Posted by: tatty elmir | April 3, 2017

Menghimpun Berkah Dari Hijrah Ke Hijrah 2.

20161123_071332

Tak henti berhijrah. Ya… Itulah filosofi hidup yang melekat pada diri Ibu muda dengan 5 orang anak tersebut. Mulai dari perilaku, kebiasaan, hingga benar-benar hijrah fisik. Sejak usia setahun, Silvi sudah diboyong ke dua orangtuanya merantau ke Holland.

Setelah empat tahun di negeri kincir angin tersebut Silvi kembali ke Jakarta, dan  lalu meneruskan pendidikan ke rantau yang lain, yakni Nigeria di tahun 1985. Disana Silvia bersekolah di ADRAO International School. Lalu pada tahun 1988 hingga 1989 Silvi bersaudara sempat ‘ngekos’  waktu belajar di Sekolah Indonesia SIC di Kairo, Mesir.

Setelah sempat balik ke Indonesia selama 4 tahun, Silvi lalu pindah lagi mengikuti tugas orang tua di KBRI New Zealand di kota Wellington.Dari kebiaasaan hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain itulah akhirnya Silvi benar-benar belajar banyak tentang nilai-nilai   kehidupan. Utamanya tentang kemandirian, keuletan, ketangguhan, toleransi, konsistensi untuk terus belajar, dan tentu saja harus adaptif.

Terutama saat tinggal di Kairo ketika masih berusia 11 tahun jauh dari orang tua. Hanya mereka beradik kakak di sana. Ceritanya saat itu orang tua Silvia dipindah tugaskan dari Nigeria di Afrika untuk kembali ke Jakarta. Nah untuk masa transisi, kedua orang tuanya memutuskan untuk ‘menitipkan’ anak-anaknya kepada sahabat keluarga yang dipercaya untuk bersekolah di sekolah Indonesia di Kairo.

Kemandirian itu pula yang membuat Silvi hingga kini tak gamang jika harus melakukan pekerjaan apapun yang selama ini kerap diidentikkan dengan pekerjaan laki-laki. Seperti berburu, mengoperasikan mesin-mesin pertanian,  dan berbagai pekerjaan peternakan yang sangat ‘macho’.

20161116_121914.jpg

Silvi juga tak canggung ketika harus ke kota membawa kendaraan operasional farmnya yang lagi rusak. Atau saat terpaksa bepergian seorang diri ke luar kota dengan menyetir sendiri mobil besarnya, hingga mengurus tetek bengek rumah tangga dengan 5 anak tanpa pembantu yang mengasisteni.

“Kalau buat saya hijrah itu membangun karakter… it’s a beautiful thing, masa-masa yang membentuk kita menjadi seseorang.  Tanpa berhijrah, kita akan terus di bubble kita, mungkin gak bakal empati terhadap orang lain, mungkin gak bakal empati terhadap binatang. Hijrah membuat saya lebih dewasa dan lebih mendekatkan diri  pada Allah Subhanahu Wataala…..InshaAllah”, ucap Silvi.

Kisah serupa, suaminya DR Reza Abdul Jabbar juga merupakan perantau ulet yang digodok keadaan sejak muda. Belum lagi berusia 15 tahun, dia telah memilih langkahnya sendiri untuk merantau ke Singapura. Waktu itu Reza baru tamat SMP Negeri 3 Pontianak dan ingin mengasah kemampuan Bahasa Inggrisnya.

“Setelah tamat SMP,  Ayah saya menanyakan ingin sekolah apa. Lalu terjadi diskusi yang mengeksplor keinginan saya untuk masuk sekolah pertanian atau peternakan. Nah jadi diputuskan akan sekolah kemana ni, klo memang pengennya sekolah di peternakan. Jadi kami berpikir kalau gak Australia ya New Zealand atau Canada”, jelas Reza.

Setelah setahun di Singapura belajar berbagai macam dan merasa cukup bekal bahasa Inggrisnya, Reza memutuskan untuk kembali pulang ke tanah air,  dan masuk SMA Negeri 3 Jakarta.

“Di SMA Jakarta, saya mulai kelas 1 lagi. Tapi gak papa. Saya anggap 1 tahun di Singapura mencari pengalaman merantau. Biasanya orang-orang kan cari pengalaman begitu setamat SMA kan? Kalau untuk saya terjadinya itu setelah SMP. Tapi semua tetap mengacu kepada poin ingin kuliah di New Zealand”, Reza berkisah.

Biasanya anak-anak yang menamatkan SMA  di Indonesia, jika meneruskan ke NZ  harus masuk dulu sekolah transisi yang disebut Foundation year selama 1 tahun. Karena  SMA Indonesia tidak diakui jika ingin ke perguruan tinggi di  New Zealand. Atas dasar itulah Reza menutuskan untuk sekalian pindah sekolah saat masih duduk di bangku SMA agar tidak membuang-buang waktu. Belum lagi persoalan tahun ajaran baru di Indonesia yang baru mulai Juli, sedang di New Zealand Januari.

Semua menjadi perhitungan yang matang dalam diskusi antara Reza dengan Ayahnya. Mereka tidak mau ada waktu menunggu yang sia-sia. Karena itu atas nasehat Ayahnya yang terbiasa berhitung dengan cakap itu, Reza memutuskan untuk berangkat ke New Zealand saat masih semester pertama di kelas 2 SMA.

Saat itu Ayahanda Reza, Abdul Jabbar menantang anaknya untuk selalu juara, dan harus bisa langsung duduk ke kelas 3 di Lynfield College Auckland. Dan tantangan itu berhasil. Perjuangan Reza sukses untuk langsung duduk di kelas tiga, dengan bonus ranking pertama pula. Aduhai senangnya hati Haji Abdul Jabbar Ayahandanya Reza. Dan kepercayaan kepada si sulung buah hatinya itu bertambahlah.

Untitled-7

Sejak awal merantau di Auckland, Reza benar-benar sebatang kara. Tak ada sanak saudara yang ditumpangi. Hanya beruntung dapat Ibu kos yang baik hati.  Sama waktu di usia 14 tahun merantau di Singapura dan melanjutkan ke SMA  di  Jakarta.

Kedua orang tua tetap berdomisili di Pontianak. Hanya datang sekali-sekali menengok putra sulungnya itu. Kepercayaan besar yang diberikan kedua orang tuanya membuat Reza berlatih untuk bertanggung jawab. Apalagi setelah itu Reza dibelikan  rumah di daerah Kepala Gading.

“MasyaAllah anak itu…tetangga pada memuji, anak semuda itu sudah bisa hidup mandiri dan tau diuntung. Tidak pernah ada yang melaporkan Reza keluyuran padahal di rumahnya disediakan mobil. Dia lebih suka di rumah belajar bersama kawan-kawannya yang cerdas. Dia memang selalu memilih kawan yang baik dan pintar. Alhamdulillah waktu itu Reza ketularan dan berhasil menjadi juara umum”, kenang Ibunda Reza, Talaah Jabbar.

Untitled-6

Meski terlahir dari keluarga pengusaha yang cukup berada, namun Reza sejak kecil dilatih kedua orang tuanya untuk mandiri, bekerja keras dan kukuh dalam memperjuangkan keinginan dan memegang prinsip-prinsip  Islam.

Ayahnya yang kontraktor berbagai infrastruktur di Kalimantan Barat itu, membiasakan anaknya  sejak dini untuk berdialog, dengan memancing komentar Reza terhadap sesuatu masalah.

Reza kecil juga kerap dilibatkan Ayahandanya dalam berbagai obrolan orang-orang dewasa dengan tetamunya untuk membahas berbagai macam topik, terutama bisnis. Karena itu sejak kecil pula Reza tidak pernah berkeinginan menjadi pegawai, apalagi pegawai negeri.

Hijrah sendiri dalam pandangan Reza ada tiga persoalan. Pertama soal hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Kedua, hijrahnya orang-orang dari kekafiran ke dalam Islam. Ketiga, hijrahnya orang dari tempat yang susah ke tempat yang lebih baik.

“Jadi mungkin yang saya lakukan ini hijrah untuk mencari suatu kesempatan lebih baik. Hijrahnya seorang anak muda untuk menuntut ilmu. Ya pada awalnya kan begitu. Jadi Alhamdulillah Allah mudahkan urusan kami, di Indonesia pun Allah mudahkan. Dan seiring dengan kondisi menuntut ilmu itu, terjadi perubahan keadaan, kondisi dan cita-cita pun berubah”.

Reza mengakui, pada awal merantau ke New Zealand, tidak terpikir olehnya untuk menetap.  Jika kuliah selesai, Reza justru berniat untuk pulang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, melihat kesempatan, peluang dan berbagai macam keadaan, setelah dipikir dan ditimbang masak-masak akhirnya barulah keputusan diambil untuk tetap lanjut di perantauan negeri Selatan .

2016-11-20 12.40.23.jpg

Menurut Reza dan Silvi, bumi Allah ini begitu luas, tidak dibatasi dengan bingkai teritorial. “Jadi kalau ada suatu kaum merasa susah, merasa tertindas, tidak bisa memberdayakan diri sendiri dalam banyak constrain maka dia harus berhijrah”.  Tukas mereka kompak.

Reza berpendapat hijrah ini perlu bekal. “Dan sebaik-baiknya bekal kata Allah adalah taqwa”, tegasnya. Reza menambahkan “Hijrah ini dengan harapan dapat kesempatan lebih baik kan? Nah lebih baik ini jangan sampai hanya secara duniawi saja, tapi hancur lebur secara aqidah. Dan ini banyak kita jumpai, demi Allah banyak kita jumpai”, ungkap Reza.

“Hijrah.. tapi anak-anak yang mereka lahirkan  tidak bisa baca Al Qur’an. Bahkan kadang-kadang orang tuanya sendiri tidak bisa baca Al Qur’an atau lupa. Nah kalau begini bukan hijrah, ini kemunduran”. Imbuhnya.

Reza dan Silvi senantiasa  berdoa kepada Allah semoga  keluarga mereka tidak menjadi bagian dari orang-orang yang mundur itu. Reza mengaku selalu mengingat baik-baik pesan beberapa gurunya, untuk bertanggung jawab terhadap diri dan keluarga. Jangan sampai di negeri yang mereka pilih untuk berhijrah justru menjauh dalam roh Islam.

“Jangan sampai anak-anak yang kami buatkan pilihan tersebut,  tidak terbentuk, tidak terjaga,  dan tidak bertambah imannya”.

Untuk itu Reza dan Silvi mengajarkan kepada anak-anak mereka bertauhid sampai mati. “Karena kalau belum sampai mati, belum kelar”. Karena itu Reza dan Silvi  senantiasa melibatkan seluruh anak-anaknya di berbagai kegiatan komunitas Islam yang dibangunnya bersama saudara Muslimin-Muslimatnya yang terdiri dari berbagai Bangsa itu di kota Invercargill.

“Kami semua merasa perlu melibatkan diri ke dalam runningnya the affairs of the Moslem, masjid, Islamic Center, Majelis-majelis ilmu, madrasah dan semuanya itu memang kita harus ceburkan diri kita sampai basah gitu lho”

Reza dan Silvi mengikhtiarkan seperti itu, dengan harapan akan  selalu ada tempat untuk mencari ilmu. Teman-teman biasa akan menjelma menjadi saudara, karena kaum mukminin dan mukminat sesama perantau sesungguhnya saudara yang paling dekat.

“Karena kalau kita menghindari atau memisahkan diri daripada kaum muslimin, yang terjadi malah kebalikan, mundur aqidah kita”. Imbuh Silvi pula.

Reza dan Silvi  bukan hanya mencoba meresapi baik-baik QS At-Taubah 9;20 yang artinya ; Hai orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”.  Namun mereka telah mencoba terus menerus berlatih mengamalkan 3 prinsip hidup dalam ajaran Islam tersebut. Yakni Iman, hijrah dan jihad.

Meski Silvia dan Reza lebih banyak menjalani kehidupan di rantau ketimbang di negeri sendiri, namun sepasang suami istri yang sangat kompak ini tidak pernah merasa kehilangan “Rasa” sebagai orang Indonesia.

Bagi Silvia, 34 tahun menjalani kehidupan di rantau dari 39 jumlah usianya, dan 25 tahun bagi Reza sepanjang usia hingga 41 tahun saat ini, tidak mencerabut rasa kebangsaannya.

Reza dan Silvi tak ada bedanya dengan masyarakat di tanah air sendiri. Walau hidup jauh di rantau, setiap hari mereka tak melewatkan berita terhangat dari tanah air lewat berbagai grup WA dan sosial media lainnya. Tak ada peristiwa di tanah air yang ia tak tahu, dan berusaha senantiasa terlibat dalam berbagai ikhtiar perbaikannya.

Reza juga senang hati mengulurkan tangan menjadi ‘konjen’ tak resmi di propinsi Southland NZ. Regional Southland Murihiku itu teritorialnya mencakup Invercargill City, Gore District, dan  Southland district. Setiap WNI  yang bermukim di ketiga tersebut, yang paspornya hampir kadaluarsa, tak perlu lagi harus jauh-jauh  mengurus perpanjangan paspornya ke KBRI di Wellington. Cukup mengantarkannya ke rumah Reza dan Silvi maka paspor barupun jadi lewat tanda-tangan di hadapan Reza.

Selain menjadi tempat tujuan orang-orang Indonesia mulai rakyat biasa hingga para pejabatnya untuk belajar peternakan hingga curhat pribadi, Reza juga mengulurkan tangan untuk berbagai kegiatan pendidikan dan sosial di tanah air. Dan di pundak Reza pulalah almanah sebagai komandan Diaspora Indonesia untuk New Zealand diembannya.

DSC01294_crop.jpg

Keras memegang prinsip agama tidak membuat Reza dan Silvi menutup diri terhadap pergaulan. Para petani  tetangga mengenalnya sebagai pasangan yang suka menolong. Bahkan mereka yang berbeda keyakinan kerap meminta Reza berdoa kepada Tuhan untuk nenurunkan hujan.

Reza dan Silvi juga bergaul dan berniaga tanpa membeda-bedakan orang.  Keteguhan agama baginya untuk diamalkan dan diteladankan. Tidak untuk menghakimi orang lain atau membuat orang lain merasa bersalah.

Menurut Reza dan Silvi, ekspresi dan bukti cinta tanah air, juga tidak harus dilakukan di tanah air. “Di manapun berada, kita bisa berkontribusi untuk Bangsa dan Negara Indonesia”, tegas Reza.

Hidup dari rantau ke rantau, dari satu fase kehidupan ke fase kehidupan yang lain, telah membentuk Reza dan Silvia menjadi pasangan yang tangguh, yang terbiasa bekerja keras, berjuang bersusah payah dulu sebelum bermimpi memetik hasil.

Dan konon menurut pegawai dan orang-orang dekat mereka, karakter perantau tangguh inilah yang menjadi kunci sukses mereka dalam berbisnis, berumah tangga, bermasyarakat, dan berdakwah.

 

 

Advertisements

Responses

  1. apabila boleh saya menanyakan email bapak reza?
    mohon untuk disampaikan via email saya, terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: