarak konon 2-3 km yang mencoba mencari tahu dan bertindak dalam rangka memberikan perlindungan? Sudahkan Undang-Undang Perlindungan anak no 23 tahun 2002 yang telah direvisi menjadi UUPA no 35 tahun 2014 itu benar-benar melindungi anak? Akankah kasus pembunuhan keji terhadap bocah tak berdosa yang menjadi sorotan dunia ini akan dibiarkan menjadi misteri abadi?

Meski demikian saya sampai saat ini masih percaya aparat kepolisian tengah bekerja keras mencari pelaku yang sebenarnya. Dan semua strategi untuk itu tidak harus diketahui publik. Jadi mari kita dukung kepolisian bekerja keras dan cerdas. Karena masyarakat dunia dan setiap rasa keadilan menanti itu.

Saya percaya masih banyak polisi cerdas yang jujur, yang tidak bisa dibayar dengan apapun.

Saya sebagai orang Indonesia sangat..sangat tersinggung ketika keluarga angkat Angeline di Amerika mengumpulkan donasi masyarakat di sana lewat badan crowdfunding gofundme.com dengan melecehkan kinerja kepolisian RI. Liat saja ketika mereka bilang uang itu selain untuk membiayai kepergian Christina Telly Scarborough ke Bali, juga  untuk membayar petugas keamanan di rumah TM ibu angkat Angeline, karena “The police do not offer this service”. Sebagian uang itu katanya juga untuk  uang rokok polisi agar bekerja dengan benar disertai keterangan ” We all know this is the only way to make things work”  Uh otak sogok bukan nih ? Silakan tengok di sini ;  http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache%3AwnuUhc1-rvIJ%3Awww.gofundme.com%2Ffindangeline+&cd=1&hl=en&ct=clnk

Ah memang…berapa puluh…ratus..bahkan ribuan pertanyaan lagi tidak akan mengembalikan Angeline kepada kita. Tapi sadarkah kita semua, bahwa di luar gerbang rumah kita, begitu banyak Angeline-Angeline yang lain, yang telah menjadi korban KEABAIAN kita….keabaian negara. Ya..kita semua telah abai. Karena kita rata-rata selalu berprinsip  “Asal bukan anak dan keluarga saya biar saja”. Nanti juga masyarakat akan lupa sendiri. 😥

Di lain pihak, saatnya kita semua juga merenungkan kembali. Betapa bahayanya orang kawin dan punya anak, tapi tidak SIAP menjadi istri, suami…apalagi orang tua.

Saatnya pemangku amanah penyelenggara negara segera bertindak dengan perangkat hukum yang benar-benar berpihak pada perlindungan “Masa Depan” negeri ini. Para anak muda, calon orang tua harus MENYIAPKAN diri untuk menikah. Bukan sekedar memikirkan pesta perkawinan yang wah. Semua orang tua harus terus…dan terus belajar serta mengupgrade ilmu parentingnya, termasuk nenek-nenek seperti saya.

Para pengelola pendidikan mestinya juga segera berbenah. Mulai dari tingkat TK dan SD mestinya sudah ada pendampingan guru BK. Yang tidak dibebani tanggung jawab terhadap kelas. Deteksi dini pada anak harus senantiasa dilakukan setiap pagi di gerbang-gerbang sekolah dengan cara guru selalu sudah hadir pagi-pagi sekali, menyambut anak murid di pintu gerbang. Jangan ada lagi guru yang datang ke sekolah setelah semua muridnya masuk kelas.(Saya selalu mengatakan ini di setiap pelatihan-pelatihan guru di berbagai tempat di tanah air)

Selain itu ada ucapan pakar yang menarik,seperti yang diungkapkan Dr Dewi Utama Faizah yang ahli pedagogi itu, bahwa  “Semestinya seorang guru harus memiliki “anecdotal record” saat menjumpai hal yang tak biasa —“aneh” pada diri anak didiknya. Anecdotal record itu bersifat rahasia (confidencial) untuk menyelamatkan dan menghantarkan anak sesuai hak2nya sebagai anak”.

Ah…banyak sekali sesak di dada yang ingin digelontorkan. Terutama setelah polisi membebaskan keluarga angkat Angeline dini hari tadi. dan mengumumkan bahwa tersangka pembunuhan sadis atas bocah Angeline yang baru berusia 8 tahun itu hanya Agustinus Tae seorang.

Percayakah anda ?

*Silakan simak juga http://iwanyuliyanto.co/2015/06/12/berbagai-kejanggalan-dalam-kasus-pembunuhan-angeline/

Advertisements

Responses

  1. Reblogged this on algoritma udafajar and commented:
    Menarik jikalau kita menarik benang merah masalah ini.

    • Fajar : Sekaligus mengerikan ya ? 😥

  2. Sepertinya kasus ini bakal lama penyelesaiannya, sebab pihak ibu angkat telah menyewa pengacara kondang Hotma Sitompul, setelah pengacara sebelumnya mengundurkan diri.

    Langkah awal, pengacara tsb menuntut balik Pak Arist (Komnas PA), Siti Sapurah (P2TP2A), dan pengacara ortu kandung Engeline.

    Semoga kebenaran menemukan jalannya,
    dan semoga keadilan berpihak kepada kebenaran.

    • Mestinya orang-orang tercerahkan makin solid menyokong kebenaran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: