Posted by: tatty elmir | April 16, 2016

Terusir Di Kampung Leluhur Sendiri.

IMG_20160416_083849

 

 

Rasanya begitu banyak yang ingin saya tulis malam ini perihal saudara-saudara kita di kampung Akuarium Pasar Ikan yang digusur dengan begitu kejam di tanah Nenek Moyangnya sendiri.

Siang itu saya melihat begitu banyak warga duduk bergerombol kehilangan akal tak tahu harus bagaimana. Dua orang anak laki-laki dan Ayahnya saya saksikan mengais-ngais sesuatu yang berguna di reruntuhan rumah mereka yang mirip bekas bencana gempa. Ya…mereka mencari adakah sesuatu yang kiranya masih berguna. Bukan berharga. Karena mereka tidak punya yang berharga.

Dari siang hingga tengah malam lalu saya dan relawan Forum Indonesia Muda dan berbagai lembaga lain yang membersamai mereka. Menemani mereka makan dengan lahap menu sederhana yang kami bawa. Mendengar cerita mereka. Meredakan kemarahan warga dan caci maki terhadap penguasa yang dilabel sebagai manusia yang tidak punya hati. Bahkan ada seorang tokoh masyarakatnya yang bilang, “Mba, selama hidup, dari kecil hingga ompong begini, baru ketemu gubernur yang demikian kejam. Kami persis warga Gaza yang terusir di tanah airnya sendiri”, ujarnya.

Dan malam ini saya baru saja dihubungi warga Akuarium yang tergusur, perihal keadaan mereka dan berbagai ancaman yang kini melanda.

Rasanya tak bisa lagi banyak berkata, karena begitu banyak yang menyesakkan dada. Malam ini, ketika kita tengah tidur nyenyak di kasur empuk di kamar sejuk, di Luar Batang sana, ada banyak anak-anak yang tidur di perahu bersama orang tuanya, juga bantalan dermaga dan di puing-puing reruntuhan rumah mereka.

 

Saya tak tahu sampai kapan derita mereka itu di akhiri.

Saya juga tak tahu, apakah upaya relawan memulihkan trauma pada anak-anak itu bisa berhasil. Yang saya tahu mereka begitu fasih memaki tokoh dan etnis yang telah membuat mereka menderita.

Semoga saja kehadiran para relawan kemanusiaan di sana dapat sejenak menghapus luka, atau sekedar menyeka air mata. Karena hati mereka telah remuk dalam luka dan kesakitan, dalam sebuah tragedi.

Warga negara asli dari sebuah Negara merdeka yang terusir dengan sangat kejam dari tanah tumpah darah dan leluhurnya sendiri.

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: